gadis reporter dan tuan mafia

gadis reporter dan tuan mafia
di jemput kim


keesokan harinya..


beberapa orang mendatangi kediaman nhai , melihat banyak orang nhai yang sedang memakai sepatu menjadi sedikit panik "ada apa ini? " nhai di pukul bertubi tubi tanpa jeda sedikit pun "akhh" nhai terjatuh ke lantai untuk kesekian kalinya aron menarik tangan nhai ke atas meja "kalian mau apa? " tanya nhai "ini peringatan terakhir" kata azka sambil mencabut kuku jari nhai dengan kasar "AKKHHHH!!! ".


" hari yang menyenangkan da--? "Eun melihat siapa yang duduk di tepi ranjang " sudah selesai? "tanya kim " kenapa kau datang? dengar ya kita tidak ada urusan apa apa lagi pergi sana"usir Eun "apa? " kim berdiri sontak saja Eun langsung merapat jubah mandi nya agar menutupi leher nya .


"apa apanya? jangan pura-pura lupa ya"


"aku datang untuk menjemput mu"


"aku tidak akan ikut lagi dengan mu "


"dia fikir dia siapa membuang ku seenaknya lalu memungut ku kembali " kata Eun dalam hati. "jangan keras kepala, kemasi barang barang mu" "berani sekali kau menyuruh nyuruh aku! kita sudah berakhir da--! " Eun terdiam di saat kim menyudutkan nya "bicara lagi" pinta kim sambil memperhatikan Eun dari bawah sampai atas "a.. aku.. aku tidak mau hum.. aku tidak akan ikut dengan mu" kata Eun sambil menahan tubuh kim yang terus maju merapat .


"aku..akan menendang mu"


"coba saja"


" akhh"kim menatap Eun sambil mundur "kau mengigit lengan ku? " kata kim "bukan hanya mengigit, aku juga akan menghajar mu nanti jika kau datang lagi. kau fikir kau siapa seenaknya mengambil keputusan! kau melempar ku begitu saja lalu menarik ku lagi tidak akan "


"aku akan jelaskan semua nya nanti"


"apapun itu aku tidak mau dengar aku membenci mu"


"kita harus pergi aku tidak punya banyak waktu hari ini"


"pergi saja sana kenapa ngajak ngajak "


kim menarik dasinya sambil menatap eun tanpa kedip, "waduh.. dia marah atau.. " gumam Eun .


dia tidak berani bergerak sedikitpun "kita harus pulang, cepat pakai pakaian mu "


"kau tuli ya? aku tidak ma ikut dengan mu!! tidak mau ikut dengan mu!! jelas? "


kim membuka kancing jas nya "jangan coba coba menakut-nakuti ku, aku tidak akan takut aku bisa menelpon polisi untuk mengusir mu" Eun mengambil ponsel nya "augh ! " tubuh Eun di balik dan di tekan di dinding "aku suami mu, jadi tidak ada salah nya jika aku meminta mu pulang" kata kim sambil melempar ponsel Eun ke atas ranjang "lepaskan aku" kata Eun "aku tidak membuang mu" kata kim sambil menarik tali jubah mandi yang di pakai eun "glek" Eun merasakan tangan hangat kim di perut nya "awas tuan kim, kau tidak boleh menyen--! " Eun memejakan matanya "tuan kim" kata Eun membeku "sstt" kim menyelusuri tubuh Eun dengan tangan nya dan perlahan dia tersenyum mendengar nafas Eun, "tidak ada yang ingin membuang mu percayalah.waktu itu menjauh kan mu dari rumah adalah itu jalan satu satunya " bisik kim "awas tuan kim" tangan Eun di tahan ketika hendak menyingkirkan tangan kim. Eun menunduk melihat tangan kim yang menyentuh nya "apa yang kau lakukan aku--" kim mencium bibir nya, membuat nya tidak dapat meneruskan ucapan nya "tuan kim! kita harus bergegas" terdengar suara dari luar kim langsung melepaskan bibir nya. dia menatap gadis di depan nya "aku akan kembali " kim pergi Eun langsung berbalik merasakan tubuh nya yang panas dingin, "apa yang ku lakukan seharusnya dia tidak boleh menyentuh ku! aku seharusnya mencegahnya! aku kan sedang marah" kata Eun.


seorang wanita datang mengantarkan makanan ke kamar zela, dia melihat zela masih berbaring di atas ranjang dengan suhu tubuh yang sangat tinggi " astaga dia jangan jangan "kata wanita itu.


