Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 52


"Apa yang sedang kau pikirkan hemm?" tanya Marvel mengejutkan Kiran yang sedang melamun di balkon kamar mereka.


Kiran tersenyum tipis lalu membuang pandangannya jauh ke depan.


"Tidak ada!" jawabnya singkat.


"Jangan bohong. Mas bisa membaca dari raut wajah mu jika kau sedang memikirkan sesuatu."


"Tidak pergi ke kantor kah?" Kiran bertanya pada suaminya untuk menghindari pertanyaan dari Marvel.


"Tidak. Hari ini mas hanya ingin menemani istri tercinta di rumah," jawab Marvel sembari mencolek pipi Kiran.


"Ah, masa sih...!!"


"Iya sayang,....!" sekali lagi Marvel mencolek pipi Kiran, "jawab dong pertanyaan mas, kamu mikirin apa?"


"Gak ada mas...!" bohong Kiran kekeh.


"Mikirin ayah mu yang tiba-tiba menuntut kamu ke pengadilan?" Marvel mencoba menebak.


"Bukan masalah itu. Kalau masalah itu sih, aku yakin jika om bewok ku ini bisa menyelesaikannya."


"Lalu apa dong...?"


Kiran menarik nafas panjang, memejamkan matanya sejenak lalu menatap wajah tampan suaminya.


"Pernikahan kita sudah berjalan beberapa bulan. Tapi,......!!'' ucapan Kiran tersendat.


"Tapi apa?" tanya Marvel penasaran.


"Tapi kenapa aku belum hamil juga?"


Wajah Kiran berubah sedih.


"Kenapa kau terlalu memikirkan hal seperti itu hemm?"


"Aku merasa belum jadi menantu yang baik aja untuk mamah karena sampai sekarang belum memberikan beliau seorang cucu."


Marvel menarik kursi agar lebih dekat dengan istrinya. Wajah meraka saling menatap, jelas terlihat jika Marvel sangat mencintai Kiran.


"Pernikahan bukan melulu tentang anak sayang. Jika sampai detik ini kita belum memiliki seorang anak, itu artinya Tuhan masih belum percaya pada kita. Hiduplah lebih baik, mari ciptakan kebahagiaan di rumah tangga kita. Jika sudah sampai waktunya, mas yakin jika Tuhan pasti akan menghadiahkan seorang malaikat kecil di tengah keluarga kita."


"Tapi, kasihan mamah."


"Mamah tidak pusing mengenai masalah ini. Cukuplah baginya melihat kita bahagia itu akan membuat mamah bahagia juga."


"Yakin begitu?" tanya Kiran yang sebenarnya masih kepikiran.


"Sudahlah sayang. Mas gak akan menuntut anak dari kamu. Berdoa saya yang terbaik dan jangan lupa usaha. Mas akan terus membajak sawah mu itu hingga suatu saat kita bisa memanen hasilnya."


Kirain tertawa mendengar ucapan suaminya. Marvel terus menyakinkan Kiran agar ia tidak terlalu merusingkan masalah anak.


"Ayo sayang....!" Marvel menarik tangan istrinya.


"Kemana mas?" tanya Kiran penasaran.


"Membuat adonan. Donat mu harus segara di adon biar cepat mengembang."


Kiran membuang nafas kasar.


"Ujung-ujungnya pasti ranjang!"


Tidak dapat menolak, mau tidak mau Kiran harus melayani suaminya di waktu menjelang siang ini.


Ini hanya secuil keseharian dalam rumah tangga Marvel dan Kiran.


Beda lagi dengan Sika yang hampir setiap hari pergi dengan suami orang. Bukan hanya satu orang, tapi ada beberapa laki-laki yang menjadikan simpanan. Pamitnya pergi bekerja tapi kenyataannya malah berbeda.


"Terimakasih om. Minggu depan kita bertemu lagi ya," ucap Sika dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Cukup layani om dengan servis memuaskan, maka om akan memberikan apa yang kau mau." Kata lelaki tua tidak tahu diri.


Sika hanya tersenyum lebar saat melihat om kesayangan keluar dari kamar hotel. Saat pintu kembali tertutup, Sika langsung menghitung uang yang ada di atas tempat tidur.


