
"Kau akan menyesal Kiran. Kau akan menyesal seumur hidup mu karena kau lah ayah meninggal," ucap Sika dengan lantang.
"Aku tidak akan pernah menyesal. Ayah meninggal karena dia termakan doanya sendiri. Lihatlah Sika, Tuhan tahu mana yang baik dan salah." Sahut Kiran dengan santai.
"Anak dan ibu sama saja. Kalian sama-sama menghancurkan hidup ku. Kalau ku tahu kau pembawa petaka, seharusnya aku sudah membunuh mu dari dulu," ujar Desi dengan tatapan tajam penuh kebencian pada Kiran.
"Oh ya...?" Kiran tersenyum sinis, "jangan mendoakan orang lain sembarangan jika kalian tidak ingin berbalik pada diri kalian sendiri."
Kiran melangkah ke luar, Sika dan Desi hanya bisa mengumpat marah dan dendam pada Kiran.
Sejujurnya, Kiran sendiri bingung ingin bersikap seperti apa sekarang. Ayahnya meninggal dan sekarang dia yatim piatu.
Bug,......
Kiran menutup pintu mobil.
Huft,......
Ia membuang nafas kasar.
"Kenapa?" tanya Marvel.
"Entah kenapa mereka tidak pernah menyesal atas kesalahan mereka sendiri dan selalu menyalahkan aku?"
"Tidak usah di pikir. Sebaliknya kita pulang, Joe sudah menunggu Kita."
Marvel menghidupkan mesin mobilnya kemudian pergi meninggal kantor polisi.
"Aku bingung," ujar Kiran membuat Marvel heran.
"Bingung kenapa sayang?"
"Ayah ku meninggal. Tapi, aku tidak tahu harus merasa senang atau sedih? Sejak kecil aku tidak pernah di perhatikan apa lagi mendapatkan kasih sayang. Entah kenapa aku merasa biasa saja!"
"Mas juga bingung mau komentar apa. Ya sudah, gak usah di pikirin."
Pak Hasan meninggal, tapi tak ada air mata yang keluar dari mata Kiran. Berusaha untuk sedih namun tetap saja Kiran merasa biasa saja. Entah hatinya yang telah mati atau memang ia sudah terbiasa hidup sendiri tanpa ayahnya.
Waktu berlalu, satu bulan kemudian. Kehidupan rumah tangga Kiran berjalan seperti biasanya tanpa ada gangguan. Kesibukan sehari-hari Kiran mengurus anak dan suaminya.
Marvel juga sudah pergi ke kantor setiap hari. Bagaimana tidak, jika ia berada di rumah bawaannya sedih dan tak bisa menahan hasratnya pada sang istri karena sampai sekarang mamah Dona masih tidur di kamar Marvel dan Kiran untuk menjaga hal yang tidak di inginkan.
"Bos. Ini ada berkas yang harus di tanda tangani," ujar Jeff memberitahu sambil menyodorkan beberapa tumpukan berkas.
"Kenapa banyak sekali?" Tanya Marvel kesal, "aku ini bos mu bukan pembantu mu!"
Dahi Jeff berkerut heran, sedang kerasukan apa bosnya ini.
"T-tapikan,....bos adalah bos di perusahaan ini. Jika tidak di tanda tangani, bagaimana karyawan bos akan bekerja?"
Huft......
Marvel menghembuskan nafas kasar, tanpa banyak kata ia langsung menandatangani berkas tersebut.
"Sudah. Puas?" Ungkapnya.
"Bos ini kenapa sih?" tanya Jeff heran.
"Kau tanya lagi kenapa?, sudah satu bulan aku tidak memasukan pensil ku ke dalam botol. Rasanya menjengkelkan sekali...!" Ucapan Marvel membuat Jeff bingung.
"Pensil dan botol?" Jeff semakin heran. "Gimana sih bos maksudnya?" Jeff yang polos pun bertanya lagi.
Marvel mendongakkan wajahnya, menatap tajam ke arah Jeff.
"Kau ini selama menikah apa saja yang kau lakukan hah?" Tanya Marvel kesal.
"Ya berumah tangga bos. Hidup bersama dengan Fani," jawab Jeff benar-benar bodoh.