Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 94


"Sakit mas,....!" Lirih Kiran sambil mencengkeram tangan suaminya.


"Sakit mana sama bikinnya?" tanya Marvel yang usil.


"Mas.......!!" Mata Kiran mendelik kesal karena sejak sore tadi Marvel selalu menggodanya.


"Gak sakit kok, ini mas elus-elus." Marvel mengusap perut istrinya sambil bergoyang.


Memang sakit, ya benar sakit, bahkan rasa sakit itu datang beberapa menit sekali. Kiran mengalami kontraksi kembali, ia mencengkram tangan suaminya lagi.


"Sakit lagi mas," lirih Kiran.


"Di masukin kepala mas aja gak sakit. Eh, di keluarin kepala anaknya kok sakit!"


Huft,.......


Kiran hanya bisa menarik nafas panjang menahan rasa sabar.


Klek,......


Pintu terbuka, mamah Dona masuk dengan membawa dua buah koper berisi perlengkapan mereka selama di rumah sakit.


"Mamah,......!" Kiran langsung menghampiri mamah Dona.


"Kenapa Kiran?" tanya mamah Dona mendadak curiga pada anaknya sendiri.


"Mah, mas Marvel sejak tadi suka mengejek ku mah. Aku bukan tidak kuat rasa sakit, tapi tidak kuat di goda sama mas Marvel," adu Kiran sama mertuanya.


"Kamu ini loh Vel, bener-bener minta tendang. Istri kesakitan bukannya di manja malah di gangguin terus." Mamah Dona mengomel.


"Biar Kiran gak stres mah. Jadi, dia harus di bercandain."


"Tidak semuanya harus di bercandain Marvel. Jika kau tahu rasa sakitnya hamil dan melahirkan, kau tidak akan tega menyakiti istri mu."


"Aku tidak pernah menyakiti Kiran. Apa sih mah?"


"Mas Marvel keluar aja deh mah. Aku pusing di gangguin terus," ujar Kiran.


"Eeeeh,....gak. Aku gak mau keluar, aku mau disini aja!" Marvel malah tiduran di atas brankar.


Mau heran ini Marvel, jadi mamahnya sendiri hanya bisa angkat tangan dengan tingkah anaknya sendiri.


"Vel, Kiran kesakitan loh. Kamu kok malah enak-enakan tidur."


"Oh,....lupa mah!" Marvel turun dari atas brankar lalu menghampiri istrinya.


"Ya Tuhan, panjangkan umur ku. Perbanyak lagi rasa sabar ku," ucap mamah Dona berdoa.


"Lagian ni bocah kapan keluarnya coba?, ayo cepat keluar sayang. Nanti papah kasih kamu warisan yang banyak loh."


Kiran terduduk di lantai, rasanya sudah tak sanggup menghadapi keusilan suaminya ini.


"Bisakah kau diam mas?, aku hanya ingin fokus menikmati rasa sakit ku loh."


"Mas gak bisa diam, apa lagi kalau di atas ranjang," bisik Marvel di telinga istrinya agar tak kedengaran sang mamah.


"Vel, kamu bisik-bisik apa tu hah?" tanya mamah Dona curiga.


"Oh, gak mah. Cuma menyemangati istri tercinta aja," jawab Marvel berbohong.


"Kiran,....?"


"Bener kok mah!" Sahut Kiran yang tidak ingin berkata jujur pada mamah Dona.


Marvel tersenyum tipis mendengar ucapan sang istri.


Kiran kembali mengalami kontraksi, perutnya keras dengan wajah sedikit menekan.


"Mah,....!" Lirih Kiran dengan suara tertekan.


"Kenapa sayang, apa yang kamu rasakan?" tanya mamah Dona.


"Mah. Seperti ada yang mau keluar," ucap Kiran.


"Vel, anak kamu mau keluar!"


Paniklah Marvel, dengan cepat ia memanggil Dokter yang selalu berjaga di ruangan sebelah.


Segala persiapan mulai di lakukan, Dokter mulai melakukan pemeriksaan. Untuk sementara waktu mamah Dona menunggu di luar, hanya Marvel yang menemani Kiran di dalam.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Marvel.


"Kepalanya sudah kelihatan," jawab Dokter.


Dokter mulai memberi aba-aba pada Kiran.


"Tarik nafas,.....hembuskan," ucap Dokter.


"Ayo sekali lagi, tarik nafas....hembuskan. Yang santai, tolong punggungnya jangan di angkat ya bu."


Marvel dapat merasakan jika tenaga Kiran kali ini sangat kuat. Tangan kekar nan kuatnya saja bisa di cengkram kalah.


"Ayo bu,....sekali lagi tarik nafas hembuskan."


"Dok, perasaan dari tadi tarik nafas hembuskan sekali lagi tarik nafas hembuskan. Kapan keluarnya?" Marvel protes, "Dokter gak lihat apa istri saya sejak sore sudah kesakitan seperti ini."


Dokter memutar bola matanya malas, dari awal Marvel benar-benar membuat jengkel.


"Sabar ya pak, mengeluarkan kepala bayi tidak semudah memasukan kepala bapak," ucap Dokter yang benar-benar kesal.