Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 51


"Bagaimana, apa hasilnya?" Marvel bertanya dengan wajah dingin.


"Dari rekam medis yang ku lihat, penyakit yang di alami orang ini begitu memprihatinkan," ujar David.


"Bicara yang jelas, jangan bertele-tele!" tegas Marvel.


"Komplikasi," ucap David memberitahu, "gagal ginjal, kerusakan hati dan paru-paru bahkan penderitanya mengalami jantung bocor." David memperjelas hingga membuat Marvel dan Kiran kaget.


"Apa kau bisa mempertanggungjawabkan ucapan mu itu?"


"Aku sangat yakin, di tambah lagi bukti dari obat-obatan ini."


"Kalau boleh tahu, semua ini obat apa?" Kiran bertanya dengan wajah penasaran.


"Obat tidur dengan dosis yang sangat tinggi," jawab Dokter David.


"Tapi, ini ada beberapa jenis obat. Tolong beritahu aku obat apa saja ini." Kiran memohon.


"Semuanya obat tidur dengan berbagai merek juga dengan dosis yang sangat tinggi."


Jleb....


Kiran menarik nafas panjang, ia tersandar lemas ketika mengetahui almarhum ibu yang memiliki banyak penyakit.


"Terimakasih," ucap Marvel, "aku pulang dulu. Bayaran mu minta saja sama Jeff."


"Ya, terimakasih tuan Marvel!"


Marvel mengajak Kiran pulang, dari hasil yang ia dapat sore ini, Marvel bisa menyimpulkan jika kematian ibu Kiran sangat di sengaja dan terencana.


Setibanya di rumah, Kiran masih mencoba memikirkan apa yang sebenarnya sudah terjadi pada ibunya dulu.


"Ayah mu dan ibu tiri mu harus menjelaskan apa yang sudah terjadi di masa lalu. Mereka bertanggung jawab atas kematian ibu mu."


"Tapi, aku harus menuntut bagaimana? apa hubungannya obat tidur dengan semua penyakit ibu?" Kiran sama sekali tidak mengerti.


"Dari semua ini kita bisa menyimpulkan bahwa semasa hidup ibu mu selalu minum semua obat itu. Mengkonsumsi dengan jumlah berlebihanlah yang mengakibatkan semua orang dalam ibu mu menjadi rusak. Itu artinya, ayah mu menginginkan kematian ibu secara perlahan tanpa di curigai oleh siapa pun."


Penuturan Marvel sungguh membuat hati Kiran sakit. Tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja.


Marvel memeluk istrinya, memang sakit rasanya jika harus mencari kebenaran seperti ini. Tapi, semua harus di ungkapkan demi sebuah keadilan.


"Aku harus menuntut pertanggung jawaban dari ayah. Mereka harus di hukum!" ucap Kiran sembari mengusap air matanya.


"Eh, kau mau kemana lagi sayang?" tanya Marvel menghentikan langkah istrinya.


"Ingin menemui mereka!" jawab Kiran dengan suara seraknya.


"Kemana kau akan menemui mereka? kau sendiri tidak tahu di mana mereka tinggal."


"Aku memang tidak tahu di mana mereka tinggal sekarang. Tapi, aku yakin jika suami ku ini pasti tahu."


Marvel tersenyum mendengar ucapan sang istri.


Tok...tok.....


Mbok Rumi mengetuk pintu kamar Marvel dan Kiran.


"Ada apa mbok?" tanya Kiran yang kebetulan ada di dekat pintu kamar.


"Ada teman mbak Kiran di bawah," ujar mbok Rumi memberitahu.


"Teman ku yang mana mbok?" tanya Kiran penasaran, "mbak Fani kah?"


"Bukan mbak. Itu loh, teman mbak Kiran yang dulu pernah ikut mengantar kue."


"Gama!" ucap Kiran pelan, kemudian ia langsung turun ke bawah.


Marvel menyusul karena ia penasaran dengan tujuan Gama yang datang ke rumahnya.


Gama berdiri saat melihat Kiran berjalan menghampirinya.


"Mau apa kau datang kemari?" tanya Kiran dengan wajah tak bersahabat.


"Semua itu bukan urusan mu Gama. Pergilah, aku tidak mau lagi melihat mu!"


