
" Kamu mau pulang?" tanya Song Min sambil melihat ke arah Xie'er.
Xie'er hanya menganggukkan kepalanya karena dia benar-benar tidak mampu untuk berkata-kata.
Seketika kenangan itu seakan muncul di dalam benaknya. Entah kenapa Xie'er seperti mengingat kembali semua pertemuan yang pernah mereka lalui di masa lalu.
Xie'er merasa sakit hatinya karena melihat Song min bersama dengan sahabatnya saling berciuman satu sama lain. Jelas-jelas sahabatnya tahu kalau dia mencintai Song Min tetapi mereka berani bermain di belakang Xie'er tanpa merasa bersalah sama sekali.
Xie'er kemudian masuk ke dalam mobilnya dan berniat untuk meninggalkan Song Min yang masih berdiri di sampingnya.
" Aku ingin sekali berbicara denganmu Xie'er. Bolehkah aku ikut denganmu? Setidaknya kita bisa berbicara selama perjalanan ini!" Xie'er kesulitan menelan salivanya sendiri mendapatkan pertanyaan semacam itu dari Song Min yang di masa lalu telah memberikan banyak luka untuknya.
" Maafkan aku tapi aku harus segera menyelesaikan urusanku. Selamat tinggal," Xie'er tidak mau kalau sampai perasaannya terganggu gara-gara laki-laki seperti Song Min yang telah berani mempermainkan perasaannya.
Gara-gara dia dirinya sekarang berpisah dengan sahabatnya bahkan tidak pernah bertemu lagi.
Xie'er sejak itu menjadi gadis yang penyendiri dan menjauh dari lingkungan.
Hingga Xie'er yang terjatuh ke dalam danau dan akhirnya bertemu dengan Pangeran Wang Han.
" Apakah kau masih membenciku? Apakah aku mempunyai salah padamu yang tidak bisa kau maafkan?" Song Min menghentikan Xie'er ketika hendak menutup pintu mobilnya.
Xie'er tetap bersikeras ingin meninggalkan pemuda itu dan dia memaksa untuk menutup pintu mobilnya.
" Tolong hargailah privasi orang lain. Aku benar-benar sedang buru-buru dan tidak ada waktu untuk menemanimu. Kau carilah kekasih kamu. Jangan pernah datang menggangguku lagi!" Xie'er seketika merasa bahwa hatinya sangat benar-benar terganggu gara-gara kehadiran Song Min yang benar-benar di luar rencananya.
Song Min mengerutkan keningnya ketika dia melihat Xie'er yang mulai menangis terisak.
Visualisasi Song Min.
" Xie'er Aku hanya ingin bicara denganmu Kau tidak usah berlebihan seperti itu. Kenapa kau sampai menangis? Apakah aku berbuat jahat kepadamu?" Song Min menatap tajam kepada Xie'er yang bahkan kini semakin kencang menangis.
Song Min semakin kebingungan dibuatnya.
" Kau benar-benar sangat aneh sekali!" Song Min pun kemudian memilih untuk meninggalkan Xie'er yang sudah membuat orang-orang di sekitar jadi memperhatikan mereka berdua.
Song Min hanya takut kalau sampai nanti dia dikira melakukan sesuatu yang buruk kepada Xie'er yang semakin keras menangis.
Xie'er langsung menghentikan tangisnya setelah Song Min pergi meninggalkannya.
" Dasar playboy burik! Idih, mau apa dia datang-datang lagi padaku? Dia pikir dia itu cowok paling keren apa? Idih amit-amit!! Jelas-jelas Pangeran Wang Han adalah yang terbaik dari semua laki-laki yang pernah kukenal!" Xie'er kemudian langsung menyalakan mobilnya dan meninggalkan area parkiran kampus nya.
Xie'er hanya ingin melihat tempat itu saja siapa tahu kalau Pangeran Wang Han akan datang seperti janjinya waktu itu.
Akan tetapi sampai sore Xie'er berada di tempat itu dia tidak melihat sama sekali pergerakan pintu portal terbuka.
