Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 44


"Kenapa kau diam saja? apa kau mau kita terusir dari rumah ini?" Desi bertanya dengan suara tinggi, "punya anak seperti Kiran saja kau tidak bisa mengendalikannya. Ayah macam apa kau ini?"


"Jadi, menurut mu aku harus apa sekarang?" Hasan bertanya balik.


"Mana kehidupan bahagia yang kau janjikan itu hah?" Desi mengangkat wajahnya sombong, "Jika kita sampai terusir dari rumah ini, aku akan bilang pada Kiran jika kau lah penyebab Yeni meninggal!" ancam Desi.


"Jangan macam-macam kau Desi...!" sentak Hasan.


"Aku mau rumah ini, apa pun caranya aku mau rumah ini. Sebelum kita menikah, kau sudah menjanjikan ku rumah dan tanah yang luas ini dan pendidikan Sika. Jika kau tidak menepatinya, aku akan bilang semuanya pada Kiran."


"Dan kau jangan lupa akan kebaikan ku. Jika bukan aku yang memungut kau dan anak mu di jalanan, mungkin kalian tidak akan bisa makan dan tidur di tempat yang nyaman seperti ini."


"Kau sendiri yang berselingkuh dari Yeni. Jadi jangan menyalahkan ku!"


Sepasang suami istri ini malah beradu argumen, saling menyalahkan hingga membuat Sika merasa jengah kemudian memutuskan untuk pergi.


Tanpa sengaja Sika bertemu dengan Gama. Gama menawarkan tumpangan pada Sika, mereka kemudian pergi ke cafe terdekat.


"Kau yakin jika Kiran sejahat itu sekarang?" tanya Gama tidak percaya saat mendengar cerita Sika.


"Mau percaya atau tidak itu hak mu. Tapi, aku tidak menyangka saja jika Kiran bisa bersikap sejahat ini pada ayahnya."


"Om Marvel benar-benar membawa pengaruh buruk pada Kiran. Aku yakin jika om Marvel sudah mengguna-guna Kiran." Ucap Gama serius.


"Jangan mengada-ada kau Gama!" ujar Sika.


"Aku tidak mengada-ada. Dulu Kiran sangat membenci om Marvel bahkan sangat risih padanya. Logikanya, kenapa sekarang Kiran malah menempel pada om Marvel?"


Sika manggut-manggut tanda mengerti.


"Aku ingin bertanya satu hal pada mu. Tolong jawab yang jujur!" suara Sika terdengar serius, membuat Gama penasaran.


"Apa?" tanya Gama singkat.


"Apa kau menyukai Kiran?" tanya Sika membuat Gama terdiam, "kenapa kau diam saja?"


"Aku bingung ingin menjawab apa. Sebenarnya aku masih tidak rela jika Kiran menikah dengan laki-laki lain," ucap Gama membuat senyum Sika mekar.


"Itu tandanya kau menyukai Kiran. Gama, kau harus merebut Kiran dari Marvel. Aku tahu betul perjuangan yang selalu ada dalam membantu Kiran. Sangat jahat jika Kiran melupakan semua kebaikan mu padanya."


Sika mulai menghasut Gama.


"Apa kau rela melihat perempuan yang suka bahkan kau membantu setiap kesusahannya tapi dia lebih memilih bahagia dengan pria lain. Kalau aku sih, gak bakalan rela. Sebisa mungkin aku akan merebut orang yang ku suka itu."


Wajah Gama terlihat datar, pikiran mulai kemana-mana di tambah lagi Sika terus menghasut dirinya.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Gama sembari menghembuskan nafas pelan.


"Rebut Kiran, dia milik mu. Hanya kau yang berhak mengatur hidup Kiran. Terlalu banyak kebaikan yang kau beri pada Kiran, kau harus menuntut imbalan padanya." Sika semakin jauh menghasut.


"Kau benar, aku harus merebut Kiran. Akan sia-sia kebaikan ku selama ini jika Kiran tidak bisa ku dapatkan!" Ucap Gama yang sudah termakan hasutan Sika. Untuk yang kedua kalinya Gama masuk ke dalam hasutan Sika.


