Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 42


"Tumben tidak mengoceh, apa yang sedang kau pikirkan hemm?" Marvel bertanya pada istrinya yang saat ini sedang duduk melamun di balkon kamar.


"Tidak ada!" jawab Kiran singkat.


"Jangan bohong, ayo bicara pada suami mu ini."


"Lebih baik mas pergi ke kamar mandi, cukur itu hutan rimba yang ada di wajah!"


Marvel mengusap wajahnya, sedikit kres-kres karena brewoknya mulai tumbuh.


"Bagaimana kalau kita mencukur bareng?" goda Marvel.


"Mulai deh mulai,...!" Kiran kesal.


"Rumput mu terlalu lebat sayang, mas sedikit susah cari jalan masuk!" bisik Marvel semakin membuat Kiran kesal.


"Mas, udah deh. Bisa gak ngomong yang lain aja?"


"Kalau begitu jawab, kamu kenapa melamun sejak tadi?"


Kiran membuang nafas kasar, memejamkan mata sejenak lalu menatap wajah suaminya.


"Terkadang aku sangat merindukan duduk berdua dengan seorang ayah. Saling bertukar cerita, jika hidup ini terlalu berat jika ku rasakan."


Marvel terdiam sejenak lalu menarik kursi kemudian duduk di depan Kiran.


"Kan ada mas yang bisa kau ajak bercerita," ucap Marvel.


"Ya bedalah mas. Kau suami ku, sandaran dan rumah kedua di saat rumah pertama ku telah hancur."


"Kalau begitu berbaikanlah dengan ayah mu!"


"Selama dua serigala itu ada di rumah, mau sampai kapan pun aku tidak akan pernah berbaikan dengan ayah. Dia yang seharusnya memberi ku kebahagiaan nyatanya telah menoreh luka yang sangat dalam di hati ini."


Belum lagi Marvel menyahut, terdengar suara ketukan pintu. Marvel bergegas membuka pintu kamarnya.


"Ada apa mah?" tanya Marvel.


"Ada mertua mu di bawah. Dia mencari Kiran!" jawab Dona.


Marvel menoleh ke arah Kiran yang masih duduk di balkon kamar.


"Bilang saja Kiran tidak mau bertemu."


"Dia tidak akan pergi sebelum bertemu dengan anaknya."


"Mau apa lagi sih?" Marvel geram.


"Ada apa mah?" tanya Kiran menghampiri suami dan mertuanya.


"Ada ayah mu menunggu di bawah!" jawab Dona.


Kiran menoleh ke arah suaminya lalu mengeryitkan dahi.


"Kenapa?" tanya Marvel.


"Perasaan baru aja di bicarakan," ujar Kiran.


"Turun dan temui ayah mu Kiran. Jelek bagusnya dia tetap ayah mu!" ucap Dona.


"Iya mah!" sahut Kiran sedikit memaksa senyumnya.


Kiran langsung turun ke bawah, Marvel yang hendak menyusul istrinya langsung di tahan oleh Dona.


"Biarkan istri mu menyelesaikan masalahnya," kata Dona.


"Tidak mah, aku tahu betul sifat pak Hasan."


"Di lihat dari jauh saja dulu," ujar Dona.


Sementara itu, Hasan yang melihat anaknya menghampirinya langsung menunjukan wajah angkuhnya.


"Setelah menikah kau jadi lupa sama orang tua. Di mana kewajiban mu sebagai anak hah?" ujar Hasan membuat Kiran tertawa.


Kiran duduk dengan santainya, memandang wajah ayahnya yang tidak tahu malu ini.


"Memangnya kewajiban seperti apa yang harus aku lakukan?" tanya Kiran, "apa anda melakukan kewajiban anda sebagai seorang ayah selama ini?"


Hasan terdiam mendengar ucapan Kiran.


"Bilang pada suami mu, beri ayah pekerjaan. Sebab dia ayah menjadi pengangguran seperti ini."


"Itu bukan urusan ku," kata Kiran membuat Hasan geram, "ayah bekerja banting tulang sekali pun bukan aku yang ayah nafkahi melainkan anak orang lain."


"Kau sangat angkuh dan sombong Kiran. Ibu mu sangat lemah lembut dan penurut tapi kenapa dia melahirkan anak yang pembangkang seperti mu?"


