
"Ya Tuhan Jeff. Kenapa kau ini bodoh sekali dan tidak memahami apa yang aku maksud." Marvel mengacak rambut kesal.
"Ya maksud bos gimana?" Sekali lagi Jeff bertanya dengan polosnya.
"Apa burung nuri mu itu pernah masuk sangkarnya?" Tanya Marvel menunjuk ke arah bawah Jeff.
Dengan sangat polos Jeff mengikuti arah tangan Marvel.
"Wah,...ini?" Jeff menunjuk burungnya sendiri. "Jangan di tanya bos. Setiap malam absen untuk membuang tinta," kata Jeff tanpa malu-malu.
"Itu yang aku maksud!" Seru Marvel, "sudah satu bulan aku tidak membuang tinta ku!"
"Hah,...kok bisa?, bos sama Kiran mau cerai kah?"
Buuuuk........
Marvel benar-benar kesal, pria ini melemparkan sebuah buku ke arah Jeff.
"Jeff,......kenapa kau ini bodoh sekali?, sekali lagi kau ucap kata cerai akan ku penggal kepala atas dan bawah mu!" Ancam Marvel.
"Maaf bos. Keceplosan, habisnya bos bicara tidak jelas!"
"Kiran baru saja melahirkan. Perempuan setelah melahirkan tidak bisa wik-wik selama empat puluh hari. Dan aku sudah satu bulan lebih tiga hari tidak wik-wik sama istri ku!" Jelas Marvel.
"Hah....?, masa sih bos?" Tanya Jeff tidak percaya, "ku Pikir itu semua hanya berita bohong untuk menakuti para suami."
"Kau tidak tahu rasanya tegang kepala atas dan bawah. Setiap hari melihat istri kita semakin cantik saja tapi sayang ada satpamnya yang selalu menjaga." Marvel curhat.
"Memangnya siapa yang menjadi satpam Kiran?" Tanya jeff penasaran.
"Mamah ku!" Jawab Marvel singkat.
"Kasihan burung ku ini," ucap Marvel dengan nada lemah. "Sejak sangkarnya hamil dia tidak bisa berkicau keras. Goyangnya harus lembut dan setelah melahirkan si burung harus berpuasa. Sungguh kasihan."
"Haduh,....bagaimana cara mengakalinya bos?" Tanya Jeff yang bermaksud ingin belajar.
"Tidak ada! jika burung mu bangun kau harus menidurkannya sendiri."
"Aku selalu membuat istri ku merintih setiap malam. Jika seperti itu jalan ceritanya, ranjang akan sangat sepi dong."
"Bukan sepi lagi Jeff, mati suri....!"
Hilang sudah membahas pekerjaan, yang ada Marvel dan Jeff saling curhat mengenai pasangan. Tidak jauh-jauh, bahasan mereka seputar kamar, ranjang dan tetangga sekitarnya.
Yang di curahtkan satu sedang asyik bermain bersama anaknya dan yang satu sedang asyik mengadon kue.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, bergegas Marvel pulang karena ia sangat merindukan anak dan istrinya. Sekarang, jika Marvel sedang kerja atau berada di luar kota rasanya hanya ingin cepat-cepat pulang.
"Mas. Sudah di bilangin kalau pulang kerja gak usah beli mainan. Anak kita belum mengerti hal seperti itu," ujar Kiran yang sudah bosan memberitahu suaminya.
"Gak apa-apa sayang. Biar orang tahu kalau mas udah punya anak," sahut Marvel.
"Tapi, itu termasuk hal yang mubazir Vel....!" Sambung mamah Dona.
"Gak ah, inikan buat Joe ganteng. Harta papah harta anak. Lagian aku kerja buat dia!"
"Cuma buat Joe aja?" protes Kiran.
"Eh,...gak dong. Buat istri mas yang paling cantik juga. Kalau mamah sih enggak ya, soalnya harta warisan peninggalan papah buat mamah bisa mamah turunin ke cucu mamah lagi."
"Kamu ini kalau ngomong suka bener!"