Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 130: Kisah Berbalut Luka, Pelarian Sukses


"Stop!" ucap tegas Selena menghentikan pernyataan yang bisa membakar banyak hati. "Ma, Aku berjanji untuk menyatukan Ka Dan bersama Shena demi penebusan dosaku. Jangan mencoba untuk merubah jalanku. Ini keputusan mutlak Queen Selena."


"Nak dengarkan dulu," Mama Quinara berusaha menahan tangan Selena yang terlepas dari genggaman tangannya, tetapi wanita yang ia harapkan untuk menjadi menantu kedua memilih beranjak dari tempatnya.


Sayangnya bukan hanya Selena saja. Satu persatu ikut menyusul kecuali Xavier yang tak ingin memberi penekanan pada wanita itu, ia sadar bahwa hati seorang ibu tengah diambang dilema. Bukan perkara mudah untuk melihat penderitaan seorang anak selama setahun penuh.


"Ma, minumlah." Segelas air dia sodorkan agar bisa melepaskan dahaga, "Tenang, Ma. Mereka tidak akan marah terlalu lama."


Mama Quinara menolak gelas pemberian Xavier. Ia sadar akan kesalahannya, tapi keputusan yang diambil sudah dipikirkan berulang kali. Bukan karena tidak sayang dengan Shena hanya saja Ravindra membutuhkan seorang ibu yang bisa mengasuh serta mendidik agar menjadi anak yang bertanggung jawab.


Mungkin penyampaiannya kurang tepat atau memang belum waktunya. Entahlah karena yang terjadi justru penolakan langsung dari Selena. Pasti akan tercipta jarak di antara mereka semua. Benar-benar tidak bisa diubah lagi karena keinginan hati sudah terlanjur terungkap.


Kesibukan Xavier membujuk Mama Quinara, justru berbanding terbalik dengan keadaan Selena. Dimana wanita itu langsung berlari menuju kolam renang dan tanpa basa basi menjatuhkan diri hingga tenggelam bersemedi. Tindakan nekad yang dilihat Naina, Siti dan Rafael. Ketiga orang itu langsung terbelalak tak percaya.


Jika Shena terbiasa menenggelamkan diri di dalam bathup. Selena lebih suka duduk bersila di bawah di dalam kolam renang. Susah mirip pertapa di India saja. Justru karena itu, wanita satu itu tidak memiliki dendam yang bisa terbaca dari ekspresi wajahnya. Pembawaan yang selalu tenang.


Selama lima belas menit tidak ada pergerakan, membuat yang menunggu merasa was-was. Rafael yang ingin mencari tahu di bawah sana ada apa hanya bisa tertahan karena kemunculan Selena yang mendadak menyembul dari dalam air. Wajah wanita itu sudah kembali tenang tanpa amarah.


"Kalian sedang apa? Jangan bilang menungguku." terka Selena membuat Nai berjalan menghampirinya yang berenang ke tepian. "Jangan terlalu dekat ke kolam, lantainya licin."


Peringatan Selena menghentikan langkah Nai, ia tak ingin membahayakan janin yang ada di dalam rahimnya. Terkadang memang emosi lebih cepat naik, padahal sudah berusaha untuk mengendalikan diri. Biasa mood ibu hamil tuh naik turun sesuka hati. Terkadang karena hal sepele saja bisa langsung nangis.


"Aku tidak tahu penilaian kalian tentangku, tapi percayalah bahwa Aku tidak berniat merebut milik Shena. Danish sangat mencintai istrinya. Jangankan menyatukan bumi dan langit, pria itu sanggup menjadi bujang seumur hidup jika tidak menemukan sang pujaan hati. Cintanya jauh lebih berharga dari keinginan kecilku.


"By the way, Aku pernah mengutarakan isi hati tanpa rasa malu. Tatapan matanya masih ku ingat, tajam tetapi menghanyutkan. Rasanya ingin tenggelam melupakan dunia ini, tapi Danish dengan lantang mengumumkan dia hidup hanya untuk satu hak yang dimiliki Shena. Raga, jiwa dan cinta, semua hanya untuk sang istri tercinta.


"Jujur saja, sakit hingga aku sadar tawarannya lebih menghanyutkan emosiku. Uluran tangan sebagai seorang kakak. Hati ini berdetak lebih hangat." Selena mengingat hari dimana ia duduk berhadapan dengan Dan dibalik jeruji besi.


Kisah yang baru menjadi kehidupan nyata. Ia tak pernah memimpikan hati yang tulus menyirami kasih sayang, selain kakaknya Black. Satu kesempatan menjadi bagian keluarga yang penuh cinta. Lalu bagaimana akan mengkhianati kepercayaan Dan? Tidak. Semua dimulai dengan kepercayaan, maka harus teguh pada keyakinan.


Rafael, Naina dan Siti merasa ikut hanyut akan rasa cinta berbalut luka milik Selena untuk Danish. Akan tetapi sadar bahwa Shena layak menjadi istri yang pantas diperjuangkan. Tidak peduli jika saat ini keadaan masih tidak sadarkan diri. Selama menjadi istri seorang Danish Anderson, wanita yang kini menjadi seorang ibu itu sudah memenuhi semua kewajiban sebagai pasangan.


