
"Aku gak nyangka deh mas kalau Gama memiliki trauma seperti itu. Ya emang sih, kalau di tinggal orang tua itu menyakitkan, tapi mau bagaimana lagi?, ini semua takdir."
"Tapi, orang-orang seperti Gama itu sangat berbahaya. Biasanya, apa pun yang dia inginkan harus tercapai." Marvel tetap tidak terima akan sikap Gama yang sudah ingin menggugurkan anaknya.
"Gak usah bahas Gama lah mas. Aku pusing. Kita bahas masalah rambutan botak aja. Mana, kapan belinya mas?" Kiran mulai merengek.
"Nah kan, rambutan gak ada rambut lagi di bahas. Belinya di mana coba?"
"Kalau gak ada ya udah, rambutan yang ada aja di botakin. Kalau gak, punya mas aku botakin!" Ancam Kiran.
"Jangan dong sayang. Gak asyik nanti," ujar Marvel.
"Ayo beli rambutan!" ajak Kiran.
Mau tidak mau Marvel harus memutar kemudinya untuk mencari pedagang buah rambutan.
"Rambutannya sudah dapat. Sekarang kita pulang ya sayang. Kamu harus istirahat," ujar Marvel sambil mengusap rambut istrinya.
"Jangan pulang dulu mas. Kita pergi ke tukang cukur dulu," ucap Kiran membuat Marvel heran.
"Ngapain ke tukang cukur?, rambut mas masih pendek kok."
"Lah, yang mau cukur rambut mas siapa?, aku tuh mau nyukur semua rambutan ini."
Marvel tercengang menatap wajah istrinya yang begitu polos.
"Ayo kita cari tukang cukurnya," ajak Marvel yang sudah pasrah dengan tingkah Kiran.
Setelah memutar untuk beberapa saat, akhirnya mereka menemukan tukang cukur.
"Mau cukur model apa mas?" tanya si mas cukur.
Marvel menarik nafas panjang lalu membuangnya pelan.
"Bukan saya yang mau di cukur mas. Tapi rambutan yang di pegang istri saya ini," jawab Marvel membuat seisi ruangan tertawa.
"Mas, saya ngidam loh!" seru Kiran, "tolong cukurkan buah rambutan ini sampai botak ya," pinta Kiran.
"Mas, lima ratus ribu!" Seru Marvel sambil meletakan lima lembar uang berwarna merah.
"Terimakasih sudah menuruti ngidam istri saya yang hemmmmm......!"
"Tidak apa-apa mas. Wajar saja!" kata mas cukur.
Tak berapa lama, mas cukur sudah selesai mencukur satu ikat rambutan tersebut.
"Ya ampun, lucunya. Gak tega buat makannya," ucap Kiran gemas.
"Kita pulang ya sayang," ajak Marvel yang benar-benar sudah pasrah.
"Iya mas!"
Mereka kemudian pulang, hanya demi menuruti ngidam istrinya Marvel rela membuang banyak uang.
"Heran sama orang kaya gabut. Padahal itu rambutan bisa di gunting sendiri," ucap mas cukur.
Kiran, setibanya di rumah ia tidak langsung memakan buah rambutan tersebut melainkan ia gantung di kamar.
"Biar apa di gantung gitu?" tanya Marvel.
"Biar aku senang aja," jawab Kiran, "ini jumlah buahnya ada tiga puluh tujuh. Awas aja kalau hilang, berarti mas yang ambil!"
"Kamu ini ada-ada aja. Besok ngidamnya yang paling aneh ya. Suami mu ini masih sanggup kok!"
"Aku beban ya buat mas?" tanya Kiran yang tiba-tiba wajahnya berubah sedih.
"Eeeh....gak gitu sayang maksudnya mas. Jangan marah." Dengan cepat Marvel menarik Kiran kedalam pelukannya.
"Iya, tapi jangan ambil rambutan ku."
"Enggak,...enggak,...gak akan ada yang berani mengambilnya. Ya udah, sekarang kamu istirahat dulu ya."
Benar-benar tidak habis pikir, bisa-bisa Kiran menggantung buah rambutan tersebut di pintu keluar balkon kamar.
Marvel tak bisa berbuat banyak, ia pasrah.
"Aku sedang mengasuh bayi besar yang sebentar lagi akan memberi ku seorang bayi," batin Marvel.