
Pangeran Wang Han bangun dari tidurnya setelah semalaman Dia mabuk karena mengkonsumsi arak yang terlalu banyak.
" Ya ampun! Kenapa kepalaku rasanya sakit sekali?" tanya Pangeran Wang Han sambil terus memegang kepalanya yang terasa berdenyut-denyut sejak tadi.
Pangeran Wang Han kemudian turun dari ranjangnya dan mengambil air minum yang terletak di meja yang tidak jauh dari tempat dia saat ini tidur.
Setelah meminum air minum Pangeran Wang Han kemudian duduk di kursi yang ada di dalam kamarnya.
Pangeran Wang Han mengingat semua kejadian yang terjadi pada malam sebelumnya.
" Apakah Jendral Cie sudah membunuh Xie'er? Aku ingat tadi malam aku memberikan perintah itu kepadanya!" tanya Pangeran Wang Han sambil terus melihat ke arah pintunya di mana ada dua orang pengawal yang sedang menjaga kamarnya sambil terlihat ngantuk-ngantuk.
" Kalian Pulanglah sana! Beristirahatlah dan suruh temanmu yang lain menggantikan kalian!" perintah Pangeran Wang Han kepada pengawal yang langsung membungkukkan tubuhnya di hadapan pameran langsung sebagai ucapan terima kasih mereka.
Pangeran Wang Han sebagai seorang pangeran yang terkenal dan juga sebagai Jenderal yang mengepalai ratusan ribu prajurit. Dia sebenarnya tidak membutuhkan penjagaan pengawal di depan pintu kamarnya hanya saja neneknya selalu saja rewel. Kalau melihat kamar putranya tanpa penjagaan.
Jadi Pangeran Wang Han membiarkan para pengawal itu bekerja asal bisa membuat neneknya tidak ngomel-ngomel terus kepadanya.
Permaisuri memang sangat menjaga putranya dan juga cucunya dia adalah seorang ibu dan Nenek yang baik dan sangat menyayangi semua anak dan cucunya.
Sudah beberapa kali Permaisuri menjodohkan Pangeran Wang Han dengan putri dari negeri tetangga ataupun anak para bangsawan di kerajaan mereka. tetapi Pangeran Wang Han selalu menolak dan tidak mau untuk dijodohkan.
Pangeran Wang han selalu mengatakan bahwa dia ingin menikahi wanita yang dia cintai dan ingin hidup bebas dari aturan kerajaan.
Hal itu benar-benar membuat sang permaisuri menjadi galau dan ketakutan kalau sampai suatu saat nanti Pangeran Wang Han meninggalkan dirinya dan juga kerajaan mereka.
" Kaisar berapa lama Pangeran Wang Han harus kembali ke perbatasan? Apa kau tidak kasihan kepada cucu kita hidupnya hanya berurusan dengan perang dan perang saja. Kapan dia bisa memiliki seorang kekasih Kalau seperti itu?" tanya permaisuri kepada kaisar yang saat ini sedang menyantap makanannya.
Sang Kaisar menatap permaisuri dengan lembut kemudian dia tersenyum kepada istrinya.
" Saat ini Pangeran Wang Han sedang bersemangat untuk mengukir prestasi atas namanya. Aku hanya memberikan fasilitas kepadanya agar dia bisa membanggakan dirinya sendiri ketika usianya masih muda. Percayalah istriku suatu saat nanti ketika cucu kita sudah jatuh cinta dengan seorang wanita. Dia sendiri yang akan minta pulang ke istana dan meminta kita untuk melamar wanitanya!" ucap sang Kaisar sambil tersenyum kepada istrinya yang langsung misuh-misuh tidak setuju.
" Bagaimana cucu kita bisa jatuh cinta kepada seorang perempuan kalau hidupnya hanya sibuk dengan perang dan juga orang-orang kasar itu? Apa kau tidak ingat, bahwa cucu kita hanya hidup di antara para prajurit yang kehidupannya hanya membunuh dan membunuh saja?" tanya sang permaisuri kepada suaminya.
Kaisar membenarkan apa yang dikatakan istrinya tapi dia percaya bahwa suatu saat pasti Pangeran Wang Han akan bertemu dengan seorang perempuan yang bisa membuatnya jatuh cinta.
Setelah menyelesaikan makanannya Kaisar kemudian mendekati istrinya yang masih marah kepada nya.
