
Vivian berdiri menatap siapa yang datang, eun dengan rambut di urai dan topi di atas kepalanya dia berjalan sambil membawa tas "Hai" kata Yuda "Hai" kata eun "kau sudah membaik? " tanya vivian eun mengangguk lalu pergi ke ruangan kerja nya. "Ku rasa dia belum membaik" kata vivian "ku rasa juga" kata petir.
Beberapa hari kemudian..
Terlihat eun sedang mengetik berita yang akan di terbitkan "hei.. Ayo ajak dia party" kata petir "party dimana? " kata vivian "ke klub malam" kata Carl "kau mau dia mabuk? " kata vivian "kau lihat dia begitu sedih" kata petir "dia datang" kata Carl terlihat eun berjalan ke arah mereka "Hai eun" sapa vivian "Hai, kalian sedang apa? " kata eun "hum.. Sedang istirahat oh ya hum kau sibuk malam ini? " tanya petir "tidak" kata eun "hum.. Bagaimana kalau kau ikut dengan kami" kata Yuda "iya kami sedang merasa bosan dan butuh hiburan sedikit" kata petir "kita gak jauh jauh kita ke klub saja" kata Yuda "ayolah eun" kata vivian "hum aku menemui atasan dulu jika tidak ada tugas lagi aku akan ikut" kata eun sambil pergi "dia selalu minta tugas beberapa hari ini apa dia tidak waras? " kata Carl "orang patah hati kok di lawan" kata Yuda.
Pria berjas putih menatap dokumen yang di berikan oleh eun dia mengangguk puas melihat dokumen itu "kerja bagus eun kau bisa istirahat kau sudah mencetak beberapa berita terus menerus selama beberapa hari ini" kata pria itu "hum.. Pak boleh kah beri saya satu tugas lagi" kata eun pria itu terlihat sangat sangat terkejut mendengar ucapan eun "eun aku menyuruh mu istirahat" kata pria itu "hum satu lagi pak satu lagi setelahnya saya akan istirahat" kata eun "permisi pak" seorang wanita datang "ada apa sekretaris putri? " tanya pria itu "saya sudah mendapatkan informasi kalau perkumpulan yang duga ******* akan kembali melakukan pertemuan di jalan pepaya rumah nomor enam" kata putri "pak.. Saya saya bisa mencari bukti tentang informasi itu biarkan saya yang meliput nya" kata eun "eun.. Ini bukan bandar narkoba ini *******" kata pria itu "setelah ini saya akan istirahat sesuai kata bapak tapi biarkan saya meliput berita ini" kata eun "baik lah berikan informasi nya pada eun dan pilih beberapa orang untuk ikut dengan mu" kata pria itu "terimakasih pak" kata eun dengan senang lalu pergi "bagaimana? " kata vivian "aku ada tugas mewawancarai seseorang jadi aku bisa ikut kalian sementara tapi cuma sebentar" kata eun "ah.. Baiklah jadi kita akan party" kata petir "kau mewawancarai siapa? " kata Carl "security" kata eun "kau tidak perlu ikut aku bisa sendiri kau cukup menyelesaikan sisanya" kata eun "oke" Carl mengangguk setuju.
Malam harinya....
"Gluk.. Gluk.. Gluk" vivian mengedip ngedip kan matanya melihat eun terus menerus minum "eun kau bisa mabuk jika minum sebanyak itu! " kata vivian "tidak" kata eun "ayo menarilah kawan" kata Yuda "yooooo... Bersulang" kata petir "astaga.. Kalian berlebihan" kata Carl "ayo minum lagi" kata Yuda "bersulang" kata eun "eun!! Jangan minum lagi" kata vivian "segelas lagi" kata eun "guys udah yuk.. Udah larut malam nih" kata vivian "hum" eun meletakkan gelas nya mengambil ponselnya "hei " eun menatap teman teman nya yang sibuk masing masing "kau mau kemana? " tanya vivian "aku ada urusan bentar" eun langsung pergi "guys.. Guys" vivian menepuk bahu petir yang sedang menari "Carl.. Carl.. Carl.. Eun pergi hei" kata vivian "hum apa? " kata Carl "eun pergi kita harus mengejar nya kita tidak tau dia mau kemana? " kata vivian "bentar aku cuci muka dulu" kata Carl.
Eun keluar dari taxi lalu menghampiri putri yang sedang berdiri dengan seorang pria "eun kau yakin kau akan pergi sendirian? " tanya putri "hum aku akan pergi" eun menerima kamera dari putri dan langsung segera memakai sepatu nya "hum aku akan pergi ini hanya sebentar aku cuma masuk ke tempat mereka merekam mereka dan pergi" kata eun "sayang dia seperti nya mabuk" kata pria yang di samping putri "eun kau baik baik saja? " tanya putri "ya ya" eun menganggukkan kepala nya "kau pergilah aku akan masuk ke markas mereka" kata eun sambil berbalik dan pergi "apa dia tidak punya rekan? " tanya suami putri "ada tapi mungkin mereka berbagi tugas ayo" kata putri.
