
Kim berjalan perlahan ke arah seorang pria terlihat di ruangan berdebu itu terdapat banyak mayat "ampun.. Ampuniii aku kim" kata pria yang terlihat menyedihkan itu "kim aku menyesal sungguh.. Ampuni aku" kata pria itu "dorrrr" kim menembak pria itu tanpa ekspresi sedikitpun "bereskan" kata kim sambil berbalik pergi masuk ke dalam mobil menatap layar ponsel nya "belum mau menjawab telpon ku ya" kata kim.
Eun memasukan laptopnya ke dalam tas "eun.. Aku dari tadi mendengar suara ponsel mu" kata vivian "iya iya aku tau" kata eun dia melihat layar ponsel nya "astaga tuan kim menelpon ku lagi" kata eun "eun kita jadi berangkat sekarang? " tanya carl "jadi jadi bentar" eun membawa tas nya "semoga sukses teman teman" kata petir "iya iya ayo carl" kata eun "eun" eun berhenti melangkah melihat pria di depan nya "ya ampun" kata vivian eun mematung "eun" kata carl "iya" kata eun sambil menunduk "kau mau kemana eun? " tanya pria itu "aku mau pergi mewawancarai seorang pengusaha kak ai" kata eun "kau ingin bertemu bos? " tanya eun "iya" kata nhai "eun kau akan terlambat" kata yuda "iya" eun langsung lanjut pergi bersama carl "dia kembali sedih" kata carl dalam hati "ngapain sih kak nhai datang ke sini" bisik vivian "dia kan salah satu orang yang berkerjasama dengan perusahaan kita" bisik petir "aku kawatir pada eun" kata vivian.
Di dalam mobil eun terlihat diam dan menunduk "eun kau baik baik saja? " tanya carl "iya" eun mengusap air matanya diam diam bayangan masa masa bersama dengan mantan pacar nya kembali muncul "minum lah sedikit air" carl memberikan sebotol air ke eun "jika kau merasa buruk kita bisa berhenti dulu sampai kau merasa baik" kata carl "hum" eun mengangguk ponsel nya kembali berbunyi "aku bak baik saja kita percepat saja" kata eun "baik lah" kata carl.
Malam harinya...
Eun keluar dari mobil "bagaimana penampilan ku? " tanya eun "baik baik saja" kata carl "aku ingin cuci muka sebentar" kata eun sambil melihat kanan kiri "di mana ada kamar mandi ya? " kata eun "pakai ini" carl membuka sebotol air mineral "ayo biar aku yang pegang mata mu terlihat sangat merah" kata carl "hum.. Terimakasih" kata eun sambil menunduk untuk mencuci muka nya.
"Halo selamat datang" seorang pria menyambut eun dan carl "kami" kata carl "wartawan utusan perusahaan berita untuk mewawancarai tu--" kata pria itu "ini" carl menunjukkan foto "iya silahkan beliau ada di ruangan nomor tiga di lantai empat" kata pria itu "carl kita gak salah kan? " bisik eun "tidak kok " kata carl "mewah banget tempat nya" bisik eun "ayo" kata carl mereka berjalan ke arah lift eun kembali menoleh ke arah ponsel nya yang kembali berbunyi "aku matikan saja deh" kata eun "ting! " lift berhenti eun dan carl lanjut berjalan mencari ruangan yang mereka tuju "ini dia ayo siapkan kamera nya" kata eun lalu dia mengetuk pintu "masuk" ada dari dalam eun dan carl langsung masuk "permisi tuan kami dari perusahaan berita utusan tuan Eliezer ingin mewawancarai anda" kata eun pria itu memutar kursinya "hah!! " eun terkejut "ada apa? " tanya carl "lihat amplop yang berisi foto dan alamat itu" kata eun "ini" kata carl "sial... " eun melihat kim berjalan ke arahnya "ku fikir yang datang" kata kim "aku.. Aku" eun menatap carl "lari carl" kata eun namun baru saja ingin lari kim sudah menarik nya "bisa aku bicara dengan mu empat mata? " kata kim sambil melirik ke arah carl "eun" kata carl "lepaskan aku tuan kim! " kata eun "keluar" kim menatap carl "kenapa kau mengusir nya" kata eun "aku mau bicara empat mata pada mu dan dia harus menunggu di luar" kata kim "jangan kasar pada nya tuan" kata carl "kau pergi keluar atau " kata kim "carl aku tidak papa" kata eun carl mengangguk lalu pergi "grettt" kim menarik eun lebih dekat memegang pinggang nya yang ramping "lepaskan aku" kata eun "kenapa mau tidak menjawab telpon ku" kata kim "aku sudah mengirim pesan untuk mu" kata eun kim menatap layar ponsel nya "aku ada tugas wawancara jangan cari atau telpon aku! " kim melempar