" Katakan padaku apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu kembali bahagia?" tanya Kaisar kepada permaisuri.
" Buatlah pengaturan pernikahan untuk pangeran Wang Han. Lihatlah Pangeran Wang Xue hidupnya begitu bahagia dengan banyak selir di rumahnya. Tetapi kau Lihatlah Rumah Pangeran Wang Han yang begitu sepi. Bahkan pelayan perempuan saja hanya beberapa orang di sana!" ucap permaisuri.
" Baiklah besok aku akan mengumumkan kepada para bangsawan untuk mengirimkan Putri terbaik mereka yang akan diseleksi untuk menjadi selir dan juga permaisuri untuk pangeran Wang Han!" ucap Kaisar akhirnya menyetujui keinginan istrinya.
Setelah mendapatkan janji dari Kaisar, permaisuri pun akhirnya bisa tersenyum dan merasa bahagia.
Sungguh permaisuri benar-benar merasa miris hatinya melihat kehidupan pangeran Wang Han yang hanya sibuk dengan berperang dan juga mengabdi kepada negara.
Padahal usia pangeran Wang Han dan Pangeran Wang Xue hanya berbeda beberapa tahun saja. Tetapi kehidupan mereka berbeda sekali bagaikan langit dan bumi.
Hari-hari pangeran Wang Xue hanya hidup dengan para selir dan dayangnya yang bejibun di istananya. Entah pernahkah Pangeran Wang Xue memikirkan tentang negara mereka atau tidak.
Semua orang tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh pangeran Wang Xue ketika semua orang sudah tertidur.
Dia bergerilya diantara para pejabat ayahnya yang melakukan makar dan korupsi. Pangeran Wang Xue yang memiliki kehebatan dalam ilmu silat dia menggunakan ilmu silatnya untuk memberantas kejahatan yang ada di kerajaan ayahnya.
Pangeran Wang Xue tidak pernah menonjolkan kehidupannya yang patriotik di hadapan siapapun. Dia selalu memperlihatkan kebengalan di hadapan kedua orang tuanya.
Bagaimanapun Pangeran Wang Xue tidak mau menciptakan kewaspadaan musuh-musuh ayahnya terhadap dirinya.
Pangeran Wang Xue selalu menjadi bayangan yang tidak di kenal siapapun ketika dia melakukan aksinya untuk menolong para rakyat jelata yang kekurangan dan membutuhkan bantuannya.
Para selir yang ada di rumahnya adalah anak buahnya sendiri yang telah dia latih untuk menjadi seorang prajurit handal yang akan dia arahkan sebagai mata-mata ke tempat musuh ketika dibutuhkan.
Jadi kerajaan lain tidak ada yang berani untuk berbuat macam-macam terhadap kerajaan sang Kaisar. Karena ada seorang pangeran Wang Xue yang selalu berjuang dalam kegelapan.
Xie'er pada malam itu tidak sengaja melihat Pangeran Wang Xue yang terluka. Setelah dia menghadapi para bandit gunung yang mau merampok seorang bangsawan kerajaan yang akan pulang kampung setelah dia mengabdi di kerajaan ayahnya.
" Pangeran Wang Xue apa yang terjadi denganmu?" tanya Xie'er merasa khawatir melihat keadaan sang pangeran yang terluka begitu parah di sekujur tubuhnya.
" Tolong kau tutup pintunya dan ambilkan aku obat!" perintah Pangeran Wang Xue yang wajahnya mulai pucat karena sejak tadi darah terus mengucur dari lukanya.
Dengan instingnya Xie'er kemudian berusaha untuk mengobati pangeran Wang Xue yang mulai pingsan karena kelelahan dan juga darah yang terus mengalir dari tubuhnya.
Xie'er yang merasa khawatir dengan keadaan junjungannya dia pun kemudian mencari tabib untuk mengobati Pangeran Wang Xue.
Setelah mendapatkan pengobatan dari tabib istana, keadaan Pangeran Wang Xue semakin membaik. Dengan sangat telaten Xie'er merawat Pangeran Wang Xue tanpa di ketahui siapapun.
Karena ketika orang lain mencari Pangeran pasti akan selalu dijawab oleh Xie'er bahwa sang pangeran sedang pergi ke luar kota. Karena itulah yang selalu disampaikan oleh sang pangeran kepadanya.