
"Tidak adakah niatan anda untuk meminta maaf pada Kiran?" tanya Marvel saat mengunjungi mertuanya ini.
Hasan tersenyum miring, menatap tajam ke arah Marvel.
"Seharusnya dia yang meminta maaf padaku sebagai orang tuanya," sahut Hasan.
"Di penjara ternyata tidak membuat anda berubah. Apa anda tidak sadar jika anda telah merebut kebahagiaan orang lain. Istri dan anak anda sendiri."
"Aku dan ibunya Kiran menikah di paksa. Bahkan, kelahiran Kiran pun terpaksa. Jika bukan keinginan kedua kakek Kiran, mungkin aku tidak akan menikah dengan ibunya Kiran."
"Kiran adalah korban keegoisan kalian. Bisa-bisanya anda sebagai seorang ayah sama sekali tidak memiliki rasa kasih sayang padanya. Aneh!" Marvel bergeleng kepala.
"Siapa kau berani berkomentar tentang aku. Bebaskan aku Marvel!"
Hasan menarik kerah kemeja Marvel. Tapi, Marvel sama sekali tak terpancing emosi.
"Biarkan dia melihat keadaan anak dan istrinya!" titah Marvel pada dua orang polisi. Apa pun bisa Marvel lakukan. Bukan apa-apa, Marvel hanya ingin Hasan sadar dan meminta maaf Kiran.
"Lepaskan aku!" Hasan berontak.
Saat salah satu pintu ruangan kosong di buka, Hasan terkejut saat melihat keadaan Desi dan Sika. Hasan berusaha melepaskan borgol di tangannya tapi tak bisa.
"Siapa yang sudah membuat kalian menjadi seperti ini?" tanya Hasan tidak terima.
"Mas. Mas tolong aku dan Kiran. Kami di pukuli mas, kami di hajar." Adu Desi semakin membuat Hasan tidak terima.
"Siapa yang berani menghajar kalian?"
"Tahanan yang lain mas," ucap Desi berderai air mata.
"Bawa dia lagi," titah Marvel.
Hasan di tarik keluar, keluarga penuh drama itu saling memanggil nama untuk meminta bantuan.
"Bebaskan aku Marvel!" pinta Hasan dengan nada tinggi.
"Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau. Contohnya Kiran, dia yang semula membenci ku pada akhirnya tidak bisa hidup tanpa aku. Jadi, jangankan mengirim anda ke penjara, ke akhirat pun aku bisa!" Ujar Marvel kemudian berlalu pergi.
Hasan mengamuk, panas hatinya atas ulah Marvel. selain tahun menyembunyikan kejahatannya dari Kiran, malah orang lain yang membongkarnya.
Marvel pulang, Kiran langsung menghampiri suaminya.
"Mas ada meeting sayang," bohong Marvel, "kenapa? kamu ngidam apa sekarang?"
"Aku pengen mancing ikan terus ikannya di bakar dan makan di tempat," ujar Kiran lagi-lagi membuat Marvel harus menelan ludahnya.
"Di mana mancingnya coba?"
"Di mana aja mas, yang penting mancing."
"Kita mancing di pasar aja ya?"
"Gak mau!" rengek Kiran, "kalau mas gak mau nuruti permintaan aku, aku bakal cabut bulu dada mas lima helai...!" ancam Kiran.
"Gak, ayo kita berangkat!" Ujar Marvel sambil merangkul istrinya.
Marvel terkejut saat membuka pintu, ternyata ada Jeff dan Fani yang sudah siap dengan alat pancingnya.
"Kalian ngapain?" tanya Marvel heran.
"Noh,...istrinya bos ngajak mancing," jawab Jeff kesal.
"Ya mau bagaimana lagi? Orang ngidam wajib di kabulkan!" Sahut Fani.
"Terserah kalian. Ayo berangkat!" Marvel pasrah.
Mereka pun pada akhirnya pergi mencari tempat pancingan. Apa pun akan di lakukan Marvel demi kebahagiaan Kiran.
Mancing sudah di turuti, makan ikan bakat di tempat juga sudah di turuti. Kiran yang kelelahan terlelap begitu saja.
"Bos, mau di bantuin gak gendong istrinya?" Jeff menawarkan diri.
"Berani menyentuh istri ku akan ku patahkan batang kehidupan mu!" Ancam Marvel.
"Bercanda bos!" Seru Jeff.
Mengacuhkan Jeff dan Fani, Marvel masuk kedalam rumah sambil menggendong Kiran yang tidur.
"Bos, kami pamit pulang!" Teriak Jeff.