" devan devan gadis itu seperti nya sekarat "kata wanita itu " apa yang kau bilang naila, dia masih hidup "kata devan " tapi dia sekarat tubuh nya panas seperti api! lihat saja"kata wanita yang di panggil naila itu "coba Cek" kata rack "oke" kata devan.


di rumah sakit..


ken menatap perban di jari nhai "dia tidak akan menyerang jika tidak terganggu, apa yang kau lakukan? " tanya ken "aku tidak melakukan apapun aku mau berangkat kerja dan orang orang kim datang" kata nhai "jangan jangan dia tau kalau kita yang meletakkan bom di rumah nya" kata ken .


rack meletakkan tubuh zela ke atas ranjang, beberapa perawat langsung membawa nya "tubuh nya seperti api" kata rack "ku rasakan ken terlalu menyiksa nya" kata devan "ayo kita lihat nhai sekalian" kata rack "memangnya dia sakit apa? " tanya devan "anak buah kim menghajar nya" kata rack.


di ruang tamu Eun duduk di lantai sambil mengetik di laptop nya untuk membuat skripsi nya "Hai kawan" carl datang "Hai,kenapa kau tidak datang kemarin" kata Eun "aku menjaga pacar ku" kata carl "astaga" kata Eun "kenapa kau tidak pulang? " tanya carl "aku sudah di usir kenapa harus pulang" kata Eun "yang terpenting sekarang apa kak ali sudah menemukan kak zela, aku rela bolos demi ke kantor waktu itu. padahal aku sudah tidak berkerja lagi tapi..kenapa kak ali tidak ada kabar bagaimana dengan kak zela?" batin eun.


pria di depan kim ambruk ke lantai dengan kepala setengah hancur, kim mengusap pipinya yang terkena noda darah"semuanya beres" kata leo "singkirkan semua nya" kata azka "tuan ada telpon dari tuan ryu" kata Justin "kim ak--" kata ryu "aku sudah menghabisi semuanya , aku akan kirim foto nya dan dokumen mu sudah ada. lain kali jika kau ceroboh aku tidak akan membantu mu" kim mematikan telpon nya "bereskan semua nya kira harus kembali ke kantor deon sudah mengirim pesan" kata kim.


"aku haus" kata carl "pergi ambil minuman kemarin kak ali membelikan ku banyak minuman" kata Eun "ali? " kata carl "ali kakak nya kak zela" kata Eun "hah? " carl berdiri dan pergi ke dapur "kenapa kaget" kata Eun "ku fikir kau punya pacar baru" kata carl sambil meletakkan dua kaleng minuman ke atas meja "kami pulang" kata petir "wah wah kalian tau gak seperti apa? " kata carl "apa? " vivian meletakkan sekotak piza ke atas meja "kalian malah seperti suami istri yang menjaga anak nya" carl melirik Eun "hahahha" petir tertawa keras "ada ada saja, oh ya di kantor ada yang menanyakan kalian berdua kapan lulus nya. seperti nya kalian berdua sudah menjadi orang kesayangan di kantor" kata vivian "yabg benar saja" carl tertawa "carl aku bisa menendang mu loh" kata Eun "ku rasa carl tidak salah karena kau yang paling kecil di sini" kata petir "tok tok tok" vivian berdiri mendengar ketukan pintu "biar aku buka pintu nya" kata vivian "aku lelah" Eun menutup laptop nya "aku akan letakan laptop ku dulu" kata Eun "aku juga tidak sanggup berfikir lagi" kata carl "semangat dong" kata petir sambil menepuk bahu carl, "tuan kim" kata carl "dimana Eun? " tanya kim "tuh" kata carl menunjuk tangga "huaam.. rasa nya ngantuk ban-? hei kenapa kalian buka kan pintu untuk nya hush hush pergi sana dasar anak komodo" kata Eun membuat carl menutup mulut nya agar tidak tertawa.


