Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 61


"Di mana kau mendapatkan perempuan ini Jeff?" Marvel bertanya dengan wajah dingin.


"Aku tidak sengaja menemukan dia di hotel," jawab Jeff.


"Bajingan!" Umpat Sika, "lepaskan aku Marvel!"


"Kau tidak akan pernah aku lepaskan. Bukankah kau sudah aku peringatkan untuk tidak menyentuh Kiran?"


"Kiran tidak pantas untuk mu. Dia hanya benalu, dia sampah di keluarga kami...!"


"Keluarga mana yang kau maksud? Ayah dan ibu mu adalah pembunuh. Ingat, mereka pembunuh!" Ucap Marvel di telinga Sika.


"Mereka bukan pembunuh, ibu ku bukan pembunuh!" Sika berteriak histeris.


"Memberikan obat tidur dengan dosis tinggi kemudian mati, menurut mu itu di sebut apa?" Jeff geram melihat wajah Sika.


"Kata ibu ku, ibunya Kiran memang pantas mendapatkan pembalasan seperti itu."


Marvel yang sudah tidak tahan lagi melihat wajah Sika, akhirnya menjambak rambut wanita itu juga. Sika merintih kesakitan, tapi Marvel enggan melepaskan.


"Saat kau mendorong istri ku, dia sedang hamil. Untung saja anak ku tidak kenapa-kenapa," ujar Marvel memberitahu.


Sika terkejut, ia tidak percaya jika Kiran hamil.


"Lepaskan aku Marvel!" Pinta Sika melawan.


"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan mu. Kau terlalu berbahaya untuk kehidupan Kiran."


"Bajingan...!" umpat Sika, "kalian semua manusia jahat!"


Plak,.....


Entah angin apa tiba-tiba Marvel menampar wajah Sika. Untuk pertama kalinya Jeff melihat Marvel semarah ini.


"Ya, kami memang jahat. Aku akan membalaskan rasa sakit hati istri ku selama ini. Terutama kau yang selalu memojokkan dia."


"Kiran memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu dari ayah. Ayah hanya sayang pada ku, aku adalah anak yang di inginkan. Bukan seperti Kiran, anak yang sama sekali tidak di harapkan kelahirannya oleh ayah!"


Plak,....


Sekali lagi Marvel menampar wajah Sika.


"Sekali pun kalian semua tidak pernah menginginkan Kiran untuk hidup, masih ada aku yang tulus mencintai dia."


"Cuiiih,....!" Sika membuang ludahnya, "kami yang membuang sampah tapi kenapa kau malah memungut sampah yang kami buang hah?"


Plak,.....


Lagi-lagi Marvel menampar Wajah Sika. Darah segar mengalir dari sudut bibir wanita itu. Sika menangis, merintih kesakitan menahan perih di wajahnya.


"Jeff, siapa pun yang sudah membebaskan Sika dari penjara, hancurkan hidupnya!" Titah Marvel.


"Siap bos!"


"Lepaskan aku Marvel," pinta Sika dengan isak tangisnya, "kau tidak berhak menyiksa ku seperti ini."


Marvel terus menekankan kata-kata seperti itu di telinga Sika. Sika menutup kedua telinganya, berteriak memohon agar Marvel menghentikannya.


"Buat dia gila lalu buang dia ke jalanan!" Titah Marvel pada kedua anak buahnya.


"Siap bos!"


Marvel pergi meninggalkan Sika yang saat ini masih menangis histeris. Sebenarnya Marvel hanya ingin memberi pelajaran pada Sika karena wanita itu sudah hampir mencelakai calon anaknya.


Marvel pulang ke rumah, setibanya di rumah Marvel langsung mendapatkan sambutan yang membuat jiwa Marvel bergetar.


"Sayang mas sudah bangun?" Marvel basa basi.


"Dari mana kamu Marvel?" Tanya mamah Dona sambil membawa sapu.


"Marvel ada pekerjaan sedikit yang harus di selesaikan. Jadi, Marvel pergi sebentar mah," jawab Marvel berbohong.


"Mas mengingkari janji. Aku gak suka," ucap Kiran yang sejak hamil suka ngambek.


"Sayang, mas.....!!"


"Aku marah!" Seru Kiran, "aku gak mau tahu, malam ini mas tidur di luar!"


"Loh,...loh,...gak bisa gitu dong sayang. Masa mas tidur di luar!"


"Aku nungguin mas dari sore sampai sekarang sudah jam delapan malam. Mas pikir aku gak capek nungguin?"


"Kamu itu harus di hukum Marvel. Mamah gak suka cara kamu yang mempermainkan istri mu seperti ini."


"Mah, Marvel ada pekerjaan. Marvel gak pergi kemana-kemana kok."


"Tidak menerima alasan dalam bentuk apa pun," ucap Kiran dengan tegas. Ia langsung pergi ke kamar, meninggalkan Marvel yang masih berdebat dengan mamahnya.


Marvel meninggalkan mamahnya yang masih mengomel. Marvel pergi menyusul Kiran yang saat ini sudah mengunci pintu kamar.


"Nah, ya kan. Di kunci, aku yang salah apa mamah yang salah?"


Marvel kesal sendiri, mau tidak mau ia harus menunggu di depan pintu kamar sambil mengeluarkan rayuannya. Namanya juga Kiran, ia tidak mudah di rayu.


"Sayang, buka pintunya. Mas mau masuk nih."


"Sayang, buka pintunya. Kamu gak kangen sama mas?"


"Kiran sayang, buka pintunya dong. Kamu kan gak bisa tidur tanpa mas. Apa lagi sebelum tidur kamu suka main sama burung mas!"


"Sayang, besok mas jadi putra duyung deh. Mas janji, ayo buka pintunya."


Sampai suara Marvel serak, Kiran tidak juga membuka pintu. Tapi, Marvel tidak menyerah, ia mengambil linggis lalu mencongkel pintu kamarnya sendiri. Lalu, bagaimana dengan kunci cadangan? kunci cadangan kamar juga di pegang oleh Kiran.


Setelah berhasil membuka pintu kamar, Marvel hanya bisa menghembuskan nafas pelan saat melihat Kiran yang sudah terlelap tidur.


"Jadi, sejak tadi aku bicara sama pintu? Dasar bodoh!" Umpat Marvel pada dirinya sendiri.