
"Tadi malam mas Marvel mendadak ingin makan soto daging mah," ujar Kiran memberitahu mamah Dona.
"Loh, terua bagaimana? Emangnya tengah malam ada yang jual?" Dona bertanya dengan polosnya.
"Oh, tentu ada dong mah. Dagingnya sangat empuk dan legit. Membuat ku ketagihan," kata Marvel sontak saja membuat mata Kiran liar memberi kode pada suaminya.
"Ah, masa sih? Di mana belinya? Mamah jadi pengen mencicipi soto daging itu. Kiran, di resto mana belinya?"
Kiran panik, ia mana mungkin berkata jujur jika soto daging yang di maksud suaminya adalah daging dia sendiri.
"Yang beli mas Marvel. Aku tidak tahu di apa nama restonya mah," bohong Kiran.
"Marvel berangkat kerja dulu mah. Nanti Marvel bungkusin deh soto dagingnya," ujar Marvel beranjak dari meja makan.
Marvel mengedipkan sebelah matanya, membuat Kiran benar-benar geram pada ulah suaminya.
"Karena Marvel hari ini gak bisa antar kamu cek kandungan, gak apa-apakan perginya sama mamah?"
"Kiran malah senang pergi sama mamah. Kalau sama mas Marvel agak ribet."
"Kamu ini bisa aja. Ya udah, mamah siap-siap dulu."
Dona dan Kiran bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Untuk bulan ini Marvel tidak bisa menemani Kiran cek kandungan di karena ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinggal.
Mereka berdua pergi dengan di antar supir, mamah Dona sangat antusias pada kehamilan Kiran mengingat anak Kiran dan Marvel adalah cucu pertamanya.
"Kamu ingin makan apa siang ini Kiran?" Tanya mamah Dona.
"Sebenarnya Kiran gak pengen makan apa-apa mah. Cuma, ada satu hal yang ingin Kiran lakukan."
"Apa itu?" Tanya Dona penasaran.
Merasa tidak enak mengatakan depan supir, Kiran membisikan pada Dona. Dona yang mendengar hal tersebut sontak tertawa geli.
"Kamu ini ngidamnya ada-ada aja deh Kiran. Sakit perut mamah tertawa."
"Habisnya aku gemes mah lihatnya. Gimana dong?"
"Untuk bumil semuanya harus di kabulkan. Kamu tenang aja, nanti mamah akan meminta Marvel pulang cepat."
Kurang lebih satu jam berkonsultasi, akhirnya selesai juga.
"Sehat-sehat cucu oma," ucap Dona sembari mengusap perut Kiran yang terlihat membuncit.
"Loh, mamah Dona. Hai.....!" Sapa Jessi membuat Dona terkejut.
"Ngapain kamu di sini?" Tanya Dona ketus.
"Aku menjenguk teman ku yang sakit. Mamah Dona ngapain di rumah sakit? Dan.....!"
"Mengantarkan menantu kesayangan cek kondisi kandungan. Minggir, kami mau pergi."
"What,.....? Marvel sudah menikah lagi dan sekarang istrinya hamil?"
"Kenapa memangnya?" Dona menatap sinis pada Jessi.
"Gak kenapa-kenapa. Kok Marvel mau sama perempuan modelan seperti ini?"
"Wah mbak, jaga tuh congor. Emangnya situ ok?" Kiran menyahut, ia tidak terima saat di rendahkan Jessi.
"Hidiih,...memang aku dong kemana-kemana!" Sahut Jessi.
"Yang penting setia. Gak selingkuh sama suami orang! Ayo mah!" Kiran menyinggung Jessi. Kiran tahu cerita tentang Jessi dari Marvel, untung saja Marvel pernah menceritakan sebab apa dia menjadi duda, agar kedepannya mereka tidak memiliki kesalahan pahaman dalam bentuk apa pun.
Jessi mengepalkan kedua tangannya, ia tidak terima di katai oleh Kiran.
"Sayang, kau kenapa?" Tanya suami Jessi yang sebelumnya suami dari sahabatnya sendiri.
"Tidak kenapa-kenapa. Ada yang menabrak ku tadi." Bohong Jessi.
"Jangan coba-coba bermain di belakang ku Jessi. Aku bisa saja melenyapkan hidup mu," bisik pria tersebut penuh dengan ancaman.
"Tidak dong sayang. Aku hanya milik mu!"
Pria tersebut merangkul pinggang Jessi kemudian mereka pergi dari rumah sakit. Jika sudah begini, Jessi tidak akan berani bertingkah lagi.