
Bisa-bisanya Kiran makan bakso sambil mendengarkan lagu dengan judul ngidam pentol. Sekurang-kurangnya Marvel hanya bisa menebalkan wajah demi menuruti ke ingin sang istri.
"Mas, aku sudah kenyang." Ujar Kiran.
"Iya sayang. Mas bayar dulu ya!"
Marvel membayar untuk dua mangkuk bakso yang di makan istrinya. Setelah membayar mereka langsung pulang karena malam semakin larut.
"Mas, aku capek!"
Kiran menatap lesu tangga rumah Marvel.
"Ayo mas gendong!"
Marvel langsung menggendong istri menuju kamar.
"Aku berat loh mas. Emang pinggang mas gak sakit?"
"Demi istri di larang sakit," jawab Marvel membuat Kiran gemas dan langsung mencium pipi suaminya.
Marvel menurunkan Kiran di atas tempat tidur. Pria ini juga menyiapkan pakaian ganti untuk sang istri bahkan menemani istrinya untuk gosok gigi dan membersihkan riasan di wajah.
"Sekarang istirahat ya, kamu pasti capek."
"Peyuuuuk,......!" rengek Kiran.
"Sekarang nempel dulu aja di kejar gak mau," ucap Marvel yang suka mengungkit.
"Apa sih mas?, nakal!" Kiran menarik bulu kaki suaminya.
"Suka banget gitu loh narikin bulu, mending narikin belut nih!"
"Iiih,....geli....!"
"Geli bikin nagih!" seru Marvel.
"Udah ah, mau tidur nih!"
"Iya...iya...ayo tidur!"
Hampir setiap malam Marvel harus rela lengannya pegal dan keram karena Kiran selalu tidur dengan berbantalkan lengan suaminya.
Jessi sengaja bergantung di jeruji besi tersebut menggunakan celana panjangnya.
"Brengsek!" umpat Jessi, "sudah leher ku sakit malah gagal. Marvel sialan!"
"Teruslah mengumpat Jessi," ucap Erma mengejutkan Jessi, "kak Marvel akan membebaskan itu pun di antara dua pun. Menyusul Bram atau kau di buang ke negera terpencil," ujar Erma dengan senyum sinisnya.
"Perempuan sialan!" umpat Jessi, "kalau berani jangan berdiri di sana, sini lawan aku!" tantang Jessi.
"Aku tidak suka main kasar Jes, aku lebih suka bermain lembut. Apa kau ingin beradu fisik?" tanya Erma.
"Sini kau kalau berani...!" lagi-lagi Jessi menantang.
"Sebentar!" ujar Erma kemudian keluar.
Tak berapa Erma keluar, seorang pria masuk ke dalam. Pria hitam bertubuh besar dengan brewok yang lebat membuat Jessi takut.
"Mau apa kau?" tanya Jessi panik.
Pria tersebut malam menutup pintu dan menguncinya.
"Mau apa kau?" Jessi mundur ke belakang saat melihat pria tersebut melepas pakaiannya.
"Kau bilang ingin beradu fisik. Mari kita beradu fisik sayang," ucap pria tersebut dengan tawa lantangnya.
Jessi semakin ketakutan, ia memang pemain, tapi bukan laki-laki seperti ini yang di inginkan Jessi.
"Pergi kau...!" Teriak Jessi, "brengsek kau Erma...!" umpat Jessi yang kala itu tak bisa melawan.
Pria tersebut memiliki tenaga yang sangat kuat, ia merobek semua pakaian Jessi lalu menikmati tubuh wanita itu dengan rakus.
Jessi hanya bisa nenangin, tubuhnya sakit di pukul saat melawan. Setelah puas, pria tersebut langsung berganti pakaian.
"Bagaimana, apa rasanya sama seperti di ranjang?" tanya pria tersebut.
Jessi tak menjawab, ia bisa merasakan jika rasa ini yang dia rasakan. Jessi telah di bodohi, ia pikir selama ini Darwin sebagai suaminya yang sudah menikmati tubuhnya ternyata pria lain.
Darwin dan pria tersebut sama-sama memiliki brewok dan tubuh besar tapi setidaknya Darwin jauh lebih tampan dari pada pria tersebut.
Setiap kali Jessi ingin berhubungan badan, Darwin akan menutup mata Jessi dengan kain dan juga mematikan lampu. Di saat lampu mati tersebut Darwin dan pria tersebut akan bertukar tempat. Bahkan pria tersebut menggunakan parfum yang sama seperti Darwin agar Jessi tidak merasa curiga.