Cinta Xie'Er

Cinta Xie'Er
37. Dendam permaisuri


Permaisuri Han Jiang merasakan tubuhnya sakit semua. Dia tidak menyangka kalau sang kaisar yang sudah berusia 75 tahun masih memiliki kekuatan layaknya orang berusia 40 tahun. Semalaman dirinya menjadi bulan- bulanan sang kaisar yang tidak pernah merasa puas untuk bercinta dengannya.


Permaisuri Han Jiang melihat sang kaisar yang saat ini sedang tertidur di sampingnya.


' Kalau aku membunuhnya sekarang, dia pasti tidak akan tahu kan? Dia akan mati dengan tenang tanpa banyak keributan.' monolog Permaisuri Han Jiang yang menetap sang Kaisar dengan penuh kebencian.


Permaisuri Han Jiang masih ingat bagaimana jahatnya para prajurit yang menculik dirinya dari kediamannya dan di bawa ke istana sang ayah. Ayahnya memaksa dirinya untuk dijadikan sebagai hadiah kepada sang Kaisar yang sudah tua itu.


Permaisuri Han Jiang merasakan hatinya begitu kesakitan dan tak bisa memaafkan kejadian itu.


Seharusnya dirinya sekarang sedang bersama dengan kekasihnya dan bersiap untuk menikah dengannya alih-alih berada di istana kerajaan Ming yang sangat asing baginya.


Permaisuri Han Jiang terlihat terus menatap sang Kaisar dengan mata berapi-api dan penuh dendam.


' Oh tidak Han Jiang!! kalau kau gagal melakukan itu maka istana kerajaan Ayahmu akan binasa oleh kaisar lalim ini!' bathin Permaisuri Han Jiang akhirnya mengurungkan keinginannya untuk membunuh Sang Kaisar.


Dengan tubuh lunglai dan juga lemas Permaisuri Han Jiang pemilih untuk bangkit dan menuju ke tempat pemandian di mana dayang sudah menunggunya di sana.


" Permaisuri Han Jiang. Bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya dayang yang selama ini selalu setia bersama dengannya.


Permaisuri Han Jiang hanya menganggukkan kepala dan masuk ke dalam tong air yang sudah di siapkan oleh dayangnya.


Permaisuri Han Jiang menggosok sekujur tubuhnya dengan kuat. Berusaha untuk menghilangkan jejak sang Kaisar yang menempel di tubuhnya.


' Koko, maafkan aku! Aku sekarang sudah kotor. Aku tidak suci lagi. Maafkan aku koko!' Permaisuri Han Jiang menangis dalam diam.


Permaisuri Han Jiang mendengar tentang tabiat sang kaisar yang gila. Dia akan marah dan mungkin saja langsung menebas leher wanitanya. Apabila Kaisar mendengar suara tangisan wanitanya yang tidur bersamanya.


Itu seperti sebuah penghinaan bagi sang Kaisar yang merasa sebagai anak langit yang memiliki begitu banyak kekuasaan di atas dunia yang saat ini dia tempati.


Mengingat itu semua Permaisuri Han Jiang kemudian menghapus air matanya karena takut kalau akan meninggalkan jejak kesedihan di matanya.


" Permaisuri Han Jiang apa kau baik-baik saja?" tanya dayang yang merasa khawatir dengan junjungannya.


" Aku baik-baik saja dayang. Kau jangan khawatir. Siapkanlah pakaianku karena aku sudah selesai. Aku tidak mau kalau Kaisar bangun dan dia tidak melihatku ada di sisinya. Aku takut kalau dia akan marah padaku." Ucap Permaisuri Han Jiang yang merasa bahwa dirinya saat ini harus pandai-pandai mengatur diri agar disukai oleh sang Kaisar.


Bagaimanapun pengorbanannya tidak boleh sia-sia. Dia sudah kehilangan segalanya. Jadi dia akan mengambil segalanya dari tangan sang Kaisar sebagai kompensasi dari apa yang sudah dia tinggalkan.


" Terima kasih," Permaisuri Han Jiang kemudian keluar dari kamar mandi, menuju ke dalam kamarnya.


Permaisuri Han Jiang melihat sang kaisar yang tersenyum kepadanya dengan begitu puas.


" Kaisar?? Anda sudah bangun? Maafkan kalau hamba meninggalkan Yang Mulia untuk mandi." Permaisuri Han Jiang terlihat begitu gemetar ketakutan.


Sang Kaisar melambaikan tangannya dan memanggil permaisurinya untuk mendekat kepadanya.


" Kemarilah Permaisuri Han Jiang. Aku ingin memeluk kamu. Tolong jangan ketakutan seperti itu kau adalah permaisuri negara ini. Kau harus kuat dan tegar dengan semua hal. Kemarilah!! Aku hanya ingin menciummu saja." Permaisuri Han Jiang secara perlahan kemudian mendekati sang kaisar yang sedang tersenyum kepadanya.


Permaisuri Han Jiang merasa bulu kudugnya meremang saat Kaisar kembali mencium dan meminta bercinta kembali dengannya.