ponsel nya ke belakang tubuhnya "apapun alasannya.. Mengabaikan ku adalah hal buruk" kata kim. Eun menahan tubuh kim dengan kedua tangan nya "aku baru saja mau menjemput mu tapi kau sudah datang lebih dulu" kata kim "uhh" eun masih menahan tubuh kim "jika aku tau orang yang akan ku wawancarai adalah dirimu aku akan memilih tugas lain" kata eun "jadi bisa kita makan malam" kata kim "aku tidak mau!! Singkirkan tangan mu" kata eun "aku tidak akan melepaskan mu" kata kim lalu dia mengangkat tubuh eun dan meletakkan ke atas sofa "tuan kim.. Jangan macam macam atau aku akan berteriak" kata eun "kau mau berteriak di dalam ruangan yang kedap suara? " tanya kim "eun" kata carl di luar kim menatap mata eun "mata mu terlihat sangat merah" kata kim sambil menyentuh wajah eun "huh!! " eun hendak pergi namun kim tetap menahannya "aku bilang kita akan malam " kata kim "jadi jangan pergi sebelum makan malam" kata kim lalu dia menelpon seseorang "siapkan mobil aku ingin keluar" kata kim "aduh. Eun baik baik saja gak ya" fikir carl "aku tidak ingin pergi dengan mu!! Jangan memaksa ku da--" ponsel eun terjatuh kim langsung memungutnya "berikan pada ku" kata eun "eun kau baik baik saja? " terdengar suara carl kembali "teman mu berisik sekali" kata kim "ponsel ku" kata eun "tidak akan ku berikan" kata kim "kenapa kau brengsek sekali" kata eun "jadi siapa yang akan mewawancarai diri ku" kata kim "teman mu atau kau? " tanya kim sambil mengusap rambut eun "hei" eun menepis tangan kim "kalau begitu aku akan membiarkan dia mewawancarai ku bersama mu " kata kim "benar" kata eun "iya tapi setelah nya kau akan pergi dengan ku" kata kim "apa? " kata eun "kau mau menolak? " kim mendekat kan wajahnya ke eun "atau mau kita melakukan hal lain? " tanya kim "hal lain? " fikir eun "bagaimana" bisik kim "eun" carl masuk eun menatap carl "uhh" carl menatap keduanya dengan canggung "wawancara nya bisa di mulai" kata kim sambil berdiri merapikan dasinya "mata ku ternodai.. Jangan jangan mereka tadi berciuman" fikir carl "ayo" kata carl sambil menatap eun "hum kita pulang" kata eun "pulang? Bagaimana laporan nya nanti? " kata carl "ehem bisa kita mulai? " kata kim eun menatap kim yang tersenyum "carl dia kau.. Astaga kau lupa siapa dia? Dia pernah datang ke kantor" kata eun "siapa? " kata carl kim hanya menatap eun "ahh.. Sudah lah" eun mengeluarkan kertas dari tasnya lalu duduk di depan kim carl menyiapkan kamera "halo tuan kim selamat malam" kata eun "kim? " kata carl dalam hati "astaga baru ingat" kata carl dalam hati.
Vivian berbaring di atas ranjang nya "halo Yuda, hu... Eun tidak bisa di hubungi aku kawatir" kata vivian "biar aku coba" kata Yuda. Sementara itu di tempat lain "terimakasih tuan kim atas waktu nya" kata eun sambil menjabat tangan kim dan tersenyum ke arah kamera "oke cut!! "Kata carl " ayo"kata eun tapi kim tidak melepaskan tangan nya "sudah selesai kan? " kata kim "iya tuan kami izin pamit" kata carl "kau bisa pergi dia akan di sini" kata kim "tapi" kata carl "lepaskan tangan mu" kata eun "kami akan makan malam ber-dua" kata kim "eun.. Kau ok" kata carl "astaga.. Jika aku menolak takut nya dia melakukan hal lain bagaimana kalau dia melukai carl atau aku? Gaya nya aja kaya pembunuh gini" fikir eun "eun katakan sesuatu" kata carl "humm.. Aku akan mengantar mu ke bawah" kata eun kim tidak memalingkan pandangan dari nya "kau akan pergi dengan nya" kata carl "hum" eun mengangguk "lepaskan dulu tangan mu aku akan mengantar nya" kata eun "ayo kita sekalian turun ke bawah" kim menggenggam tangan eun sambil berjalan.
Sesampainya di depan mobil carl kembali berbalik menatap eun "telpon aku jika sudah sampai" kata eun "hum hati hati" carl masuk ke dalam mobil "kenapa kau menatap ku begitu? "Kata eun " kenapa kau begitu perhatian pada nya? "Tanya kim " dia itu teman ku wajar aku kawatir mana ponsel ku? "Kata eun " ada bersama ku"kata kim "tuan mobil sudah siap" kata leo "ayo" kim menarik eun "ingat jangan terlalu lama" kata eun.
