
"Mamah gak ada niatan mau nikah lagi gitu?" tanya Marvel membuat sang mamah tersedak teh panas yang sedang di seruputnya pagi ini.
Uhuk....uhuk....
"Marvel...!" sentak Dona, "kamu ini ngomong apa hah?"
"Bukan Marvel mah, ini si Kiran yang punya ide," ujar Marvel sambil menunjuk istrinya.
"Loh kok aku mas?"
Kiran panik.
"Kalian berdua ini sama saja. Sudah ah, ayo antar mamah ke bandara sekarang."
Dona beranjak dari meja makan.
"Mah,...!" Marvel memanggil mamahnya.
"Iya, ada apa?" tanya Dona masih kesal.
"Mamah serius gak ada niatan menikah lagi?" sekali lagi Marvel bertanya.
"Sekali lagi kamu bertanya seperti itu, mamah setrika otak mu yang nakal itu." Dona geram sendiri.
Kiran menelan ludahnya kasar, ia hanya bercanda tadi malam untuk sekedar menggoda suaminya tapi kenapa Marvel menganggapnya serius.
"Suami istri sama saja. Sama-sama menyebalkan. Kiran,....kamu jangan mau di cuci otak mu sama Marvel yang gila itu."
"Iya nih mah, mas bewok ini suka sekali menindas ku," adu Kiran.
Mata Marvel melotot tidak terima.
"Mertua dan menantu sama saja!" ucap Marvel kesal.
Tak berapa lama Marvel dan Kiran pergi untuk mengantar mamah Dona bandara. Dari bandara, Kiran dan Marvel mampir sebentar ke toko kue milik Fani.
"Wah, bukanya kerja malah pacaran. Haruskah aku memecat mu?"
Suara Marvel sangat mengejutkan Jeff yang saat ini sedang asyik bercanda dengan Fani.
"Bos....!"
Wajah Jeff terlihat sangat gugup.
"Hanya mampir sebentar bos!" ucap Jeff mencari alasan.
"E-enggak,...gak kok. Kami hanya berteman. Tanya aja sama Jeff."
Wajah Fani memerah, malu dengan pertanyaan yang di berikan Kiran.
"Kembali ke kantor atau kau aku pecat sekarang juga!" titah Marvel sembari mengeluarkan kata ancamannya.
"B-baik bos.....!!"
Dengan langkah seribu Jeff langsung keluar dari toko kue. Tak berapa lama Marvel ikut menyusul Jeff yang sudah lebih dahulu kembali ke kantor.
"Suami mu itu kenapa sih? suka sekali mengancam orang!" Fani kesal.
"Harap maklum mbak, aku juga kadang-kadang kesal sama dia."
"Ngomong-ngomong, tumben siang-siang ke sini. Kamu ada masalah lagi?" tanya Fani penasaran.
"Gak ada sih. Di rumah sepi, mamah pergi liburan ke luar negeri."
"Gimana kabar ayah mu, sekarang tinggal di mana mereka?"
"Gak tahu juga mbak," jawab Kiran lesu, kemudian ia menarik nafas panjang.
"Ajak ayah mu bertemu, kalian berdua saja. Kau dan ayah mu bisa bicara baik-baik, biar bagaimana pun dia tetap ayah mu."
"Aku masih menganggapnya sebagai orang tua. Tapi, sikapnya selalu saja menyakiti perasaan ku. Entah kenapa ayah selalu membela kedua siluman itu."
"Kenapa kau tidak bertanya langsung pada ayah mu?"
"Sudah bosan rasanya aku bertanya. Ayah seperti menyembunyikan sesuatu dari ku. Tapi, setiap kali aku bertanya ayah selalu marah."
"Seharusnya kau menyelidiki hal seperti itu. Ayah mu sangat mencurigakan, dia selalu membela kedua siluman itu."
"Entahlah, terserah mereka!" ucap Kiran yang sudah lelah.
"Itu gimana ceritanya sih, kok ayah mu bisa menikah dengan tante Desi?" tanya Fani penasaran.
"Katanya sih teman lama ibu, tapi aku kok gak yakin!"
"Kau harus benar-benar menyelidiki masa lalu mereka. Aku yakin pasti ada sesuatu yang di sembunyikan ayah mu."
"Mbak Fani malah membuat ku penasaran," ucap Kiran.
Kiran mulai kepikiran apa yang baru saja di ucapkan Fani. Ia juga merasa janggal dengan kehidupan keluarganya selama ini yang bahkan sampai sekarang ayah Kiran tidak pernah memberitahu apakah Kiran masih ada saudara dari keluarga ibunya ataupun keluarga ayahnya.