Xie'er yang merasa bosan akhirnya memutuskan untuk pulang dan meninggalkan danau dengan kekecewaan.
Saat Xie'er pulang terlihat kedua orang tuanya yang sudah datang dari peternakan dan Mencari keberadaannya dan Pangeran Wang Han yang tidak mereka temukan di manapun.
"Xie'er di mana suamimu? Kenapa tidak kami temukan di mana-mana?" tanya ayahnya.
Xie'er merasa bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut karena bagaimanapun dia tidak mungkin akan mengatakan kalau Pangeran Wang Han bukanlah suami yang sesungguhnya tetapi itu hanyalah karangan semata hanya untuk membuat kedua orang tuanya tidak mengusir sang pangeran dari rumah mereka.
" Kamu ini gimana sih ditanya bukannya menjawab malah melamun begitu!" ibunya Xie'er langsung mangkeplak tangannya untuk menyadarkan putrinya dari lamunan.
" Ibu kenapa sih sukanya bermain kasar begitu," terlihat Xie'er yang misuh-misuh dan kemudian meninggalkan kedua orang tuanya untuk masuk ke dalam kamarnya.
Ibunya Xie'er mengetuk pintu kamar Xie'er dan berusaha untuk membuat putrinya bicara tentang keberadaan menantu yang mereka sukai.
" Xie'er di mana menantuku? Kenapa dia tidak ada di sini apa kau mengusirnya? Kau tidak boleh begitu bagaimanapun dia itu suamimu!" kuping Xie'er semakin gatal rasanya dengan semua pertanyaan dan juga kemarahan kedua orang tuanya yang mencari Pangeran Wang Han.
" Mah dia sudah kembali ke tempatnya dan tidak tahu apakah dia akan kembali ke mari atau tidak!" Xie'er hanya bisa mengatakan hal seperti itu karena dia tidak mungkin menceritakan hal yang sesungguhnya kepada kedua orang tuanya bahwa Pangeran Wang Han adalah seorang pangeran yang datang dari dinasti Ming yang keluar dari danau yang merupakan pintu portal yang menghubungkan dua dunia.
Xie'er sudah bisa memastikan bahwa kedua orang tuanya pasti akan menganggap dirinya sebagai orang gila dan dia tidak mau hal itu terjadi pada dirinya.
" Ke mana memangnya?! Kenapa kau ini benar-benar sangat misterius? Kalau suami kamu pergi ke tempat asalnya. Lalu kenapa kamu tidak ikut dengannya?" tanya ibunya Xie'er kepada putrinya.
" Memangnya kalau aku pergi dibolehkan?" tanya Xie'er sambil menatap kepada ibunya yang tadi hendak masuk ke dalam kamarnya.
" Tentu saja diperbolehkan Kau adalah istrinya tugasmu adalah bersama dengan suamimu!" Xie'er terlihat bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya.
Xie'er berpikir apabila pintu portal itu terbuka lagi, maka dia akan menyusul sang pangeran yang sudah pergi hampir lebih dari satu bulan lamanya tanpa kabar berita.
" Xie'er benar-benar boleh pergi?" tanya Xie'er dengan mata berbinar menatap sang ibu.
Ibu Xie'er terlihat keheranan melihat putrinya yang tidak biasanya. Xie'er biasanya selalu melakukan apapun sesuka hatinya dan tidak pernah bertanya kepada mereka diperbolehkan atau tidak.
" Bersikaplah biasa dan jangan aneh seperti itu kau benar-benar membuat kami jadi takut!" ibunya Xie'er kemudian kembali ke ruang tamu untuk bertemu dengan suaminya yang saat ini sedang menonton televisi.
Suasana di dalam rumah memang terasa begitu sepi sejak kepergian Pangeran Wang Han.
" Baiklah aku akan pergi ketika pintu portal itu terbuka. Bukankah Ibuku dan juga Ayahku sudah mengizinkan aku pergi?" terlihat Xie'er yang merasa begitu bahagia karena sudah mendapatkan lampu hijau dari kedua orang tuanya untuk menyusul kepergian Pangeran Wang Han ke era dinasti Ming.