
Perjalanan panjang cukup memakan waktu, tetapi tidak ada kata untuk mencairkan suasana. Rasa sesak di dada menyadarkan Papa Anderson, jika sesuatu telah terjadi. Apalagi ketika Danish minta di antar ke tempat Shena kecelakaan. Entah kenapa hati merasa takut untuk meraba kenyataan.
Sikap praktisnya tidak bisa diterapkan karena suasana mengatakan bahwa masa lalu akan kembali dalam kehidupan keluarga mereka. Apakah orang-orang yang pergi akan muncul kembali? Jika benar demikian, apa alasan di balik semua itu? Bukan hanya hati yang meradang menunggu penjelasan.
Satu jam lebih lima belas menit, akhirnya mobil berhenti di pinggir jalan yang memiliki sedikit lahan untuk dijadikan sebagai tempat parkir. Danish meminta pak supir untuk tetap di dalam mobil, sedangkan ia dan papanya turun bersama menyebrang jalan raya untuk mencapai sisi lain jalan.
Ia ingat benar letak dari penemuan pihak kepolisian yang menemukan mobil bersama jasad sopir serta Shena yang ditemukan di tempat lain. Sesaat sibuk mengamati sekitar sembari mereka adegan untuk melepaskan seluruh keraguan yang tersisa.
"Dan, apa yang terjadi?" Papa Anderson semakin bingung dengan tingkah putranya yang seperti hilang akal, dimana Dan mondar-mandir menghitung langkah kaki tanpa menjelaskan apa-apa.
"Apa Papa masih menyimpan foto dari peristiwa penemuan Shena? Jika iya, tolong kirim ke Dan sekarang juga." Danish mengabaikan pertanyaan papanya, tetapi meminta sesuatu yang sangat dibutuhkan.
Di tengah kebingungan, Papa Anderson tetap memberikan apa yang diminta putranya. Meski untuk itu harus menelpon beberapa orang yang menangani kasus kecelakaan tunggal, tetap saja ia lakukan demi meringankan beban Danish yang tampak begitu berantakan.
Sembari menunggu, Danish menatap kejauhan. Dimana di depan mata hanya ada pepohonan dengan jurang yang dalam, ia memikirkan apakah kecelakaan itu hanya insiden biasa atau ada yang merencanakan. Sekali lagi mencoba untuk tenang menelisik kebenaran meski kenyataan sudah tidak bisa diubah.
"Dan, foto kecelakaan." Papa Anderson membuka ponsel yang mendapatkan pesan gambar dari sang tangan kanan, membuat sang putra beranjak berjalan menghampirinya tanpa senyuman. "Bisa jelaskan apa yang terjadi sekarang?"
"Papa akan tahu, tapi beri aku waktu untuk memastikan hal terakhir," Dan menerima benda pipih milik papanya, lalu melakukan pengecekan bahkan tidak tanggung-tanggung.
Dimana ia mengirimkan foto itu pada beberapa orang yang bisa membantu hasil dari penyelidikan. Papa Anderson menjadi team penyimak yang berdiam diri mendengar perintah Dan untuk beberapa orang yang mendapat panggilan dadakan. Lima belas menit digunakan untuk melakukan langkah terakhir.
"Papa ingat kalung yang aku berikan pada Shena saat hari valentine?" Dan bertanya seraya mencari sebuah gambar dari gallery ponselnya sendiri, lalu menunjukkan foto yang dimaksud ke Papa Anderson. "Kalung yang asli ditemukan di sebuah rumah kosong oleh seorang pemulung empat bulan setelah kecelakaan."
Papa Anderson melihat foto kalung yang masih berada di toko. Pasti foto itu diambil saat hari pembelanjaan putranya, hanya saja apa maksud dari penjelasan pertama itu? Jujur saja masih jauh dari kata memahami kebenaran yang ingin ditunjukkan oleh Danish.
Dan menggeser gambar yang langsung ke foto keadaan Shena yang jatuh dengan keadaan wajah rusak, dan foto itu diambil oleh petugas kepolisian. "Kalung yang dipake memang sama, tapi kalung itu palsu. Seharusnya liontin bersinar begitu terkena pantulan sinar matahari."
