Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 108


"Kalau mau anak bikin sendiri. Enak aja mau minjam anak ku!" Marvel memeluk erat anaknya saat Fani dan Jeff ingin meminjam Joe untuk bawa jalan-jalan.


"Ya ampun bos. Pelit banget! Pinjam setengah hari aja gak boleh!"


"Mas, kasih pinjam ama si Joe sama mereka. Kita bisa main kuda-kudaan loh!" Bisik Kiran membuat mata Marvel terbelalak.


"Boleh, tapi awas. Jangan sampai lecet sedikit pun," ujar Marvel sembari menyerahkan baby Joe pada Fani.


"Hati-hati ya mbak," ucap Kiran tersenyum lebar.


Fani dan Jeff pun akhirnya pergi jalan-jalan membawa baby Joe. Dengan senyum lebar Selebar daun keladi, Marvel langsung merangkul pinggang istrinya mengajak masuk ke dalam kamar.


"Mas mandi sebentar ya sayang. Biar lebih wangi, biar kamu betah main siang ini." Ujar Marvel bergegas pergi ke kamar mandi.


Tak berapa lama Marvel keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut yang masih basah dan handuk membalut setengah tiang yang hanya menutupi anu nya saja.


"Sayang, baju dinasnya di pakai dong. Biar lebih greget," ucap Marvel.


"Mending tidur aja mas!" Sahut Kiran.


"Loh, kok tidur? Kenapa?" Tanya Marvel heran.


"Aku baru saja datang bulan, main kuda-kudaannya kita tunda satu minggu ya."


Senyum lebar Marvel mendadak layu, pria ini duduk lesu di atas tempat tidur.


"Jadi, mas mandi pakai sabun dan sampo setengah botol untuk apa dong?"


"Bukan salah ku juga, namanya perempuan. Sudah fitrahnya begitu. Lagian, kamu ini kalau urusan ranjang aja maju paling depan."


Marvel berguling-guling di atas tempat tidur. Jujur saja, sejak mandi tadi si anu sudah mengeras.


"Mas, kita nyusulin Joe aja yuk!" Ajak Kiran.


"Sayang,....!" Rengek Marvel sambil menatap wajah istrinya dengan wajah melas.


"Ya mau bagaimana lagi mas?"


"Sayang, kamu makan es krim aja ya!" Bujuk Marvel yang tak mau rugi.


"Mas,......!"


"Ya udah gak jadi. Kita nyusulin Joe aja. Mas ganti baju dulu!"


Kiran langsung mengusap dadanya lega, mana mau dia makan es krim yang bisa membuat dirinya sesak nafas.


Marvel dan Kiran pun akhirnya pergi menyusul anaknya.


"Mas, sayang gak sama aku?" Tanya Kiran iseng.


"Sayang dong. Kalau gak sayang ngapain mas nunggangin kamu setiap malam?"


"Bahasa mu itu loh mas. Beeeh,...tidak mencerminkan seorang bos sama sekali."


"Di kantor dan rumah itu beda sayang. Di luar seorang suami harus menutup mata, mulut dan telinga untuk perempuan lain. Beda kalau di rumah, harus di buka lebar apa lagi sama istri."


"Pikiran kamu gak jauh dari situ mas. Kamu dulu sekolah jurusan apa sih?"


"Jurusan peranjangan!" Jawab Marvel dengan gelak tawanya.


Kiran hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Marvel dan Kiran akhirnya sampai juga di mall. Mereka langsung mencari Fani dan Jeff yang ternyata sedang asyik memilih mainan.


"Bos, takut banget anaknya kenapa-kenapa. Rela nyusulin sampai sini juga," ucap Jeff sedikit kesal.


"Jaga mulut mu Jeff. Ayo kita duduk di sana!" Ajak Marvel yang membiarkan istrinya memilih mainan dengan Fani dan juga anaknya. "Selama menjadi suami, apa keluhan mu Jeff?" Tanya Marvel.


"Anu bos, tidak bisa di jelaskan. Istri mah ratu dari segala ratu, dia yang salah malah kita yang di salahkan."


"Sama saja ternyata!" Seru Marvel.


"Sama itu juga bos, suka kesal sama tamu bulanan yang membuat kita harus absen."


Marvel melengos, ucapan Jeff barusan seperti mengejek dirinya sekarang.