
" Maafkan mah karena Xie'er sudah membuat Mama dan Papa menjadi khawatir dengan keadaanku!" Xie'er tiba-tiba merasakan hatinya begitu sedih dan juga pilu.
" Kamu kemana Nak?" tanya ayahnya haru.
" Xie'er ditemukan oleh petani yang tidak terlalu jauh dari danau pada beberapa bulan Xie'er mengalami amnesia sehingga tidak bisa pulang ke rumah. Baru sekitar satu bulan yang lalu Xie'er mendapatkan kembali Ingatanku dan akhirnya aku minta diantarkan ke rumah kita kepada pasangan petani itu!" dusta Xie'er pada kedua orang tuanya.
Pangeran Wang Han yang saat ini sedang memperhatikan Xie'er di depan kamarnya. Dia bingung karena Xie'er yang berbohong pada benda pipih yang katanya ada kedua orang tuanya di sana. Pangeran Wang Han juga melihat Xie'er yang menangis hanya gara-gara benda pipih yang di namakan ponsel oleh Xie'er dan terus berbicara sendiri seperti orang gila. Pangeran Wang Han terus menggelengkan kepalanya karena bingung.
" Xie'er benar-benar sangat aneh kenapa dia berbicara sendiri dan bahkan sekarang menangis cuma gara-gara benda aneh itu. Oh, tunggu! Aku rasa tadi dia membelikan satu untukku!" Pangeran Wang Han kemudian membuka tas-tas belanjaan tadi yang ditempatkan oleh Xie'er di atas ranjang miliknya.
Pangeran Wang Han kemudian membuka dus ponsel itu dan mencoba untuk dapat mengoperasikannya. Tapi dia bingung karena benda pipih itu sama sekali tidak menyala seperti milik Xie'er yang keluar cahaya dari benda itu.
" Xie'er coba kau lihat apakah ponsel yang tadi kita beli di mall ini rusak atau tidak kenapa tidak keluar cahaya seperti milikmu!" Pangeran Wang Han tiba-tiba saja berdiri di belakang Xie'er.
Xie'er yang terkejut dengan kehadiran Pangeran Wang Han di belakangnya dia pun langsung mematikan panggilan teleponnya bersama kedua orang tuanya yang tadi sangat terkejut karena di rumah mereka ada seorang laki-laki tampan bersama dengan Putri mereka.
Xie'er langsung mengkeplak bahu Pangeran Wang Han. " Kenapa kau tiba-tiba saja muncul di belakangku?" tanya Xie'er sambil berkacak pinggang di hadapan Pangeran Wang Han.
Pangeran Wang Han hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal merasa heran melihat Xie'er yang sekarang sedang marah-marah kepadanya hanya gara-gara dia tiba-tiba muncul di belakangnya pada saat dia bermain-main dengan benda pipih yang dinamakan ponsel oleh Xie'er.
" Lagian Kamu aneh! Kenapa kau dari tadi bicara sendiri seperti orang gila dengan benda pipih itu? Coba katakan padaku Xie'er! Kenapa punyamu bersinar. Tapi punyaku gelap seperti ini? Apakah punyaku rusak?" tanya Pangeran Wang Han dengan wajah bodohnya yang membuat Xie'er sampai lemas dibuatnya.
Xie'er menghela nafas berat kemudian dia pun mengambil ponsel yang dia tadi belikan untuk Pangeran Wang Han.
" Ponselmu tidak bercahaya, karena kau belum mengaktifkannya! Lihatlah sekarang!" ucap Xie'er setelah ponsel milik Pangeran Wang Han dia aktifkan keluar cahaya yang membuat sang pangeran bersorak karena merasa senang.
" Ya ampun! Kau persis seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru!" ucap Xie'er sambil terus menggelengkan kepalanya karena merasa sangat lucu melihat ekspresi sang pangeran ketika pertama kali memegang ponsel.