Eun berjalan mengendap endap memasuki sebuah rumah yang terlihat terbengkalai banyak box dan kayu yang berdebu di dalam nya "ah.. Kenapa kepala ku sakit" fikir eun sambil bersembunyi karena ada dua orang yang lewat dengan membawa senjata lalu eun lanjut jalan mengikuti dua pria itu dari belakang tak lama kemudian terlihat ada beberapa orang sedang duduk dan terlihat sedang berdiskusi eun langsung duduk menyiapkan kamera nya.
Yuda menarik petir yang sudah mabuk berat "angkat ke sini" kata vivian "aduhh.. " Yuda menarik petir ke atas ranjang lalu dia juga ikut terjatuh dan terlelap "gawat guys!! " Carl datang "ada apa? " tanya vivian "eun pergi ke markas *******" kata Carl "aku aku cari dia dulu ya" kata Carl "apa? Aku ikut" kata vivian "ini bahaya" kata Carl "tapi kau sendirian bagaimana kalau ada yang terjadi dengan kalian" kata vivian "ya udah ayo kita cari putri udah kirim lokasi terakhir dia ketemu dengan eun" kata Carl.
"Kita habisi saja semuanya kita tidak perlu ragu"
"Benar aku ada aku akan melindungi kalian aku ini seorang Menteri apapun yang aku ucapkan mereka pasti percaya"
"Benar sisa nya kita habisi"
Eun mengetuk ngetuk dahinya kepala nya terasa sakit dan dia juga mulai merasa mual "tahan eun.. Tahan" kata eun dalam hati "huekkk uhuk" semua orang di dalam ruangan itu terdiam "suara apa itu? "
"Aku sangat mendengar nya dengan jelas"
Eun mematikan kamera nya lalu memasukan nya ke dalam tas "hei lihat ada orang di sana!!! "
"Kejar dia!! "
Eun langsung lari secepat nya menabrak apapun yang ada di depan nya "DORR.. DORR" eun menundukkan kepalanya lalu kembali lari jalanan malam terlihat sangat sunyi tidak ada satu pun kendaraan yang terlihat "uh... " eun memegangi kepalanya "bruakk" mobil hitam menabrak nya "hyaaaaaa!!! " eun berdiri "kau menabrak apa? " kata vivian "aku tidak tau" kata Carl "uhuk" vivian melihat seorang wanita di depan mobil "eun" kata vivian sambil membantu eun "lari lari" kata eun "eun ini aku ayo" kata vivian "heii!!! Hei" kata beberapa orang "cepat masuk" kata Carl tak lama kemudian Carl langsung melajukan kendaraan nya secepatnya "dorr" mobil langsung kehilangan keseimbangan eun mengeluarkan sesuatu dari tas nya dan melemparkan nya ke belakang "zzzzzruuut"asap putih langsung menutupi jalanan eun dan yang lain langsung lari keluar dari mobil" uhuk uhuk"Carl melihat eun yang terlihat sakit "vivian pergi lari mereka mengincar ku" kata eun "tapi kau dalam bahaya" kata vivian "baiklah ayo kita ke gedung itu cepat" kata eun.
Di atas gedung "Biar aku aja " Carl mengambil alat yang di pegang eun lalu membidik gedung yang ada jauh di sebrang "tappp" tali berwarna hitam langsung keluar "ayo kita nyebrang ke sana pakai ini" kata Carl pada vivian "oke oke" kata vivian "cepat " kata eun "aku yakin mereka masuk ke gedung ini" kata beberapa orang yang mengejar eun "ayo cari" kata mereka "ayo kau duluan" kata Carl "kau saja cepat lah " kata eun "tidak aku yang terakhir" kata Carl "kau saja cepat aku mau muntah nih" kata eun "cepat Carl! " kata eun "oke oke" Carl langsung meluncur "huk huek" eun kembali muntah "hei dia ada di atas" kata seorang pria bertubuh besar eun langsung berdiri dan memasang tali di pinggang nya lalu meluncur .