"Saat itu, aku fokus dengan darah yang berlumuran di pakaian Shena hingga tidak memperhatikan hal-hal terkecil sekalipun. Termasuk kalung yang melingkar di lehernya," Dan kembali menggeser layar yang menunjukkan foto di rumah sakit. "Papa lihat, perbedaan antara wajah dan juga seluruh permukaan tubuhnya?"
Bukan bermaksud untuk bermain teka-teki, ia hanya ingin menjelaskan serangkaian peristiwa yang menjadi titik keraguan terhadap masalahnya saat ini. Jika berbicara tanpa bukti, bagaimana Papanya akan percaya? Meski ia tahu, kepercayaan tidak bisa diragukan lagi.
"Wanita itu bukan Shena, Pa. Aku yakin, dia bukan istriku." Tatapan mata tajam menenggelamkan menyentak kesadaran sang papa yang terkejut akan jawaban jelas darinya. "Benar, Pa. Dia wanita lain, aku bisa membuktikan itu di sini."
Ingin percaya dan bertanya bagaimana itu mungkin, tetapi yang terjadi sebaliknya. Tidak paham kenapa putranya bisa berpikir seperti itu. Padahal selama setahun keluarga berjuang bersama untuk kembali harmonis. Terutama Shena, sang menantu yang memiliki trauma dan harus menjalani perawatan intens.
"Nak, sepertinya kamu kurang istirahat. Ayo kita pulang ...," Papa Anderson menggenggam tangan putranya itu dan berniat membawa Danish untuk kembali bersamanya, tetapi pria satu itu diam tak bergeming.
"Shena ada ditempat lain, Pa. Hatiku meronta berteriak menyebut memanggil namanya. Selama ini semua firasat selalu aku abaikan, tapi tidak lagi sekarang." Danish melepaskan tangan papanya, "Aku ingin kembali bersama istriku. Aku mencintai Shena, Pa. Hati ini tidak bisa tenang."
Rintihan hati yang menyayat emosi seorang ayah. Tanpa sadar, air mata turun membasahi kedua pipinya. Cinta bukanlah rasa yang biasa karena cinta akan selalu menunjukkan jalan kebenaran. Ingin membantah, lalu mengatakan bahwa Shena ada bersama mereka. Akan tetapi, hatinya saja ikut menerima pernyataan sang putra.
"Apa alasanmu hingga yakin bahwa Shena bukanlah SheZa? Apa karena kesimpulan yang baru saja kamu jelaskan atau ada hal lain? Kita tahu benar, apapun keraguan hati tetaplah membutuhkan bukti." Jelas Papa Anderson menghantar suara lara yang selama ini terlupakan.
Danish tahu, papanya tidak akan semudah itu mengikuti kesimpulan yang selama ini merasuk menggoyahkan keyakinan hatinya. Ia tak ingin orang yang selalu menjadi tempatnya berpulang melepaskan kepercayaan tanpa ada kesempatan. Suka, tak suka maka harus menjelaskan.
Semilir angin yang meriapkan helaian rambut serta menampar lembut wajah yang kian dingin, membuat ke dua pria itu tenggelam dalam perdebatan. Antara keyakinan, kepercayaan, dan bukti. Danish menjadi pendongeng dadakan, sedangkan Papa Anderson hanya bisa mendengar seraya sesekali mempertanyakan.
Satu jam berlalu, hingga akhirnya Papa Anderson ikut terdiam tanpa kata. Jangankan ketenangan, untuk tetap berdiri dengan kakinya saja, ia harus menerima bantuan Danish yang sigap menangkap tubuh olengnya. Ketegangan di pikiran, lebih hancur hati yang kian tertanam.
"Katakan pada Papa. Wanita yang menjadi menantuku, siapa dia? Kenapa menyamar menjadi Shena? Apakah dia tidak takut dengan karma?" Papa Anderson menguatkan diri untuk tetap sadar di sisa ketidakstabilan.
Ia paham dengan duka yang dirasakan papanya. Ingin sekali diam agar hati orang tua tetap aman terkendali, tetapi ia hanya punya satu sandaran yang memiliki hak untuk tahu segalanya. Mau, tak mau harus berkata jujur tanpa mengurangi kasih sayang.
"Dia," Dan menahan nafasnya, "Tiara mantan tunangan ...,"