
Sambil memegang perutnya Kiran yang lahiran normal sudah bisa melakukan aktivitas yang ringan. Contohnya berjalan menghampiri suaminya yang sejak tadi raut wajahnya masam dengan mata berkaca-kaca.
"Mas, kamu kenapa?, perasaan sejak tadi ku perhatikan wajah mu masam."
Marvel mendongak, menatap wajah istrinya lalu meletakan ponselnya kemudian memeluk Kiran, membenamkan wajahnya di perut sang istri.
"Kamu kenapa mas?" tanya Kiran heran.
"Sayang,.....!"
"Kenapa sih mas?, kalau ada masalah sini cerita."
"Mas baca-baca masa setelah melahirkan. Tapi kenapa semua ini begitu menyiksa?, siapa yang membuat aturan ini?"
"Terserah kau lah mas, lama-lama aku pusing sama drama mu ini."
"Kamu ini gimana sih sayang?, ranjang kita akan absen selama empat puluh hari. Kamu gak sedih?"
"Marvel,....Marvel. Kamu ini sama aja seperti papah mu. Tiap hari yang di bahas ranjang terus!" Ujar mamah Dona yang baru masuk ke dalam ruangan.
"Malau sama mamah mas!" bisik Kiran.
"Sore ini kita pulang, cepat berkemas Vel!" Titah mamah Dona.
Dengan perasaan malas Marvel membantu mamahnya mengemasi semua barang-barang.
Kembali pulang ke rumah, sungguh Kiran merindukan kasur empuk miliknya.
"Sayang hati-hati,....!" Marvel memapah istrinya naik tangga menuju kamar. "Ah,...lama. Mas gendong aja!"
Marvel menggendong istri sampai ke kamar. Sedangkan mamah Dona menggendong cucunya yang belum di beri nama ini.
"Mamah ke dapur dulu. Mau masak buat Kiran," ujar mamah Dona setelah meletakkan cucunya di box bayi. "Anak di jaga Vel, jangan sibuk sendiri."
"Iya,...iya. Cerewet banget nenek-nenek satu ini," ucap Marvel langsung mendapatkan pukulan kecil di lengannya.
"Mulut kamu ini lama-lama kurang ajar. Bisa-bisanya kamu ngatain mamah nenek-nenek."
"Kalau bukan nenek-nenek apa coba?, terus ini cucu siapa?" tanya Marvel sambil menunjuk anaknya.
"Ya cucu mamah," ucap mamah Dona cengengesan.
Marvel memutar bola matanya malas, ia kemudian duduk di samping anaknya. Melihat keadaan aman, mamah Dona melangkah keluar dari kamar Marvel kemudian masuk lagi.
"Kenapa, mamah cari apa?" tanya Marvel.
"Wah, mamah ini sama anak sendiri curigaan. Aneh!"
"Apa lagi ninggalin Kiran sama kamu. Mamah gak percaya banget sama kamu. Sampai masa nifas Kiran habis, mamah akan tidur di kamar kalian."
"Gak bisa gitu dong mah. Sayang,....ayo bela suami mu ini," ujar Marvel tidak terima.
"Mamah ada benernya kok mas," kata Kiran yang malah berpihak pada mertuanya.
Huft,.....
Marvel menatap tajam istrinya, sedangkan mamah Dona kembali keluar lagi.
"Sayang, kamu kok tega sama mas."
"Mas, aku masih lemah loh. Biarkan aku istirahat sebentar saja."
"Mau kemana kamu?" tanya Marvel saat melihat istri turun dari ranjang.
"Ingin mengambil anak kita. Aku gemes, dia ganteng banget. Semoga besar nanti wajahnya bersih gak brewokan seperti kamu."
"Brewok ini loh yang buat kamu klepek-klepek. Jangan di remehin!"
"Hiiidiih,.....percaya diri sekali."
"Hati-hati loh Sayang. Nanti jatuh, mati kita di gantung sama mamah nanti."
"Iya mas....!"
Kiran kembali ke ranjang sambil menggendong anaknya. Bayi kecil ini bangun lalu menangis. Dengan cepat Kiran memberi asi.
"Nih bocah enak banget bisa mimi cucu kapan pun dia mau. Lah papahnya, mau mimi harus izin dulu." Ujar Marvel.
"Ya ampun mas, sama anak sendiri loh."
"Iya tahu. Gemes, pengen adu fisik jadinya sama anak!"
Aaaaaaaaw.......
Kiran mencubit lengan suaminya.
"Sakit,.....!" ujar Marvel sambil mengusap lengannya.
"Heran sama kamu mas. Mamah ngidam apa sih dulu saat hamil kamu?"