
Wajah Kiran merona merah, menunduk malu karena Marvel terus menatapnya dengan tatapan penuh nafsu.
Kiran buru-buru menghabiskan makanannya, ia masih sedikit risih jika di tatap seperti itu oleh Marvel.
"Lama-lama ku colok juga mata om menggunakan garpu ini," ucap Kiran kesal.
"Mas. Aku suami mu, bukan om mu!" sahut Marvel, "apa kau sudah lupa dengan kejadian tadi malam?"
Pertanyaan Marvel membuat wajah Kiran gugup seketika. Tidak munafik juga, Kiran sangat menikmati belah duren tadi malam walaupun terasa perih.
"Aku mau pergi," ujar Kiran dengan wajah gugupnya. Ia kemudian beranjak dari duduknya, meninggalkan Marvel yang belum sempat minum air barang seteguk pun.
"Sayang mas, tunggu!" teriak Marvel.
"Aku malu,...!" ucap Kiran sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ngapain malu sama suami sendiri?"
"Om, udah deh!"
"Nah ya kan, om lagi. Panggil mas atau panggil sayang atau panggil apa aja selain om gitu!" Marvel terus protes dengan nama panggilan dari Kiran.
"Apa dong...?" tanya Kiran menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang, "mau aku panggil kakek?"
Mata Marvel melotot.
"Kamu ini benar-benar minta di goyang sekali lagi biar jadi istri penurut. Ayo kembali ke hotel!"
Marvel menarik tangan Kiran, memaksa Kiran pulang ke hotel. Tentu saja Kiran melakukan perlawanan, tapi tetap saja ia kalah dengan Marvel.
"Mas, kasar amat!" tegur bapak-bapak yang lewat.
"Gak kasar pak, maklum pengantin baru ingatnya kamar terus!" sahut Marvel membuat kedua mata Kiran melotot lebar.
"Oh, pengantin baru toh. Ehem,...hajar mas, jangan kasih kendor!" ucap bapak-bapak tersebut langsung di iyakan oleh Marvel.
Kiran berusaha melepaskan genggaman tangan suaminya. Marvel yang geram langsung menggendong Kiran hingga ke kamar.
"Om, mau ngapain?" tanya Kiran dengan wajah paniknya.
"Memberi kamu pelajaran biar kamu lebih penurut lagi," jawab Marvel.
Marvel melepas pakaiannya satu persatu. Kiran yang panik berusaha melarikan diri tapi tertangkap juga. Marvel memeluk Kiran erat, mencumbu, menggelitik di leher jenjang milik istrinya.
"Mas, geli,....!" lirih Kiran dengan suara manjanya.
"Aku suka kau seperti ini," bisik Marvel, "kau sangat penurut!"
Marvel terus berjelajah di antara bibir dan leher. Bermain di sana lalu dengan sengaja merobek pakaian yang di kenakan Kiran.
"Baju ku...!" ucap Kiran kaget.
"Jangan pedulikan, nanti mas belikan sama toko kalau perlu pabriknya sekalian!" kata Marvel kemudian kembali memangsa sang istri.
Marvel menggendong Kiran ke atas tempat tidur lalu menindih tubuh istrinya. Marvel terus mengajarkan dan mengarahkan Kiran bagaimana caranya berhubungan suami istri.
Menjelang siang ini, Marvel benar-benar menggagahi Kiran untuk kedua kalinya. Meskipun tidak ada kata cinta yang terlontar dari keduanya, tapi mereka sama-sama menikmati permainan siang ini.
Marvel tersenyum penuh kemenangan sambil menatap Kiran yang masih terlelap di bawah selimut tanpa mengenakan benang sehelai pun.
"Yang ku kejar akhirnya dapat juga. Semoga kau bisa mencintai ku secepat aku membuka segel mu sayang!" ucap Marvel dalam hatinya.
Marvel kemudian berganti pakaian setelah itu pergi ke balkon kamar dengan hamparan pemandangan yang sangat indah.
Sambil menunggu Kiran bangun, Marvel mengecek pekerjaan Jeff selama beberapa hari ini. Marvel tersenyum puas atas pekerjaan Jeff yang berjalan sesuai rencana. Meskipun Jeff suka cengengesan, tapi ia bisa di andalkan.
Menjelang sore, Kiran bangun dengan tubuh yang sangat lemas dan perih di area bawah.
Shiiiit,....
