
Braaakk......
Hasan menggebrak meja yang berada di ruang tamu saat Kiran memintanya untuk keluar dari rumah yang selama ini di tempati Hasan, Desi dan Sika.
"Dasar anak durhaka!" Hasan menghardik anaknya sendiri, "aku juga punya hak atas rumah ini. Apa suami mu itu tidak sanggup memberikan mu rumah sehingga kau kekeh mengusir kami dari rumah ini?"
Suara Hasan keras, membuat para tetangga dekat merasa penasaran apa yang sudah terjadi sekarang. Beberapa ibu-ibu tukang gosip mulai sibuk berpura-pura menyapu di depan rumah bahkan ada yang sengaja membersihkan halaman di siang bolong.
"Suami ku sangat mampu bahkan dia bisa membangunkan ku istana. Tapi, rumah ini memang hak ku. Jadi, suka-suka aku lah!" sahut Kiran dengan santainya.
"Kalau suami bisa memberi mu istana, lalu kenapa kau masih mengemis rumah ini hah?" ujar Sika dengan tatapan sinisnya.
"Aku tidak mengemis, ini rumah ku. Sedangkan kau hanya menumpang di rumah ini. Berkaca lah!" Kiran mengejek Sika.
"Pergi kau!" usir Hasan.
"Anda dan anak istri anda ini yang seharusnya pergi, bukan aku!" sahut Kiran dengan berani.
"Kiran,.....!" Hasan mengangkat tangannya hendak menampar wajah Kiran.
Mata Kiran menyipit lalu ia melipat kedua tangannya.
"Ayah bisa tinggal di rumah ini asal ayah mau menceraikan perempuan durhaka ini," ucap Kiran dengan suara datar.
"Jangan sembarangan kau kalau ngomong Kiran!" bentak Desi, "ayah mu sangat mencintai aku, mana mungkin dia mau menceraikan ku."
"Anak macam apa kau ini yang tega berkata seperti itu hah?" Hasan mulai naik pitam.
"Kalau begitu keluar dari rumah ku sekarang!" titah Kiran yang sudah tidak peduli lagi pada ayahnya.
"Kau yang harus pergi, bukan kami," sahut Hasan keras kepala.
Mau tidak mau Kiran memanggil beberapa anak buah Marvel yang sejak tadi sudah menunggu di luar.
Hasan, Desi dan Sika terkejut saat melihat beberapa orang bertubuh besar masuk ke dalam rumah.
"Usir mereka!" titah Kiran.
"Siap bos!"
Tanpa rasa iba dan kasihan, anak buah Marvel langsung menyeret ketiga orang tersebut keluar dari dalam rumah.
Kehebohan pun mulai terjadi, sumpah serapah mereka terus terlontar untuk Kiran. Kiran tidak peduli, rasa untuk keluarganya telah mati sejak ayahnya tidak pernah peduli padanya.
Beberapa tetangga hanya sibuk menjadi penonton untuk di jadikan bahan gosip nanti.
Setelah menyeret Hasan dan Desi juga Sika, anak buah Marvel langsung menggembok pintu rumah tersebut.
"Almarhum ibu mu pasti menangis melihat kelakuan jahat mu ini Kiran," ucap Hasan membuat Kiran tertawa.
"Almarhum ibu ku sedang tertawa bahagia karena anak kesayangannya ini sudah berhasil merebut haknya. Aku adalah anak kandung ayah, tapi aku sangat heran kenapa ayah ku sendiri lebih memilih orang lain dari pada anaknya sendiri. ada apakah?"
Mendadak Hasan terdiam mendengar pertanyaan dari Kiran.
"Jalan pak!" titah Kiran pada supirnya.
Hasan tak dapat berbuat banyak, apalagi anak buah Marvel masih berada di sana menjaga rumah tersebut.
"Lihat sekarang, kita mau tinggal di mana hah?" Desi mulai menekan Hasan.
"Makanya, sama anak itu harus bersikap baik. Kalian yang menyakiti tapi malah merasa paling tersakiti. Lucunya!" ujar salah seorang tetangga.
"Aku sih dukung Kiran!" seru salah seorang.
"Iya,aku juga!"
Hasan dan Desi hanya bisa terdiam, wajah mereka seperti di lempar kotoran.
Sementara itu, Kiran yang baru saja tiba di rumah langsung mengistirahatkan hati dan fisiknya yang sangat lelah. Ancaman untuk sang ayah tidak mempan, Hasan lebih memilih Desi dan Sika dari pada dirinya.
Krek.....
Marvel membuka pintu, masuk kedalam kamar lalu menghampiri istrinya.
"Sudahlah, jangan di pikirkan. Sudah seharusnya ayah mu di beri pelajaran!" ucap Marvel yang sangat geram saat mendengar laporan dari anak buahnya.
"Ya aku heran aja, kenapa ayah lebih memilih mereka dari pada aku anak kandungnya sendiri."
"Biarin aja, nanti juga nyesal sendiri."
"Mas, aku boleh ngomong sesuatu gak?"
"Ngomong apa sayang mas?" Marvel bertanya balik.
Kiran membisikan sesuatu, entah apa yang ia minta tapi Marvel langsung mengiyakannya.
"Makasih mas, suami ku memang bisa di andalkan!" ucap Kiran senang.
"Sayang mas dulu,"
Muaach....
Kiran memberikan satu kecupan di bibir suaminya.