"Woaaah,.....luar biasa," ucap Sika dengan wajah girang.


"Jika aku seperti ini terus, aku akan kaya. Semua yang aku mau pasti akan terkabul."


"Sika,....!!" Desi menghampiri anaknya yang baru saja masuk.


"Iya bu, ada apa?" tanya Sika.


"Bagi duit dong. Ibu mau belanja nih...!"


"Husss.....!" Sika menaruh jari telunjuknya ke bibir, "jangan keras-keras bu."


"Ayah mu tidak ada. Kau tenang saja!"


Sika menghembuskan nafas kasar, lalu mengeluarkan segepok untuk ibunya.


"Astaga. Sudah lama ibu tidak memegang uang sebanyak ini. Terimakasih sayang," ucap Desi senang.


"Selama ibu bisa menjaga rahasia ini, ibu akan selalu memegang uang banyak."


"Pasti sayang. Ibu akan selalu berada di pihak kamu."


"Ngomong-ngomong, ayah kemana bu?" tanya Sika penasaran.


"Pergi bersama Gama. Besok ada sidang, semoga saja si Hasan itu bisa merebut rumah dan tanah dari tangan Kiran."


"Iya bu, semoga saja berhasil. Aku sudah tidak betah lagi tinggal di tempat seperti ini."


"Ya sudah, kamu istirahat sana!"


Sika masuk kedalam kamarnya begitu juga dengan Desi yang langsung masuk ke dalam kamar untuk menghitung uang pemberian anaknya. Buru-buru Desi menyembunyikan uang tersebut agar tidak ketahuan Hasan.


Lain pula dengan cerita Fani, wanita ini terus mengumpat ketika Jeff menceritakan masalah yang di alami Kiran selama ini.


"Aku tidak habis pikir sama Gama. Aku tahu betul jika bocah itu sangat baik pada Kiran. Lalu kenapa sekarang dia malah berbalik membela pak Hasan?"


"Kau saksi hidup dari perjuangan Kiran selama ini. Aku yang orang baru saja rasanya merasa aneh jika seorang ayah sangat tidak peduli pada anaknya."


"Sebenarnya banyak yang seperti pak Hasan, hanya saja merek beda dalam bertingkah."


"Apa kau mau ikut menyaksikan sidang perdananya besok?" Jeff mengajak Fani.


"Boleh. Tapi, jangan lupa jemput aku."


"Pasti, aku pasti akan menjemput calon istri ku!"


"Siapa calon istri mu?" tanya Fani heran.


"Itu, yang barusan bertanya!" jawab Jeff dengan cepat berlari keluar dari toko kue.


Shiiiiit,.....


Fani mengumpat kesal tapi tidak bisa marah kepada Jeff.


"Mengenai masalah Kiran, aku harus bicara pada bocah sialan itu!"


Fani benar-benar kesal pada Gama yang sekarang. Fani mengambil tasnya kemudian langsung pergi untuk menemui Gama.


Suatu kebetulan ketika Fani melihat Gama yang baru saja pulang. Geram, ingin rasanya Fani memukul wajah polos Gama.


"Mbak Fani,....!" ucap Gama pelan.


"Aaah,...bagus jika kita bertemu di sini. Hai Gama, berhenti mengganggu Kiran. Kau sudah terlalu jauh ikut campur dalam hidupnya."


"Maksud mbak Fani apa ya?" tanya Gama seolah tak mengerti.


"Dasar bodoh!" umpat Fani, "kenapa kau membantu pak Hasan untuk merebut hak Kiran. Kau tahu itu sebuah amanah tapi kenapa kau malah mendukung pak Hasan hah?"


"Aku tidak mendukung pak Hasan. Semua itu memang ada hak pak Hasan."


Fani semakin geram melihat wajah Gama beserta kebodohannya.


"Kau tahu sendiri bagaimana kehidupan Kiran selama ini. Biarkan dia bahagia bersama Marvel, anggap saja semua itu hadiah untuk Kiran."


"Tapi mbak....!" ucapan Gama terpotong.


"Tidak ada kata tapi Gama. Dengan cara mu seperti ini sudah membuat Kiran semakin membenci mu. Sebenarnya, apa yang kau mau dari Kiran hah?"