Gama melirik ke arah Marvel yang berdiri santai dengan kedua tangan masuk di saku celananya.


"Sejak kau kenal dia, sikap mu berubah. Kau menjadi Kiran yang keras kepala dan kejam." Ujar Gama malah membuat Kiran tertawa.


"Kita memang pernah bersahabat sejak kecil Gama. Tapi, kau tidak tahu semua tentang ku termasuk permasalahan aku dan ayah. Jadi, berkomentarlah sesuka hati mu."


"Kau benar-benar sudah berubah Kiran. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya mengembalikan diri mu yang dulu."


"Memangnya kau siapa yang berani menghakimi istri ku hah?" sentak Marvel dengan suara keras menggema di ruang tamu.


Kiran dan Gama tersentak kaget, di tambah lagi mata Marvel sekarang melotot dengan kedua tangannya mengepal menahan amarah.


"Keluar dari rumah ku!" usir Marvel sembari menunjuk arah pintu.


"Kiran, buka mata hati mu. Apa kau lupa kenangan kita dulu," ujar Gama yang masih berusaha menarik hati Kiran.


"Semua tentang kita telah sirna Gama. Ketidakpercayaan mu serta kau sendiri yang memutuskan hubungan pertemanan kita. Kita hanya lah dua orang asing Gama, kau tidak berhak mengatur ku sekarang!" Kiran mempertegas.


"Kau mau keluar atau ku lempar ke dasar kawah hah?"


"Pergilah Gama. Aku tidak mau melihat mu lagi...!" Kiran juga mengusir.


Gama hanya bisa menarik nafas panjang, niat hati ingin menarik perhatian Kiran namun nyatanya hati Kiran telah berubah. Gama akhirnya pergi, Kiran terduduk lemas di sofa ruang tamu.


"Sekali lagi bajingan itu mengganggu kamu. Akan ku patahkan batang lehernya!" ucap Marvel kesal.


"Jangan....!" sahut Kiran.


"Kenapa kau membelanya hah?" Marvel malah membentak istrinya.


"Aku tidak membelanya. Aku hanya takut kau di penjara saja. Jika kau di penjara, siapa yang akan memeluk ku jika tidur nanti?''


Mendengar ucapan istrinya, hati Marvel langsung mendingin.


"Benar juga. Jika mas di penjara, mas sudah pasti tidak bisa membajak rawa-rawa mu itu sayang."


Kiran tertawa mendengar kata-kata yang keluar dari mulut suaminya.


Di luar komplek perumahan Marvel, ternyata Hasan sudah menunggu Gama. Kedatangan Gama kali ini rupanya atas perintah dari Hasan.


"Bagaimana Gama, apa kau berhasil membujuk Kiran?" tanya Hasan penasaran.


"Tidak om. Aku malah di usir!" jawab Gama.


"Sialan!" umpat Hasan sembari mengepalkan tinjunya.


"Marvel benar-benar membawa pengaruh buruk pada Kiran. Bocah itu jadi pembangkang sekarang!"


"Aku juga mikirnya begitu om. Aku tahu betul jika Kiran sangat membenci Marvel."


Sambil berkacak pinggang, Hasan mulai pusing memikirkan rencana agar ia bisa kembali menempati rumah tersebut.


"Om, kenapa om tidak menggugat rumah itu. Aku yakin jika om menggunakan alasan almarhum istri om, pihak pengadilan pasti akan mendukung om." Gama memberikan ide gila pada Hasan.


"Ah, apa kau yakin semua ini bisa berhasil?" tanya Hasan tak begitu yakin mengingat Kiran memegang surat wasiat peninggalan ibu dan neneknya.


"Aku akan membantu om. Asal dengan syarat....!" ujar Gama yang mengambil kesempatan dari masalah ini.


"Apa syaratnya?" tanya Hasan penasaran.


"Kembalikan Kiran pada ku. Buat Kiran dan Marvel bercerai...!"


"Gampang. Itu sangat mudah, yang penting om bisa kembali ke rumah itu."


"Kenapa om sangat menginginkan rumah itu?" tanya Gama penasaran.


"Karena rumah dan tanah itu berharga sangat mahal!" jawab Hasan.