Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 87


"Mas, kamu kenapa lagi?" tanya Kiran yang bingung karena sejak tadi Marvel bolak balik ke kamar mandi.


"Perut mas dan pinggang mas sakit lagi sayang," jawab Marvel yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Aku antar ke rumah sakit ya mas?, perasaan kamu sejak kemarin ngeluh sakit mulu."


"Gak usah, mas baik-baik aja kok. Cuma, mas pengen makan sesuatu."


"Makan apa mas?"Kiran bertanya.


Belum sempat Marvel menjawab, mbok Rumi mengetuk pintu kamar dan mengatakan jika sarapan pagi sudah siap.


Marvel dan Kiran bergegas turun untuk sarapan.


"Nah, ini dia pesanan ku. Terlihat enak," ucap Marvel sambil memandang semangkuk bubur ayam di atas meja.


Kiran yang melihat bubur tersebut hanya bisa tercengang.


"Mas, kamu makan bubur kok sama es batu?" tanya Kiran heran.


"Gak tahu lah sayang. Tiba-tiba mas pengen makan bubur ayam di campur es batu."


"Setidak wajarnya ngidam Kiran. Lebih tidak wajar lagi ngidamnya Marvel," ucap mamah Dona.


"Aku gak ngidam loh mah. Cuma pengen aja!" protes Marvel.


"Hidiiih, apa bedanya?" mamah Dona bertanya.


"Perasaan gak ada bedanya deh mah," sahut Kiran.


"Ini kok aneh sekali ya, sakit perut dan sakit pinggang mas hilang setelah makan bubur ini," ucap Marvel.


"Ada-ada aja!" seru mamah Dona sambil bergeleng kepala, "kamu gak usah berangkat ke kantor lah Vel. Di rumah aja temani Kiran."


"Iya mah. Mulai aku akan bekerja dari rumah tapi setelah Jeff dan Fani menikah."


"Kapan mereka menikah?" tanya mamah Dona.


"Besok, hari minggu." Jawab Marvel.


"Oh, ya udah. Minggu depan kita akan belanja perlengkapan melahirkan untuk Kiran," ujar mamah Dona memberitahu.


"Iya mah," jawab Marvel dan Kiran bersamaan.


Selesai sarapan Marvel menemani Kiran duduk di taman belakang. Menikmati sepiring kue donat dan segelas jus apel.


"Jangan kebanyakan makan donat sayang," ucapan Marvel membuat Kiran bingung.


"Nanti kamu bulat seperti donat," jawab Marvel tidak nyambung.


"Mau melucu tapi tidak lucu. Itulah kamu!"


"Harusnya kamu ketawa biar mas senang," ujar Marvel.


Kiran tertawa seperti kemauan suaminya, pagi ini mereka habiskan dengan bercanda tidak jelas.


Sementara itu, keadaan Gama sejauh ini sudah lebih membaik.


Sejak keluar dari rumah sakit Gama sama sekali tidak mau keluar dari kamar.


"Kenapa tidak kau makan sarapan mu Gama?" tanya Doris.


"Nanti saja kak. Aku belum lapar!"


"Kau harus minum obat Gama. Kakak tidak mau kau kenapa-kenapa lagi."


"Berhenti mengkhawatirkan ku kak. Pergilah bekerja!"


"Jangan seperti itu Gama. Kau adik kakak satu-satunya. Bermainlah keluar, kau juga butuh teman."


"Teman ku hanya Kiran kak. Tapi dia sudah bahagia sama orang lain."


"Kiran menjauh akibat ulah mu sendiri. Jadi, jangan kau sesali. Kau bisa membuka hati mu untuk perempuan lain, menikah sama seperti Kiran. Ingat Gama, setiap orang memiliki kehidupan dan bahagianya masing-masing."


Huft,.....


Gama menarik nafas panjang.


"Harusnya kau bersyukur jika suami Kiran tidak melempar mu ke penjara. Jika tidak, kakak mu ini bisa gila."


"Aku minta maaf kak," ucap Gama tertunduk.


"Biar bagaimana pun kau adalah tanggung jawab kakak. Kakak bekerja siang malam hanya untuk membiayai kehidupan kita terutama pendidikan mu. Kakak hanya ingin melihat mu jadi orang yang berhasil dan bisa membanggakan keluarga ini."


Gama hanya diam, ia sadar akan kesalahannya.


"Kau tidak bisa mengekang seseorang hanya untuk kepentingan mu sendiri. Biarkan Kiran bahagia dengan jalannya. Sedangkan kau, kau bisa mencari jalan kebahagiaan mu sendiri. Itu jauh lebih baik dari pada kau sibuk memikirkan cara untuk merusak kebahagiaan orang lain."


Gama hanya diam dan diam saat sang kakak menasehati, ada rasa penyesalan atas apa yang ia lakukan selama ini.


"Aku minta maaf kak. Aku berjanji akan menuntaskan pendidikan ku dan mencari jalan bahagia ku sendiri," ucap Gama.


"Kakak tidak butuh janji Gama. Buktikan!" Ujar Doris kemudian keluar dari kamar adiknya.