Ingin sekali Hasan menampar wajah anaknya ini tapi ia sungkan karena ini di rumah orang.


Tanpa banyak bicara lagi, Hasan pergi dari rumah Marvel tanpa pamit lagi. Jujur saja, rasanya Kiran sangat sedih karena sampai detik ini hubungannya dengan sang ayah masih sama seperti dulu.


"Jangan di pikirkan, kau tidak salah dalam hal ini. Ayah mu yang terlalu egois!" ucap Marvel yang tiba-tiba muncul.


"Menguping pembicaraan orang lain itu tidak sopan!" ujar Kiran.


"Mas suami mu, jadi mas berhak tahu apa yang sudah terjadi pada istrinya!"


"Aku bosan di rumah, ajak makan bakso atau ngopi di luar dong mas bewok!" bujuk Kiran.


"Bewak bewok, suka sekali mengejek suami mu ini."


"Kalau gak mau aku bisa pergi sendiri...!" ucap Kiran kesal.


"Iya, jangan marah dong sayang. Mas ambil dompet dan kunci mobil dulu."


Apa pun yang di minta Kiran selalu di turuti oleh Marvel. Demi menjaga kewarasan sang istri, Marvel mengajak Kiran pergi berkeliling mencari udara segar.


Lain lagi dengan Gama yang sangat penasaran ketika ada seorang pria paruh baya bertamu ke rumahnya untuk meminta alamat Kiran. Pada awalnya Gama merasa curiga, tapi ia tetap memberikan alamat tempat Kiran tinggal sekarang meskipun orang tersebut tidak memberitahu maksud dan tujuannya.


"Kiran ada masalah apa lagi ya...?"


Gama semakin penasaran, tapi ia tidak mendapatkan jawabannya.


Sedangkan Kiran, ia malah asyik berkuliner bersama Marvel. Dalam hal ini Marvel sangat memaklumi Kiran yang suka makan.


"Sudah sore. Kita pulang yuk," ajak Marvel.


Kiran menurut kemudian mereka langsung pulang. Setibanya di rumah, Dona sudah menunggu kepulangan anak dan menantunya.


"Kiran. Tadi ada yang cari kamu nak," ujar mamah Dona memberitahu Kiran.


"Siapa mah? ayah?"


"Bukan, mamah gak kenal. Tapi, dia bilang akan datang lagi besok pagi. Penting katanya!"


"Laki-laki atau perempuan mah?" tanya Marvel ikut penasaran.


"Laki-laki...!" jawab Dona singkat.


Sontak saja wajah Marvel langsung memerah.


"Sayang, siapa dia?" Marvel bertanya pada istrinya.


"Gak tahu mas, aku belum lihat orangnya."


"Mamah benar-benar gak kenal sama itu orang?" Marvel bertanya lagi pada mamahnya.


"Gak kenal. Ya udah, tunggu besok aja. Katanya dia mau datang lagi."


"Mencurigakan!" batin Marvel yang hatinya sudah kepanasan.


Marvel dan Kiran pergi ke kamar, Kiran bergegas mandi. Marvel yang sangat ingin mandi berdua dengan istrinya lagi-lagi tidak memiliki kesempatan.


"Heran, kenapa istri ku susah sekali di ajak mandi berdua?"


Marvel mulai menggerutu kesal.


"Perasaan kalau nonton film, perempuan itu paling senang di ajak mandi berdua. Eh, kok dia gak mau. Aneh!"


Marvel berdiri di samping pintu kamar mandi menunggu sang istri keluar.


Krek,.....


Kiran membuka pintu sambil mengeringkan rambutnya yang basah.


"Udah selesai mandinya?" tanya Marvel sekedar basa basi.


Kiran memutar bola matanya heran.


"Setiap hari keramas, menyebalkan!" ucap Kiran kesal.


"Mandi lagi yukkk!" ajak Marvel.


"Gila memang, gak ada capeknya!" ucap Kiran sembari bergeleng kepala.


"Biar cepat jadi anak!" sahut Marvel.


Kiran tidak menanggapi lagi, akan panjang ceritanya jika ia terus menanggapi omongan Marvel yang selalu mengarah ke arah ranjang.