Kiran mengumpat kesal, "di mana si bewok itu?"
Kiran celingukan mencari Marvel, tidak mendapati suaminya, Kiran bergegas pergi ke kamar mandi. Kurang lebih tiga puluh menit Kiran berada di kamar mandi, akhirnya ia keluar juga dengan wajah segar.
"Ehem, cantiknya istri ku sudah mandi...!" ucap Marvel sungguh sangat mengejutkan Kiran.
"Mengejutkan ku saja!" sentak Kiran sembari mengusap dadanya.
"Gak ah, perasaan mas dari tadi di sini nungguin kamu mandi."
Kiran menyengir, lalu melangkah menuju meja rias.
"Mengerikan!" ucap Kiran.
"Mas pasti suka ngintip orang mandikan?"
"Kalau ngintip istri mandi ya gak masalah. Asal jangan istri tetangga saja!"
Kiran hanya memainkan bibirnya untuk mengejek suaminya.
"Aku lapar," rengek Kiran, "punya suami tapi gak di beri istrinya gak di beri makan!"
"Heh,....!" Marvel tidak terima, "kamu seharian tidur, mas mau bangunin kamu ya gak tega lah!"
"Halah, alasan!" seru Kiran.
"Ini nafkah untuk kamu dari mas!" Kata Marvel sambil menyodorkan satu kartu berwarna hitam.
Kedua alis Kiran berkerut.
"Gak mau!" tolaknya.
"Lah, kenapa?" tanya Marvel bingung.
"Itu terlalu besar!" jawan Kiran merasa tidak enak hati.
"Emang kamu tahu ini apa?"
Wajah Kiran mendadak masam.
"Eh, maaf. Mas hanya bercanda!"
"Udah, aku lapar. Ayo pergi,...!" Kiran kembali merengek.
"Ambil dulu kartunya!"
"Gak mau!" sekali lagi Kiran menolak.
"Dia ini kenapa?" Marvel heran, "bukannya kamu suka uang?"
"Ya suka, tapi itu terlalu banyak. Aku gak mau."
"Lah, kamu istri mas. Ini mah gak seberapa, ambil kalau gak mas mangsa kamu loh!" ancam Marvel.
Huft,....
Kiran membuang nafas kasar.
"Kalau tuan memaksa, ya apa boleh buat? kalau uangnya habis, jangan salahkan aku!" gurau Kiran.
"Sekali pun kamu jual jantung mas, selama kamu bahagia mas rela kok!"
"Lebay....!" seru Kiran.
Mereka kemudian pergi berjalan-jalan sore sambil mencari tempat makan yang enak.
Marvel sangat senang melihat Kiran yang sangat sejak tadi terus tersenyum dan mencerocos tidak jelas. Maklum, ini adalah pertama kalinya Kiran pergi berlibur.
"Ya ampun, kepiting ini sangat besar. Pasti harganya sangat mahal," ucap Kiran yang sejak tadi sudah meneguk liur, "tapi aku yakin, semahal apa pun harganya, bewok satu ini pasti sanggup membayarnya!" ujar Kiran sambil melirik Marvel.
"Membeli tempat ini juga aku sanggup, apa sih yang gak kalau untuk ayang?" Marvel mengedipkan sebelah matanya.
"Hih, sombong!" seru Kiran.
"Kamu mau makan sendiri apa di suapin?" tanya Marvel.
"Makan sendiri aja. Emangnya aku bayi?"
"Kamu mau bayi?" goda Marvel.
"Apaan sih?" Kiran mendelikkan matanya.
Makan yang sangat nikmat, untuk pertama kalinya Kiran menikmati liburan mewah seperti ini. Menginap di tempat mewah dan mahal, makan enak dengan hamparan pemandangan yang sangat memanjakan mata.
"Setelah ini kamu mau kemana?" tanya Marvel.
Kiran mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkannya pada Marvel.
"Aku mau ke sini," kata Kiran.
"Ya udah, nanti kita pergi ke sana. Sekarang kita nikmati dulu senjanya."
Banyak gambar yang di ambil Kiran, Marvel tidak marah karena ia sadar jika seumuran Kiran ini masih suka hal-hal seperti ini. Meskipun mereka berselisih umur yang cukup jauh, tapi sebisa mungkin Marvel menyeimbangi sikap sang istri, perempuan yang selama ini ia kejar bahkan ia tunggu saat menghilang.