
"Marvel,...lepaskan aku!" Pinta Jessi saat melihat Marvel masuk.
"Atas dasar apa aku melepaskan mu?" tanya Marvel dengan santainya.
"Aku janji tidak akan mengusik hidup mu lagi. Aku bersumpah!"
"Aku ini sampah Jessi," ucap Marvel dengan suara dingin, "coba kau ingat lagi. Ada berapa banyak keluarga yang kau rusak dan ada berapa suami yang kau rebut dari istrinya?"
Jessi terduduk lesu, ia tertunduk meratapi nasib dirinya.
"Entah kenapa aku bisa begitu bodoh masuk ke dalam rayuan mu?, kau perempuan ular Jess!"
"Aku minta maaf telah menyakiti mu Vel," ucap Jessi dengan isak tangisnya.
"Aku tidak mempermasalahkan berapa uang ku yang kau makan. Hanya saja kau sudah benar-benar keterlaluan mengkhianati ku. Bisa-bisanya kau kabur dengan calon suami adik sepupu ku."
"Vel, aku minta maaf." Sekali lagi Jessi meminta maaf. "Kita bisa memulai semua dari awal. Aku mau berubah demi kau."
Marvel tertawa mendengar ucapan Jessi.
"Aku sudah bahagia dengan anak istri ku. Untuk apa aku kembali pada mu si biang masalah?"
"Ingatlah masa-masa indah Vel. Kau juga pernah bahagia bersama dengan ku," ucap Jessi semakin membuat Marvel geli.
"Aku jauh lebih bahagia dengan anak istri ku sekarang. Kiran gadis polos, meskipun aku kaya raya tapi dia tidak pernah mau menghamburkan uang seperti mu."
"Kau terlalu membanggakan perempuan yang masih bocah itu Vel. Dia hanya perempuan kelas menengah yang tidak bisa bersaing dengan ku," ucap Jessi yang masih angkuh.
"Ciiih,......! Tentu saja Kiran tidak bisa bersaing dengan perempuan seperti mu. Kiran jauh lebih baik bahkan kau dan dia tidak bisa di sandingkan."
"Marvel...!" Jessi tidak terima, "lepaskan aku bajingan!"
"Sekali pun aku melepaskan mu, kau akan jatuh ke tangan orang......!" Marvel tidak meneruskan ucapannya. Pria ini memilih pergi hingga membuat Jessi penasaran.
Aaaaargh..........
Jessi mengumpat kesal.
"Siapa yang di maksud bajingan itu?"
Jessi mulai kepikiran, iya yakin jika Marvel akan menyerahkan dirinya pada orang yang jauh lebih kejam dari Marvel.
"Mas, dari mana kok pergi gak bilang-bilang?" tanya Kiran kesal.
"Ada pekerjaan sedikit sayang. Ini mas beliin kamu buah anggur hijau sesuai permintaan."
"Suami ku, maaciiih.....!" Ucap Kiran sambil memuncungkan bibirnya, "padahal aku tadi malam cuma ngomong loh. Gak minta."
"Di mana anak ku?"
Marvel menghampiri anaknya yang sedang tidur di atas tempat tidurnya.
"Enak banget bos kecil. Baru lahir aja udah terdaftar ahli waris keluarga. Lah papahnya, harus nerusin perjuangan kakeknya dulu."
"Ya ampun mas, sama anak perhitungan. Kalau gak ikhlas ya udah coret nama Joe," ujar Kiran yang geram.
"Becanda aja gak boleh. Dasar Kiran koran!"
"Biarin aja koran.Dari pada bewok, bikin gatal!"
"Tapi gatal-gatal bikin nagih loh!"
"Biarin aja. Ingat mas, puasa kamu masih satu bulan lebih. Emang enak!" Ejek Kiran.
Mendadak Marvel lesu saat mendengar ucapan istrinya.
"Sudah delapan hari aku tidak mengulek. Aku rindu cobek ku," ucap Marvel semakin lesu, "sayang kamu gak rindu kah sama kedutan mas?"
"Mas,...bicara mu itu loh. Kalau di dengar mamah gimana?, malu tahu!"
"Mamah pergi, gak tahu katanya mau belanja buat cucunya. Heran, sama perempuan. Suka belanja barang gak jelas!"
"Tapi aku gak gitu loh mas!"
"Iya,...istri mas gak gitu. Itu cuma mamah aja!" Marvel menarik istrinya ke dalam pelukannya untuk sekedar melepas rasa rindu.
"Aaaah,.....tuh kan. Bangun.....!"
Marvel langsung pergi ke kamar mandi. Sedangkan Kiran hanya bisa mengangkat kedua bahunya melihat tingkah sang suami.