Sebuah kisah yang berakhir dengan kepercayaan. Masihkah mencoba untuk mengusik hubungan yang telah terjalin sedemikian rupa? Nyatanya mereka hanya bisa mengulurkan tangan menawarkan persaudaraan. Selena mendapatkan keluarganya, sedangkan Fatih harus menikmati siksaan di dalam balik jeruji besi.


"Stop!" Teriak tegas dari arah pintu masuk ruang tahanan, membuat petugas menghentikan hukuman. "Lepaskan!"


Perintah yang tidak bisa diganggu gugat, membuat para petugas pasrah melakukan keinginan pemimpin mereka. Tubuh kekar itu jatuh mencium keramik dengan keadaan lemah tak berdaya. Kelopak mata yang kian berat menjemput kegelapan tanpa ada sisa cahaya. Akan tetapi suara lembut masih bisa terdengar begitu lirih memanggilnya.


"Sorry ...,"


Hilang sudah kesadarannya, membuat Muana tak lagi bisa menahan diri. Dibawanya pria itu ke ruang pemeriksaan. Meski tubuh Fatih lebih kekar, ia tak kalah kuat dibandingkan wanita lain. Kendatipun tubuhnya kecil dengan berat badan proporsional. Wanita itu meminta dokter untuk melakukan tugas dengan baik agar memastikan tidak ada luka dalam.


Sembari menunggu di luar ruangan, Muana sibuk memeriksa beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan. Penantian yang panjang mengalihkan perhatiannya, tetapi wanita itu tidak sadar akan bahaya yang mengintai. Di dalam ruangan pemeriksaan Fatih yang berpura-pura pingsan langsung menyerang dokter dengan menyuntikkan obat bius dosis tinggi.


Lalu mengubah penampilan dengan bertukar tempat menjadi dokter yang memiliki wajah tidak enak dipandang karena tidak tampan rupawan. Seulas senyum puas tersungging di bibir nakalnya, "Welcome back, Devil. Sekarang waktunya balas dendam, tapi siapa dulu yang harus dijadikan persembahan? Dilema selalu menyusahkan otakku."


Pria penyamar mengenakan masker dan juga berhasil melewati semua titik pengawasan hingga akhirnya menghentikan taksi online yang kebetulan lewat di jalan depan kantor polisi. "Rumah xxx, jangan nyetir kaya siput!"


Kegemparan di kantor polisi baru dimulai begitu Muana sadar akan pelarian yang Fatih lakukan. Wanita itu langsung memberikan perintah tembak ditempat untuk semua opsir yang bertugas misi penangkapan tahanan yang kabur. Tidak ada lagi kata esok karena sadar target Fatih bukan main-main.


Dunia selalu memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan siapa lawan dan siapa kawan. Terkadang untuk menentukan pilihan, manusia bisa salah memilih. Namun tidak dengan takdir. Semua yang digariskan akan selalu mengikuti rencana Sang Pencipta. Seperti musim yang terus berganti dengan kurun waktu yang berbeda, membuat manusia berupaya mengenali gejala alam di sekitar mereka.


Pelarian pertama tanpa usaha keras, membuat Fatih kembali ke rumah lamanya. Pihak kepolisian dan lawan pasti berpikir ia akan mendatangi markas atau rumah tempat kejadian perkara. Pemikiran realistis yang wajar menjadi kesimpulan pertama tanpa harus dijelaskan. Akan tetapi mereka yang berpikir tanpa melibatkan emosi, justru suka dengan teka-teki.


Rumah tinggalan kedua orang tuanya hanyalah bangunan terbengkalai yang dianggap rumah pembawa petaka oleh masyarakat sekitar. Rumah itu ditumbuhi rumput ilalang serta tak terawat. Benar-benar mirip rumah hantu, bahkan supir taksi langsung melajukan mobil tanpa meminta bayaran.


"Dasar penakut! Rumah terbaik aja dianggep sarang setan. Gimana lihat rumah gedong milikku yang di tempat lain? Ck. Tidak berguna." omel Fatih dengan langkah kaki berjalan menyusuri sisa setapak yang sudah tidak nampak.


Rumah yang pantas dijadikan sebagai wisata rumput liar, tetapi kini akan menjadi tempat tinggal teramannya. Yah, selain tak seorangpun akan berpikir tempat tersebut. Mereka juga pasti mengira pelariannya untuk membalaskan dendam yang kian mencabik jiwa. Maka bisa dipastikan berusaha melindungi para tersangka yang harus mempertanggungjawabkan atas mendekamnya dia di balik jeruji besi selama beberapa hari.


Seperti kobaran api yang cepat menjalar, berita pelarian Fatih sampai juga di telinga Black yang langsung mengatakan hal itu pada Danish. Lagi dan lagi terjadi keganjilan. Beberapa hari lalu hanya ada berita penangkapan, lalu hari ini berita pelarian sang tahanan. Sungguh mirip mie rebus komplit ditambah bubuk cape yang melimpah.


"Dan! Sebaiknya kamu kembali ke London." ucap Black menyarankan demi kebaikan Danish.