" Katakan padaku! Apakah aku juga bisa membuat panggilan? Apakah aku bisa memanggil kakakku yang ada di Dinasti Ming dengan menggunakan benda ini?" begitu banyak pertanyaan di hati Pangeran Wang Han yang ingin sekali dia tanyakan kepada Xie'er.
" Ya jelas nggak lah! Kakakmu itu kan berada di beda dimensi dengan kita saat ini. Frekuensinya berbeda dengan kita. Jadi kau tidak akan bisa melakukan panggilan pada Pangeran Wang Xue. Lagi pula di sana tidak ada benda seperti ini!" ucap Xie'er sambil tertawa begitu lepas.
Untuk sejenak Pangeran Wang Han begitu terpesona melihat kecantikan Xie'er yang begitu paripurna.
Wajah Pangeran Wang Han tiba-tiba memerah ketika dia mengingat kejadian tadi siang yang tanpa sengaja dia masuk ke dalam kamar Xie'er dan melihat gadis itu yang polos tanpa pakaian sama sekali.
" Eh, Kenapa Wajahmu memerah seperti itu? Hayo!! Kamu sedang mikirin apa? Apa jangan-jangan kau sudah memikirkan perempuan yang tadi siang kita temui di mall itu? Siapa itu namanya? Xiang Liu!! Ya, Xiang Liu!! Betul atau tidak?" Pangeran Wang Han tampak gugup dan berusaha untuk menghindari tatapan Xie'er yang sedang berusaha untuk meneliti isi hatinya.
" Tidak!! Kau jangan sembarangan menuduh! Aku bahkan tidak ingat siapa dia dan tidak tahu siapa dia. Sudahlah aku mau tidur saja! Benda pipih ini untukmu saja. Aku pusing memikirkannya!" Pangeran Wang Han kemudian menyerahkan ponselnya kepada Xie'er yang langsung menyerahkannya kembali kepada sang pangeran.
" Lihatlah!!" Xie'er kemudian memanggil nomor telepon yang ada di dalam ponsel milik sang pangeran dia terkejut mendengarkan ponselnya berbunyi dan hampir saja telepon itu Dia banting.
" Ya ampun! Kenapa benda itu berbunyi?" tanya Pangeran Wang Han benar-benar terkejut.
Xie'er tertawa terbahak-bahak melihat ekspresif sang pangeran yang benar-benar sangat lucu.
" Begini, kau tarik tanda hijau ini. Lalu kalau tahu kan ponsel ini di kupingmu!" Xie'er kemudian berbicara dengan ponselnya sendiri dan sang pangeran begitu excited ketika mendengarkan suara Xie'er di ponsel yang dia pegang.
" Pergilah ke kamarmu sekarang. Kita akan mengobrol lewat Ponsel ini. Jadi kau akan mengerti fungsi dari benda pipih ini! Dengan benda pipih ini, aku bisa menghubungimu di manapun kau berada. Asal kau menjawab panggilanku!" Pangeran Wang Han tampak begitu senang ketika mendengarkan suara Xie'er di ponsel yang dia pegang saat ini.
Pangeran Wang Han masuk ke dalam kamarnya dan mengikuti semua instruksi yang dikatakan oleh Xie'er padanya.
Sepanjang malam itu mereka berdua terus berbicara melalui ponsel sampai Xie'er dan Pangeran Wang Han tertidur dan ponselnya mati sendiri karena kehabisan daya.
Tadi siang Xie'er hanya men-charge ponselnya sampai 50% dan dia mengambilnya. Karena Xie'er membutuhkan ponsel itu untuk diisi dengan sim card baru agar dia bisa menghubungi orang tuanya.
Keesokan paginya Pangeran Wang Han terbangun dengan wajah yang sangat kusut karena semalam dia tidur terlambat. Gara-gara dia yang berbicara dengan Xie'er di ponsel sampai larut malam hingga mereka akhirnya jatuh tertidur karena kelelahan dan rasa kantuk yang luar biasa.