Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 51: Keingintahuan Shena


Satu jam kemudian. Shena akhirnya keluar dari kamar mandi. Langkah kaki yang tertahan hingga berjalan begitu pelan. Tak ayal membuat Danish langsung bertindak dengan mendatangi sang istri, lalu menggendongnya tanpa permisi. Kemudian mendudukkan ke atas sofa agar lebih nyaman untuk menikmati sarapan bersama.


Di atas meja kaca sudah tersedia dua porsi nasi goreng sosis yang juga ditaburi udang crispy. Ditambah dua gelas jus mangga yang terlihat segar menggoda. Menu sarapan berat, tetapi tidak mungkin ditolak.



Danish menyiapkan segala sesuatunya pagi ini. Pria itu ingin memberikan pelayanan terbaik. Meski ia tidak tahu tentang makanan dan minuman kesukaan Shena. Ini murni niat seorang suami yang ingin menyenangkan hati istrinya.



"Mas, apa kamu yang buat nasi gorengnya?" Shena menatap menu sarapan pagi dengan binar kata bahagia, membuat Dan tersenyum tipis seraya mengulurkan sepiring nasi goreng dari atas meja.



"Kita makan dulu, dan ya. Aku sudah izinkan kamu hari ini dengan pembimbing kelas. Jadi jangan khawatir soal kuliah." Ucap Danish sebelum memulai berdoa, kemudian menikmati sarapan paginya.



Suara denting sendok yang saling bersahutan menjadi pengusir kesunyian. Keduanya begitu tenang menikmati makanan hingga tak terasa dalam waktu singkat menyisakan piring kotor saja. Rasanya kenyang, tapi tenggorokan terasa tidak nyaman. Seruput jus mangga melegakan.



Wajah puas dengan lidah bergoyang. Diakui menu sarapan pagi yang lezat, bahkan tidak kalah dengan rasa restoran. Lihat saja, Shena masih berusaha mengecap sisa rasa kenikmatan yang memiliki cita rasa berbeda.



"SheZa, sini tanganmu!" Danish menarik tangan Shena yang masih saja bermain di atas piring, lalu mengelap dengan tisu basah, kemudian di ulang dengan tisu kering. "Sekarang, apa yang akan kita lakukan di rumah?"



Entahlah. Dia pun tak tahu. Lagi pula, di dalam otaknya hanya ada tentang proyek, proyek dan proyek. Selain pelajaran, tidak ada lagi yang lain. Hanya saja, apakah Danish tidak berniat berangkat kerja? Padahal waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi.



Melihat sang istri yang justru melamun. Tangannya terulur mengusap kepala gadis yang duduk di sebelahnya. "Apa yang istriku pikirkan? Jangan bilang tentang semalam."



"Mas! Jangan aneh-aneh, deh." Shena mencebikkan bibir membuat Danish terkekeh pelan.



Tatapan mata saling beradu, namun dengan cepat Shena memutuskan pandangan matanya beralih ke luar sana. Dimana tirai yang terus bergoyang dengan pintu balkon yang terbuka lebar. Pantas saja udaranya segar. Ternyata sirkulasi udara berjalan dengan lancar.



"Mas, boleh aku tahu. Bagaimana sejarah antara kamu dan Fatih? Jika tidak keberatan." Ucap Shena setengah lirih, bahkan hampir tidak terdengar jika tidak mendengarkan.



Pertanyaan yang terbuka dengan niat yang pasti. Apakah ada yang mengusik pikiran isterinya? Jika iya, apakah ini berkaitan dengan Fatih, adik angkatnya? Sejenak memikirkan beberapa kemungkinan, hingga ia mendengar penjelasan atas pertanyaan yang Shena ajukan.



Shena menghela nafas panjang, "Aku ingin mengatakan sebuah kebenaran, tapi sebelum itu. Aku ingin tahu apa hubungan kalian kerabat jauh, atau kerabat dekat atau hanya sebatas perikemanusiaan. Apapun jawaban dari Mas Dan. Itu yang akan menentukan."




Setelah memikirkan dengan matang. Diraihnya kedua tangan sang istri, usapan lembut dalam genggaman tangan dengan pandangan saling menenggelamkan. Ketika manusia mengatakan sebuah kejujuran, maka sorot mata akan menjelaskan tanpa keraguan.