Mobil berhenti kim keluar dari mobil "dia benar-benar kaya beda dengan aku" fikir eun "pantas saja pengawal nya banyak kaya pejabat" fikir eun "kau suka? " tanya kim "ya" kata eun "baguslah" kim menggenggam tangan eun lalu lanjut berjalan.
Vivian meletakkan gelas yang dia pegang "kau bilang apa carl? " tanya Vivian "aku sungguh-sungguh Vivian aku melihat kim kim ya si kim itu sangat terobsesi dengan eun mereka terlihat hampir berciuman tadi" kata carl "lalu kau membiarkan eun pergi? " kata vivian "eun yang meminta" kata carl "Tuhan... Aku sayang teman ku" kata vivian.
Kim menatap eun yang sedang memperhatikan sekeliling nya "tuan kim! " eun terlihat marah "kenapa? " kata kim "tangan mu" eun melihat tangan kim ada di pahanya "baik lah " kata kim sambil menarik tangan nya "tuan kim! " kata eun "aku ingin memegang tangan mu" kata kim "bisa tidak kita fokus makan " kata eun "aku lapar" kata eun "uh.. Baik baik" kata kim, eun mulai makan "kenapa aku bisa jatuh cinta dengan gadis seperti ini? " fikir kim "kau tidak makan? " tanya eun "hum.. Ini aku juga makan" kata kim "bisa aku meminta sesuatu" kata eun "apa? " kata kim "jangan datang ke tempat aku kerja kau membuat semuanya ketakutan" kata eun "asal kau mengangkat telpon ku maka aku tidak akan datang" kata kim "kau ini seperti anak kecil" kata eun "jangan matikan ponselmu dan angkat telpon ku" kata kim sambil mengaduk jus nya "dia fikir dia siapa? " fikir eun.
Kim membawa eun jalan jalan setelah selesai makan membawa nya melihat barang barang indah, aksesoris, baju, sepatu dan lain lainnya dan juga melihat pemandangan di taman "astaga.. Aku sudah lupa suasana malam hari di luar" kata eun dalam hati dia melihat beberapa pasangan sedang berfoto mesra "bagaimana? " kim menoleh ke arah eun terlihat muka eun sedang sedih "uh?? " eun menoleh ke arah kim "kau kedinginan" kim memakaikan jas nya ke eun "tuan kim.. Aku ingin pulang" kata eun "bahkan pasangan lain dengan mudah berfoto mesra tidak seperti ku" fikir eun "baiklah ini juga sudah malam" kata kim.
"Hum.. Aku.. Aku akan pulang naik taxi" kata eun "taxi? Tidak aku akan mengantar mu" kata kim "uh.. Tidak.. " kata eun "dia bisa tau tempat tinggal ku" fikir eun "kenapa? "Tanya kim " aku.. Ak--"kata eun "karena sudah pindah? " kata kim "hah? Bagaimana kau tau" kata eun "aku tau semuanya tentang mu, sekarang biarkan aku mengantar mu pulang" kata kim.
Sesampainya di tempat tujuan eun turun melihat kim masih mengikuti nya "aku sudah sampai" kata eun "aku ingin mengantar mu sampai dalam" kata kim "apa? " kata eun "ayo diluar dingin " kata kim eun berjalan membuka pintu kim terlihat tidak menyukai tempat itu "kenapa kau pindah di tempat seperti ini? " tanya kim "memang nya kenapa? " tanya eun "tempat ini terlihat tidak bagus untuk mu" kata kim "sudah sampai kau bisa pergi" kata eun sambil menatap kim "ponselmu" kim menyerahkan ponsel eun "kenapa kau belum pergi? " tanya eun "kau tidak melakukan apa apa lagi? " kata kim "apa lagi? Pergilah aku mau tidur" kata eun "baiklah" kata kim sambil menghela nafas panjang "selamat malam eun" kata kim sambil berbalik dan pergi melihat kim sudah pergi jauh eun langsung menelpon vivian "maaf aku baru menelpon mu" kata eun "eun kau baik baik saja aku mengkhawatirkan mu" kata vivian "tenang lah aku baik baik saja aku sudah ada di kamar mu dan tuan kim sudah pergi" kata eun "dia terlihat menakutkan, apa yang dia lakukan pada mu? "Tanya vivian " tidak ada dia membawa ku makan lalu mengantar ku pulang "kata eun " baik lah kau istirahat lah "kata vivian " iya.. Bye"eun meletakkan kembali ponsel nya ke atas meja "eh?? " dia terlihat keheranan "tadi aku merasa sangat sedih kok sekarang rasa sedih nya hilang? " kata eun "aku tadi benar-benar ingin menangis sampai kamar kok gak jadi ya" fikir eun sambil menggaruk garuk rambutnya "ya sudah lah mungkin aku tidak jadi sedih" eun pergi ke kamar mandi mencuci wajahnya lalu mengganti pakaian nya dan pergi tidur.