"Dia kabur! "
"Jangan diam saja potong tali nya!! "
"Cepat cepat potong talinya"
Dua orang pria langsung bergerak memotong tali yang ada di depan mereka "aahh.. Kenapa lama sekali" kata eun pandangan nya mulai tidak jelas "grettt" tali putus "siaaaal aaah!! " eun langsung meluncur lebih cepat dari sebelum nya "kuyakin dia mati" kata kepala menteri "oh.. Apa itu!?? Tidak tidak" eun menabrak sebuah jendela kaca "prangggg!! " serpihan kaca jatuh bersamaan dengan tubuh eun "aahh.. " eun melihat sekeliling nya ada seorang pria duduk membelakangi pintu dengan tangan membuka kancing jas hitam yang dia pakai "oh.. Maaf.. Maaf kan aku aduhh" eun berdiri dia merasa sekitar nya mulai berputar pria itu menatap nya tanpa berkedip "maaf maaf tuan aku aku.. Aku akan ganti kerusakan nya dan ahh" eun kesakitan ketika pria itu tiba tiba mencekram tangan nya dengan kuat "aahkk.. Sakit lepaskan aku" kata eun mata pria itu terlihat sangat merah nafas nya juga terdengar seperti ombak di lautan lepas tangan nya menarik tubuh eun "ah.. Aku aku minta maaf.. Aku aku bayar sek. Uhuk.. Huek" eun kembali mual "aku kebanyakan minum" kata eun dalam hati "kau cukup diam" kata pria itu "uh.. Tuan.. Lepas kan aku" kata eun namun cengkraman pria itu jauh lebih kuat "tolong!! Tolong aku" tubuh eun di angkat dan di lempar ke atas ranjang eun langsung berdiri menepuk-nepuk kepalanya "sadar lah.. Jangan mabuk" kata eun pria itu melepaskan dasinya lalu berjalan ke ranjang "tuan.. Tuan.. Aku aku masih ada uang" eun turun dari ranjang dan berlari ke sisi yang berlawanan sambil membawa vas pria itu berjalan ke arahnya membuat eun semakin ketakutan "hei.. Aku bisa memukul mu" kata eun vas di tangan terjatuh pandangan mulai berantakan "tidak! " eun merasakan tubuhnya di tarik "pintu.. Pintu" eun mencoba melawan "lepas kan aku!! Tolong jangan siksa aku" kata eun sambil terus memberontak "brugg!! " eun jatuh ke lantai "aahh" eun menarik serpihan kaca yang mengenai lengannya lalu buru buru berdiri dengan sempoyongan dia berjalan ke arah pintu "tolong!! Tolong!! Tolong buka!! " kata eun pria itu langsung menarik eun kembali sekuat apapun eun memberontak tenaga pria itu jauh lebih kuat "brukk" pria itu melempar eun ke atas ranjang lalu menahannya "anggap saja ini hukuman mu" kata pria itu "dia mau apa? " fikir eun pria itu membuka jas nya "tenaga ku hilang" kata eun dalam hati "diam lah jangan coba coba melawan ku" bisik pria itu sambil menunduk dan mulai mencium wajah eun.
Keesokan harinya...
"Kalian bilang apa? " kata petir "ya eun bahkan belum kembali kau semalaman mencari nya tapi tidak ketemu" kata vivian "cuma tali dan topi nya yang ada di jalan " kata Carl "ini gawat " kata Yuda "kalian sudah menelpon nya" kata petir "sudah tapi tidak di jawab " kata vivian "aku akan coba menelpon nya lagi" kata Carl.
Cahaya matahari membuat sebuah kamar menjadi sangat sangat cerah eun membuka matanya suara ponsel nya terdengar sangat keras "sial!!! " eun mengusap wajahnya lalu mengambil ponselnya yang ada di lantai "halo Carl" kata eun "Hai eun kau dimana kau baik baik saja? Apa kau terluka? " tanya Carl "hum.. Aku " eun melihat pria di samping nya "hah?? Sial aku tidak mimpi" fikir eun "eun? Kau baik baik saja? " kata Carl "aku telpon nanti" eun meremas selimut nya "tidak" eun langsung berdiri memakai pakaian nya dan merapikan barang barang nya dan menghampiri pintu "bagaimana cara buka pintu ini? " fikir eun tiba tiba matanya melihat kartu di lantai "oh ya ya pakai kartu" eun memungutnya dan benar pintu itu langsung terbuka eun melihat sekeliling nya banyak orang dengan pakaian rapi "uhh" eun bersembunyi di balik vas besar ketika ada orang yang lewat "aduh.. Banyak banget orang nya" eun berjalan sambil berjinjit tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun melewati ruangan yang pintu nya tidak tertutup bahkan beberapa orang sedang ngobrol di dalam nya. Eun terus berjalan dan sesekali sembunyi sampai ke pintu keluar "taxi taxi taxi" kata eun lalu dia masuk ke dalam taxi dan pulang.
Di apartemen..
Eun memijat kepalanya "astaga kenapa nasip ku apes dan buruk bagaimana ini bisa terjadi" fikir eun sambil menangis di kamar mandi "bahkan aku sudah hancur sehancur nya apa lagi yang harus ku lakukan" kata eun dia teringat saat dia bangun dan menemukan pria asing ada di samping nya "hancur lah sudah aku..".