Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 107


"Terimakasih sudah membantu ku," ucap Marvel pada saudara sepupunya.


"Sama-sama kak," ucap Erma. "Ngomong-ngomong, mau di apakan mantan istri mu ini?" Tanya Erma.


"Jika kita membebaskannya begitu saja dia akan kembali merusak kebahagiaan keluarga orang banyak. Masukan saja dia ke rumah sakit jiwa." Titah Marvel.


"Kakak yakin?" Tanya Erma.


"Sangat yakin. Lagian, jika kita membunuhnya itu artinya selesai sampai di sini saja. Jangan lupakan jika dia sudah membuat banyak perempuan dan anak-anaknya menangis akibat kebahagiaan mereka di rusak oleh Jessi."


"Baiklah kalau begitu kak. Darwin akan mengurus si biawak itu."


Marvel mengiyakan, pria yang tampak gagah di luar rumah dan lembek di dalam ini memutuskan untuk pulang.


"Mas, ngantar mamah kok lama banget. Mampir kemana aja?" Tanya Kiran dengan wajah cemberut.


"Mampir sebentar ke kantor sayang," jawab Marvel yang terpaksa bohong.


"Yang bener?, masa?" Kiran curiga.


"Masa mas bohong sama istri sendiri?, nanti kualat. Mas gak mau bohong!"


"Awas loh mas, nanti ke makan sama omongan sendiri."


"Pegang aja omongan mas sayang!"


Kiran hanya mengiyakan meski ia tahu dari mimik wajah suaminya ini sudah pasti berbohong.


Siang telah berganti malam, Kiran baru saja menidurkan baby Joe. Saat ia ingin tidur, Kiran melihat suaminya yang sedang gelisah seperti menahan sesuatu.


"Mas, kamu kenapa?" Tanya Kiran heran.


"Gak kenapa-kenapa kok sayang!" Jawab Marvel.


"Jangan bohong. Aku lihat sejak tadi mas menggaruk terus. Itu burung kenapa?, habis main sama siapa?, mas pasti selingkuh ya?"


"Gak, mas gak ada selingkuh apa lagi main sama perempuan. Ini cuma alergi sama sabun aja kali."


"Aku gak percaya!" Seru Kiran, "jujur sama aku. Apa yang udah mas sembunyiin sama aku selama ini?"


Mata Kiran mulai berkaca-kaca, sebagai seorang istri ia juga takut jika suaminya ada main dengan perempuan di luar sana.


"Tapi itu kenapa burung di garuk terus?, mas ingat gak kata-kata mas tadi sore?"


Huft,......


Marvel menghela nafas pelan, seketika ia ingat akan ucapannya tadi sore.


"Jujur gak sama aku atau aku pergi sama Joe!" Ancam Kiran.


"Jangan tinggalin mas sayang. Iya, mas kualat sama kamu. Maa minta maaf!"


Kiran menangis, ia selalu menepis tangan suaminya saat akan menyentuh dirinya.


"Sayang, jangan nangis. Iya, mas akan cerita. Tapi kamu jangan marah, janji dulu."


"Aku bisa memaafkan kesalahan yang lain kecuali perselingkuhan," ucap Kiran dengan tegas.


Huuuh.......


Marvel membuang nafas kasar. Pria ini kemudian menceritakan tentang Jessi yang selama ini di rahasiakan oleh Marvel.


Kiran yang mendengar cerita suaminya hanya bisa terdiam. Ia sendiri bingung ingin berkomentar apa karena masalah Jessi tidak ada urusan dengan dirinya.


"Kok kamu diam?, kamu marah sama mas?" Tanya Marvel khawatir.


"Aku tidak ingin berkomentar apa pun. Jessi adalah mantan istri mu dan dia tidak ada hubungannya dengan ku. Dia hanya masa lalu mu, tapi aku masa depan mu!"


Huft,......


Marvel membuang nafas lega, pria ini mengusap lembut rambut panjang istrinya kemudian mengecup kening Kiran.


"Selama ini mas rahasiakan karena mas gak mau kamu berpikir yang tidak-tidak. Kalau beginikan mas jadi lega."


"Iya mas. Kalau beginikan aku gak curiga lagi sama mas. Tapi, ngomong-ngomong apa burung mas masih gatal?" Tanya Kiran sambil melirik ke bawah.


"Iya nih, masih gatal. Garukin dong sayang!"


Mulailah Marvel merengek, mencari kesempatan dalam kesempitan. Jika bisa setiap malam, kenapa harus ada kata absen, begitu pikir Marvel.