
"Mau apa kau kemari?" tanya Hasan yang tidak suka atas kedatangan Marvel.
"Tidak untuk apa-apa. Apa anda sudah sadar dan berniat untuk meminta maaf pada Kiran?" Marvel bertanya balik.
Cuuuiiiih,........
Hasan meludah, senyumnya sinis dengan tatapan yang sombong.
"Aku orang tua, sampai mati pun aku tidak akan pernah meminta maaf pada anak durhaka itu," ucap Hasan yang masih keras kepala.
"Begitu kerasnya hati anda. Entah kebencian seperti apa yang anda rasakan untuk Kiran." Marvel bergeleng kepala mendengar ucapan mertuanya.
"Kiran sama seperti ibunya. Jujur, aku muak melihat wajah Kiran yang sangat mirip dengan ibunya. Perempuan yang sudah membuat hidup ku menjadi kacau."
"Rasa-rasanya, dari pada memiliki orang tua semacam anda. Lebih baik Kiran menjadi yatim piatu saja!"
"Kau lihat saja karma anak durhaka itu. Aku sumpahkan anaknya mati sebelum lahir," ucap Hasan benar-benar menyulut emosi Marvel.
Tak pandang itu mertuanya, Marvel dengan keras melayangkan pukulan ke wajah Hasan.
Hasan di hajar oleh Marvel, bahkan beberapa orang polisi yang berjaga kesulitan memisahkan mereka.
"Bisa-bisanya kau menyumpahi anak dan cucu mu sendiri. Orang tua jenis apa anda ini?"
Wajah Marvel sangar, menatap tajam ke arah Hasan yang wajahnya sudah babak belur di hajarnya.
"Masuk penjara bukanya sadar malah semakin kurang ajar. Aku bisa saja membebaskan anda bahkan membuat anda jauh lebih menderita," ucap Marvel yang geram sekali pada mertuanya.
Marvel meninggal Hasan yang saat ini sedang di obati lukanya oleh petugas. Hasan tak pernah menyangka jika ia akan di hajar oleh menantunya sendiri.
Marvel memutuskan untuk pulang, wajahnya kusut menahan emosi karena ia masih tidak terima dengan Hasan tadi.
"Mas, kamu dari mana?" tanya Kiran sedikit kesal karena sang suami pergi tanpa pamit.
"Ayah mu itu, di penjara bukannya sadar tapi malah semakin kurang aja."
"Kamu pergi ketemu ayah?" tanya Kiran lagi.
"Kamu itu loh mas, kok suka sekali datang menemui ayah. Aku yang anaknya saja malas bertemu dia."
"Mas hanya ingin ayah mu menyesal dan meminta maaf pada mu. Tapi, hatinya begitu keras!"
"Sudahlah mas. Jangan pedulikan ayah lagi. Dia saja sudah tidak menganggap ku sebagai anak."
"Bukan begitu maksudnya sayang. Tapi, mereka semua wajib meminta maaf pada mu. Mas hanya ingin mereka sadar aja."
"Biarin aja lah. Sekarang aku gak mau mikirin sesuatu yang bisa membuat aku sedih."
Marvel menghembuskan nafas pelan. Meskipun Kiran sudah berkata demikian, Marvel tetap ingin menuntut maaf untuk Kiran.
"Kamu ngapain?" tanya Marvel yang lagi-lagi di buat heran sama tingkah istrinya.
"Ya ngitung rambutan. Mana tahu tadi malam mas makan buah ku," jawab Kiran dengan santainya.
"Gak ada habisnya masalah rambutan. Heran deh," batin Marvel, "kalau gak di makan ya busuk dong sayang!"
"Jangan di makan. Ini terlalu lucu untuk di makan" ujar Kiran.
"Lucu mana sama punya mas kalau gundul?"
"Mas....!" Kiran mendelik, "bisa-bisanya nyambung ke sana."
"Ya gimana dong, bulatnya sama persis dengan punya mas!"
"Mas,.......!"
"Galak bener!" Seru Marvel.
"Mending kita bahas ayah ku yang gila aja deh kalau begitu!"
"Oh, tidak bisa. Ayo jawab, lucu mana sama punya mas?"
"Ya sama-sama lucu dan sama-sama di gantung," jawab Kiran membuat Marvel tertawa.