"Fatih, ya?" Suara berat Dan terdengar berbeda, seakan beban puluhan ton ada di pundaknya. "Sebenarnya, keluarga Anderson tdak memiliki hubungan apapun dengan Fatih. Jika bukan karena satu pertolongan yang menjadi balas budi. Mungkin, keluargaku tidak mengangkat Fatih sebagai anak angkat."



Mencoba mencerna dengan apa yang suaminya jelaskan. Jika memang bukan saudara, berarti perikemanusiaan. Namun, apa maksud dari satu pertolongan dan balas budi? Siapa yang menjadi penolong? Lalu, siapa yang harus membayarnya dengan balas budi?



"Jangan bingung, Istriku. Cukup dengarkan dulu, baru kamu bisa memahami apa yang terjadi secara keseluruhan kisah keluarga Anderson. Dulu, di saat kami mengalami krisis ekonomi. Papa bekerja apa saja agar bisa menafkahi anak dan istrinya. Meskipun harus berpanas-panasan di jalanan."



Kisah antara keluarga Anderson dan orang tua Fatih dimulai beberapa tahun yang lampau. Dulu, di saat Danish masih berusia lima belas tahun. Anderson yang memiliki bisnis, tetapi dicurangi oleh rekan bisnisnya. Pria itu berakhir menjadi pedagang keliling. Bisa dikatakan fase kehidupan titik terendah.



Di saat itulah mengenal ayah dari Fatih yang notabene sebagai seorang manager cafe. Setahun berteman, hingga akhirnya Anderson mulai pindah kota untuk memulai bisnis barunya agar bisa maju. Tidak ada yang tahu, jika seperempat dari uang yang digunakan untuk modal bisnis. Dana itu dipinjamkan oleh ayah Fatih.



Kebenaran itu tersimpan rapat antara Anderson dan Ayah Fatih. Namun, setiap rahasia akan terbongkar dengan sendirinya. Semua hanya tentang waktu, cepat atau lambat. Ketika rahasia menjadi perdebatan keluarga. Disaat bersamaan, keluarga Fatih mengalami musibah.



Saat itu, usia Fatih menginjak tujuh belas tahun. Akibat dari kecelakaan tunggal. Orang tuanya meninggal ditempat dan demi membalas kebaikan Ayah Fatih. Maka Anderson mengambil sikap cepat tanggap dengan mengangkat Fatih sebagai putra kedua. Inisiatif yang baik hingga mendapatkan dukungan penuh dari keluarga.



Mama Quinara yang tidak bisa hamil lagi karena rahimnya sudah diangkat. Ditambah harta yang mereka punya juga memiliki hak atas nama Fatih. Maka, tidak ada penolakan demi kebaikan bersama. Bukan tanpa alasan, kenapa keluarga itu memberikan fasilitas terbaik pada Fatih.



Ibarat tangan yang menerima bantuan, maka siap melakukan kebaikan yang sama tanpa harus mempertimbangkan untung dan rugi. Sejak saat itulah, Fatih dianggap sebagai keluarga tanpa mengungkit akan masa lalu atau identitas dari pemuda itu sendiri.



Kisah yang manis dengan kebenaran yang nyata. Shena menautkan kedua tangan. Dilema. Setelah ia mendengar kisah satu sisi. Kenapa hatinya tak sanggup mengatakan kebenaran dari sisi lain. Mungkin selama ini tidak ada masalah antara Danish dan Fatih.



Akan tetapi, masalah datang hanya karena kehadirannya di dalam kehidupan keluarga Anderson. Ini berarti, jika dia jujur. Bisa jadi Danish percaya, tapi kemungkinan terburuk akan menjadi orang asing yang diragukan ucapannya. Mencoba menimbang baik dan buruknya untuk kejujuran.



"Mas, mana yang lebih berat. Kebenaran? Kejujuran? Kepercayaan?" tanya Shena melepaskan tautan tangan, lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang sofa.



"Kebenaran tidak akan berarti tanpa kejujuran hingga kepercayaan hilang tanpa jejak. Aku merasa masalah kali ini lebih serius dari yang kupikirkan. SheZa, please jangan bermain teka-teki denganku. Katakanlah apa yang kamu rahasiakan dariku!"