"Eun" kata vivian "kau sudah berkemas? " tanya kim"buat apa? dengar ya aku tidak mau ikut dengan mu!! sekarang pergilah "kata Eun " aku tidak akan pergi "kata kim " astaga hamba Tuhan "kata Eun dengan kesal " aku sudah mengatakan kalau aku akan kembali menjemput mu"tegas kim "tapi ak--aah aduh" carl langsung lari ke arah Eun yang terjatuh "kau baik baik saja? " tanya vivian "kaki ku sakit" kata Eun setelah jatuh dari tangga "kita ke rumah sekarang" kata kim "tidak aku tidak mau pergi kemana pun dengan mu" kata Eun "jangan keras kepala" kim menarik Eun lalu menggendong nya "aahh.. carl tolong!! aku di culik" kata Eun "aku akan ikut dengan mu" kata carl "di culik apa nya" kata petir "ada ada saja" kata vivian sambil tersenyum.


di dalam sebuah ruangan..


zela membuka matanya lalu menatap selang infus di lengan nya "aku tidak di kamar? ini di.. dimana? " kata zela sambil duduk "ini rumah sakit" kata zela. "aku bilang juga apa cuma luka ringan " kata Eun saat di rumah sakit "kau tidak bosan memarahi ku" kata kim "jangan dekati aku, jaga jarak! kau pergilah ke rumah mu aku akan ketempat teman ku" kata Eun "tidak bisa" kata kim sambil menahan tangan Eun "lepas kan aku! " zela melihat ada seseorang berdiri di luar jendela "itu..itu Eun!!" zela langsung berdiri dan berusaha berjalan sebisa nya "aku akan hancur kan rumah teman mu" kata kim "kau gila" Eun kaget "leo hubungi kontraktor" kata kim "hei.. jangan seenaknya" kata Eun "pilihan nya ada pada mu" kata kim "baik lah aku mau ke kamar mandi dulu, **** you" Eun pergi "sekarang kau lebih suka di paksa ya" kata kim.


zela membuka pintu namun yang di cari tidak terlihat lagi, "aku harus cari Eun, aku yakin itu tadi Eun" kata zela sambil melepas infus nya dan pergi mencari Eun.


"ah.. jari jari ku masih sakit huff" Eun meniup jarinya lalu membasuh nya dengan air "kira kira dia beneran bakal hancurin rumah petir gak ya" kata Eun. zela berjalan kesana ke sini "aku dengar dia mengatakan kamar mandi" kata zela sambil meringis kesakitan "apa aku kabur aja ya? tapi bagaimana kalau tuan Milthon melakukan hal buruk ah.. aku pu--aduh!! " Eun jatuh ketika ada yang menabrak nya "maaf maaf" Eun memperhatikan wanita di depan nya


"kak zela! "


"Eun"


zela memeluk Eun "Eun tolong aku" kata zela "ayo aku akan membawa mu bertemu kakak mu" kata Eun. "dia menghilang" kata rack "gawat" kata devan "cari dia sampai dapat" kata ken.


tubuh mungil Eun gemetaran membantu zela berjalan "kuat kuat... sedih sekali rasa nya punya badan kecil dan pendek" kata Eun dalam hati "Eun aku takut" rintih zela "maka nya cepat sedikit" kata Eun "berhenti" Eun menatap pria yang memblokir jalan nya, ken mengacungkan senjatanya ke kening Eun "akhirnya kita bertemu lagi" kata ken "pegang bahu ku" Eun menarik zela ke belakang tubuh nya "aku tidak akan membiarkan mu menyentuh nya" Eun merentang kan kedua tangan nya "nona reporter kau mau melindungi dia dengan tubuh mungil mu? hahaha sudah lama aku ingin membunuh mu dan sekarang--? " ken merasakan ada tiga pistol menempel di kepala nya "kau yang akan mati" kata leo "tidak semudah itu kau membunuh nya" kim menarik pistol yang di pegang ken lalu menatap Eun "ayo nona" kata Justin sambil membawa Eun dan zela pergi "dorr!! " ken meringis kesakitan "menyentuh nya akan berakibat fatal" kata kim sambil meletakkan pistol ken ke saku nya "tuan kim!! " kim melihat Eun berjalan ke arah nya "tinggal kan dia" kata kim sambil berjalan menghampiri Eun "ada apa? " tanya kim "dia" kata Eun ingin tau apa yang di lakukan kim pada orang tadi "leo bawa ken ke kantor polisi" kata kim dengan cepat "siap tuan" kata leo "ayo" kim menarik Eun pergi.