
"Cantiknya istri mas ini," puji Marvel pada Kiran yang mengenakan gaun berwarna navy.
"Tapi badan ku gendutan loh mas!"
"Tapi kamu cantik sayang. Aaaaah,....tuh kan bangun!"
"Apanya bangun mas?" tanya Kiran sok polos.
"Anu, perkutut!" Seru Marvel, "main sekali yuk!" bisik Marvel.
"Udah cantik udah rapi gini masa mau di ancurin sih mas?" protes Kiran.
"Sekali aja. Janji keluar di luar!" Marvel merengek.
"Mas, iiiih.....ada-ada aja deh!"
"Main sekali atau kamu mau lihat timun mas bangun terus?"
Huft......
Kiran menghembuskan nafas kasar, mau tidak mau sebelum pergi ke pesta pernikahan Jeff dan Fani ia harus melayani suaminya terlebih dahulu. Perut besar bukan jadi penghalang, Marvel bisa melakukannya.
"Iya. Ayoooo!"
"Asyik,....makan malam," ucap Marvel kegirangan.
Marvel mulai melepaskan gaun yang di kenakan sang istri, tubuh mulus membulat semakin membuat hasrat Marvel memuncak.
Hanya bermain lima menit, Marvel sudah menyelesaikannya. Pria ini membantu sang istri membersihkan diri sebentar lalu menunggu Kiran mengenakan pakaian kembali.
"Kenapa kamu mas?" tanya Kiran heran.
"Ya segar aja, baterai mas sudah di cas."
"Kamu ini ada-ada saja!" seru Kiran.
Mereka kemudian bergegas pergi ke pesta pernikahan Jeff dan Fani. Butuh waktu dua puluh menit menuju gedung pernikahan.
Setibanya di sana, suasana sudah sangat ramai. Marvel dan Kiran terlambat.
"Bos, kemana aja baru datang?" tanya Jeff.
"Gak kemana-mana. Aku dan Kiran membuat ranjang kami bergoyang terlebih dahulu baru kami datang ke sini," jawab Marvel membuat Kiran malu mendengarnya.
"Ranjang bergoyang?, memangnya ranjang kalian rusak?" tanya Fani dengan polosnya.
"Kenapa malu?" tanya Jeff yang sama-sama polos, "kalau ranjang kalian rusak kan bisa ganti baru. Duit bos itu banyak, masa gak sanggup ganti ranjang baru?"
Kiran dan Marvel saling pandang bingung karena Jeff dan Fani tidak paham dengan apa yang mereka maksud.
"Nanti, akan ku jelaskan tentang ranjang." Bisik Marvel pada Jeff.
"Serius bos?"
"Hanya kita berdua. Lanjutkan saja acara mu, aku dan Kiran mau duduk dulu."
Marvel pun mengajak Kiran duduk di meja paling depan sambil menikmati acara yang tengah berjalan.
"Gak nyangka ya mas kalau mereka akhirnya menikah juga," ucap Kiran.
"Namanya jodoh, mau bagaimana lagi?"
"Pulangnya dari sini kita makan bakso yuk mas," ajak Kiran.
"Iya sayang."
"Bakso gerobakan aja mas. Aku lagi pengen makan bakso gerobak."
"Perasaan tadi sudah makan bakso. kamu lapar lagi kah?"
"Bakso apa mas?" tanya Kiran heran, "perasaan aku udah lama gak makan bakso."
"Itu tadi bakso mas, dua pentol yang sampai kamu tua pun tidak akan habis!"
"Mas.....!" Kiran mencubit lengan suaminya, "bisa-bisanya di tempat ramai seperti ini bahas begituan."
"Ya kenapa?, biar aja di dengar orang. Toh mereka punya pentol sendiri."
"Mas....malu iiih.....!"
Untung saja tidak ada yang mendengarkan percakapan Marvel dan Kiran karena di dalam gedung ini semua orang sangat menikmati acara demi acara.
"Mas, ayo....aku pengen makan bakso!" Kiran mengajak suaminya.
"Iya, kita pamit sama Jeff dan Fani dulu ya."
Marvel dan Kiran kembali naik ke atas pelaminan untuk berpamitan dengan Jeff dan Fani.
Dari acara pernikahan, Marvel langsung berkeliling untuk mencari abang bakso yang berjualan keliling menggunakan gerobak.