Sika tertawa puas di dalam hatinya, jika seperti ini ia tidak perlu bersusah payah dalam menghancurkan rumah tangga Kiran.


Jam menunjukan pukul dua siang, Marvel mengantarkan Kiran ke toko kue milik Fani karena Kiran tidak mau ikut kekantor.


Sedikit drama sebelum keluar dari dalam mobil. Minimal sepuluh ciuman harus mendarat di wajah Marvel.


"Sudah ku bilang cukur masih aja gak mau. Heran, suka sekali memelihara rumput di wajah!" Kiran mengomel.


"Rumput ini lah yang membuat suami mu bertambah tampan. Jika tidak, mana mungkin kau mati gaya di atas ranjang."


"Cium diri mu sendiri. Rasanya bibir ku seperti di tusuk jarum!"


Marvel bercermin.


"Udah ah, aku turun dulu!"


"Sekali lagi, cium mas dong sayang!" rengek Marvel.


Kiran menghembuskan nafas kasar, ini lah nikmat menikah dengan seorang duda yang haus akan kasih sayang.


"Mas pergi dulu, nanti sore mas jemput ya sayang mas."


"Hemm,...jangan nakal!" ucap Kiran dengan nada manja.


"Kamu juga jangan nakal. Jangan petakilan, jangan melirik pria lain."


Kiran hanya mengiyakan, ia kemudian masuk ke dalam toko kue.


Baru saja masuk, kening Kiran berkerut heran melihat wajah Fani yang lesu dengan mata yang sembab.


"Mbak Fani kenapa?" tanya Kiran penasaran.


Fani mengangkat wajahnya kemudian berdiri lalu memeluk Kiran dan menangis.


"Mbak, mbak Fani kenapa?" Kiran panik, terlebih lagi tangis Fani semakin sesegukan.


"Pertunangan ku batal. Bajingan itu lebih memilih menikah dengan anak bosnya," kata Fani yang tangisnya bertambah keras.


Kiran melepaskan pelukannya lalu berjalan ke arah pintu untuk membalik papan nama bertuliskan kata TUTUP.


Kiran mengambilkan Fani air minum, sebentar menenangkannya. Setelah di rasa tenang, baru lah Kiran bicara.


"Anggap saja dia bukan jodoh mbak Fani. Untung saja sebelum menikah dia sudah ketahuan selingkuh, jika sudah menikah bagaimana?"


"Tapi mbak sangat sakit hati. Tega sekali dia mengkhianati mbak," ucap Fani dengan suara paraunya.


"Udah, gak usah di pikirin mbak. ketahuan sekali jika dia laki-laki matre. Buktikan pada bajingan itu jika mbak Fani bisa mendapatkan laki-lak yang lebih baik dan juga kaya raya. Nanti aku akan bilang sama mas Marvel untuk mencarikan temannya yang kaya dan tampan untuk mbak."


"Bukan masalah kaya dan tampan. Selama ini mbak sudah terima dia apa adanya, kamu tahu sendiri bagaimana perjuangan mbak untuk mendapatkan restu dari orang tua mbak."


"Sabar mbak, udah gak usah sedih. Kapan dia akan menikah?" tanya Kiran.


"Minggu depan,...!" jawab Fani kembali menangis.


"Datang saja ke acara pernikahannya mbak," Ujar Kiran.


"Gak, mbak gak mau. Bikin sakit hati aja!" tolak Fani.


"Mbak datangnya jangan sendiri. Ajak pria lain, aku yakin bajingan itu akan cemburu!"


Fani mengusap air matanya lalu menoleh ke arah Kiran.


"Kau benar, jika dia bisa kenapa mbak gak bisa?"


"Ayo semangat untuk balas dendam mbak. Aku akan mendukung mbak Fani."


"Tapi siapa yang harus mbak ajak?" tanya Fani kembali lesu, "bajingan itu kenal semua teman-teman mbak."


"Tenang, ada mas bewok ku yang selalu bisa di andalkan!" ucap Kiran.


"Emangnya suami mu mau membantu mbak?" tanya Fani.


"Ya pasti mau. Jika tidak, akan ku pecahkan dua telurnya dan akan ku goreng bersama sosisnya!" canda Kiran membuat Fani tertawa.