
Tatapan mata hancur nan kosong, mengatakan saat ini kondisi Shena tengah tidak baik. Dan mencoba untuk merengkuh tubuh gadis itu, namun ada yang menghalangi. Disaat sang istri menggelengkan kepalanya.
"SheZa! Sadarlah." pinta Danish menatap penuh harap.
"Aku tahu, kita sudah menikah." Shena membalas tatapan Danish, tatapan nanar tetapi berselimut pemberontakan. "Sekali saja. Biarkan aku melakukan hal yang benar. Izinkan aku berbicara dengan pria yang mengatakan sebagai ayah kandungku."
Pernyataan yang menohok hati. Tidak tahu harus menjawab apa, ketika istrinya masih memiliki pengendalian diri yang tegas. Pakaian basah dengan wajah pucat tidak dipedulikan gadis itu, akhirnya ia menyerah memberikan jalan pada sang istri.
Langkah kaki kembali menuruni anak tangga menghampiri pria yang tersenyum penuh kemenangan. Sudah pasti, pria itu merasa diatas awan dengan kedatangan Shena hingga senyuman lebar menampilkan gigi rapi tercetak sempurna.
"Hay, bisa ku tahu. Siapa namamu, Ayah." Tukas Shena begitu santainya setelah berdiri di depan pria yang mengaku menjadi ayah kandungnya.
"Bastian." Jawab pria itu sumringah, ia berpikir kehadirannya akan diterima baik dengan permulaan itu, tetapi ketika senyuman di wajah menghilang. Seketika aura disekitarnya berubah, entah kenapa bulu kuduk mulai berdiri. "Nak!"
"Kenapa? Apa ada yang salah." seloroh Shena yang tidak lagi menahan emosi dari dalam hatinya. "Ayah Bastian. Bisa katakan satu hal padaku. Apa makanan favorit ku?"
Hening.
"Bagaimana dengan film kesukaan ku, atau tempat favorit ku saat menikmati akhir pekan. Sebagai seorang ayah, tentu Anda tahu segala sesuatu tentang diriku bukan? Jadi, sekarang, katakan siapa aku dan apa saja yang kusuka dan yang kubenci. Bisa?" Jelas Shena panjang kali lebar membuat Bastian terperangah.
Bagaimana mengatakan tentang kehidupan gadis itu? Jika selama ini, dia hidup di penjara, bahkan sebenarnya dengan sukarela menyerahkan bayi mungil miliknya kepada keluarga William. Shena memang darah dagingnya, tetapi bukan dia yang membesarkannya.
Bastian kebingungan ingin menjawab apa. Setiap pertanyaan tidak satupun ia memiliki jawabannya. Keheningan dengan wajah ambigu yang terlihat begitu jelas, membuat Shena mengambilkan segelas air. Lalu disodorkan ke pria itu, tidak ada yang bisa dilakukan lagi.
"Apa Anda suka melakukan pemaksaan? Katakan, seberapa penting satu pukulan untuk satu pemaksaan yang biasa Anda lakukan?" tanya Shena mengalihkan topik pembicaraan, membuat Danish menaikkan alisnya.
Tiba-tiba perasaannya mengatakan sesuatu akan terjadi tapi ntah apa yang akan dilakukan oleh istrinya itu. Satu hal pasti, tidak akan ada kelembutan selain kekerasan. Benar saja, Shena menarik tangan Bastian meninggalkan ruang tamu. Langkahnya berjalan menuju pintu kaca.
Dari depan saja, sudah jelas itu ruangan olahraga. Danish terus berjalan menjadi ekor, begitu juga dengan anggota keluarga yang lain. Tidak satupun berani menghentikan Shena. Bukan karena tidak ingin. Namun mereka tahu, disini seorang putri tengah mencari keadilan.
Dilepaskannya tangan Bastian, setelah keduanya memasuki ruangan olahraga. Dimana kini, mereka berdiri di atas ring dengan tatapan saling terpaku. Shena berbalik mengambil dua pasang kain untuk membalut tangan. Satu pasang untuknya, dan satu lagi, gadis itu memasangkannya ke tangan Bastian.
"Darah kita sama. Iya 'kan?" Shena bertanya sambil terus membalut kain putih itu ditangan Bastian. "Mari buktikan. Darah yang lebih kental, atau cinta yang lebih kuat."
"She ...,"
Shena meletakkan jemarinya di depan bibir. "Stttt. Mereka tidak akan berani mengacaukan jalanku. Disini hanya aku dan Anda. So, let's to make finish." (Jadi, mari kita selesaikan.)
Tanpa aba-aba. Shena memulai pertarungan. Tangannya menyambar kesadaran Bastian. Putri dan ayah saling menyerang. Tendangan yang melesat berganti bogem mentah. Kekuatan fisik yang berbeda, tetapi kegesitan Shena jauh lebih cepat dan baik. Suara teriakan Mama Melati tak menyudahi pertarungan keduanya.
Danish meringis merasakan betapa sakitnya ketika pria yang mengaku sebagai ayah kandung Shena tanpa hati melayangkan pukulan telak hingga darah mengalir dari bibir istrinya. Sudah cukup. Apapun titel Shena, dia tetap seorang wanita dan tanpa permisi. Pria itu melompat memasuki ring pertarungan dengan tendangan perlindungan.
"Damt it!" seru Bastian semakin murka, tetapi Danish tidak peduli dan membantu Shena bangun.
"Diam! Jangan membantahku." tegas Dan menatap serius, lalu mengalihkan perhatiannya kembali pada Bastian. "Kau ini seorang AYAH. Apa BAJ!NGAN."