
"Ku lihat bos sangat memanjakan Kiran. Jika di lihat Kiran bukan seperti seorang istri melainkan anak mu bos," ucap Jeff membuat Marvel tertawa.
"Memanjakan istri itu sudah kewajiban kita sebagai suami Jeff. Apa lagi Kiran berasal dari keluarga yang sama sekali tidak memberinya kasih sayang."
"Benar juga. Kita sama-sama tahu bagaimana keadaan Kiran dulu," ujar Jeff.
"Aku yang lebih dewasa dari dia harus bisa menyeimbangi pola pikir dan sikapnya. Syukurnya selama ini Kiran tidak pernah menuntut hal lebih dari ku."
"Jadi ingat sama Kiran yang suka mengejek bos dulu!"
"Dan itu masih ia lakukan sampai sekarang!" Sahut Marvel.
"Mas, Joe buang hajat. Aku dan mbak Fani akan pergi ke toilet. Tolong bayarkan belanjaannya ya," ujar Kiran memberitahu.
"Sekalian belanjaan istri ku bos," pinta Jeff yang mencari kesempatan.
Marvel menatap tajam ke arah Jeff.
"Gaji mu selama ini kau kemana kan?,jangan-jangan.....!" Marvel menaruh curiga pada Jeff.
"Semua uang di pegang ibu negara bos. Maklum, suami sayang istri."
"Suami sayang istri atau suami takut istri?" Tanya Marvel bercanda, "atau jangan-jangan kau takut tak di beri jatah ya!"
Jeff tertawa garing lalu berkata, "bos tahu aja!"
"Perempuan itu suka di paksa Jeff. Kalau dia ngambek, seret aja ke atas ranjang. Percayalah, semua masalah akan beres!"
"Sepertinya aku harus banyak belajar dari bos," ucap Jeff.
Beberapa waktu kemudian, Kiran dan Fani kembali. Dua wanita ini tertawa saat melihat para suami mereka sedang membawa barang belanjaan.
"Kita cari makan siang dulu. Aku lapar, butuh asupan luar dan dalam!" Ujar Marvel yang membuat Fani dan Jeff bingung tapi tidak dengan Kiran yang paham.
"Mas, gendong Joe!" Titah Kiran dengan wajah cemberut.
"Kenapa wajah kamu?" Tanya Marvel membuat Fani dan Jeff langsung menoleh ke arah Kiran.
Mendadak Marvel langsung mengambil alih gendongan anaknya dari sang istri.
"Oh, kamu bisa cemburu juga?" Tanya Jeff. "Ku pikir tidak bisa!"
Jeff mendapatkan lirikan tajam dari Kiran.
"Lelaki sama aja. Ayo Kiran!" Fani menarik tangan Kiran, mengajaknya jalan terlebih dahulu.
Sungguh membahagiakan, kehidupan Kiran yang sekarang jauh lebih baik dari pada sebelumnya. Jalan-jalan bersama anak dan suami, minta apa saja Marvel selalu mengiyakan. Berbeda dengan kehidupan yang dulu, jangankan untuk membeli sesuatu, untuk makan saja Kiran harus bekerja terlebih dahulu.
Menjelang sore mereka pulang ke rumah masing-masing. Kiran langsung memandikan anaknya sementara Marvel menyiapkan pakaian dan segala perlengkapan anaknya.
"Anak papah sudah genteng. Sama papah dulu ya nak, mamah mau mandi sebentar!"
Marvel mengajak Joe rebahan manja di atas tempat tidur. Sedangkan pergi mandi setelah itu barulah bergantian dengan suaminya.
Mereka sama sekali tidak mempekerjakan seorang pengasuh karena mamah Dona tidak mengizinkannya.
"Aku sudah selesai mas. Cepat mandi, bukankah kamu harus menjemput mamah?"
"Biarin aja mamah menunggu!"
"Mas, gak boleh gitu. Kualat nanti....!"
"Bercanda sayang!"
"Bercanda mu itu nanti di dengar orang terus jadi salah paham. Dasar rumput laut!"
"Siapa yang rumput laut?" Tanya Marvel.
"Ya kamu. Lihat sekujur tubuh mu, dari atas sampai bawah isinya cuma rumput semua. Heran, kok bisa gitu loh. Mamah dulu ngidam apa ya sewaktu hamil kamu?"
"Ngidam nyusu sama orang utan!" Jawab Marvel asalan.
Kiran tertawa, sungguh suaminya ini suka sekali mengada-ada. Setiap hari, ada saja kelakuan nyeleneh dari suaminya ini.