Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 111: RACUN


Ingin sekali memberontak melayangkan bogem mentah pada pria yang semakin berjalan mendekati ranjang. Akan tetapi ada sesuatu yang salah. Aliran darah yang mengalir di tubuh terasa panas seperti baru meminum minuman beralkohol. Hawa tak enak mulai menguasai raga.


Suara detak jantung yang semakin cepat hingga terdengar dag dig dug begitu kencang. Tubuhnya berusaha melakukan perlawanan, tetapi ada zat yang mengalir terus menyerang benteng pertahanan. Sakit, panas bercampur menipisnya pasokan oksigen yang ada di sekitar.


"Sakit pasti, apa sesak juga napasmu?" Ditatapnya Tiara dengan pilu, lalu mengusap wajah wanita itu penuh perasaan. "Tenang. Racun hanya bekerja selama lima belas menit dan hidupmu tetap kembali bersamaku."


"Pasti kamu bingung dengan perbuatanku yang satu ini 'kan? Baiklah biar ku perjelas. Selama ini kehidupan memisahkan semua orang, my life very happily. Tiba-tiba ketika aku kembali ke Indonesia dan berkat satu panggilan darimu, you success makes damage in my life.


"So, this is a punishment to you. Well, selama sisa hidupmu hanya aku yang bisa mengasihi. Tidak peduli siang ataupun malam, kamu menjadi boneka kesayanganku. Ups, maksudku wanita pelampiasan yang pantas dikekang. By the way, semua akan kembali normal hanya saja tidak dengan tubuh molekmu.


"I hope you understand, kehidupan bukan tentang cinta melainkan pengendalian diri. Tidak satupun bisa digenggam ketika usaha hanya biasa saja." ucapnya menyelesaikan pidato yang terlalu banyak, membuat tenggorokan haus seketika.


Tiara yang sekarat dengan tubuh kejang-kejang dibiarkan tanpa penawar obat. Pria itu justru tersenyum puas sambil bersenandung nada siulan, lalu beranjak dari ranjang. Langkah kaki berjalan menjauhkan diri meninggalkan wanita itu sendirian menikmati siksaan.


"Manusia lemah tidak baik untuk dipertahankan. Seharusnya aku melenyapkan Tiara karena menjadi alasan Shena ku pergi entah kemana, but lihat saja nanti. Semua milikku pasti kembali padaku. Jika tidak maka hancurkan saja semua orang yang menjadi penghalang." ucap Fatih dengan api amarah yang menyulut membara di dalam hati dan kepalanya.


Kegagalannya mencari Shena justru membawa ia pada Tiara yang seketika merebut perhatian dan waktunya. Semua sudah diatur, tetapi bukan untuk menyelamatkan melainkan untuk menghancurkan. Ia pikir, keluarga Anderson akan mencari keberadaan Shena yang kabur dari penjara.


Sedikit pesimis untuk hal itu. Bagaimanapun Shena yang asli adalah seorang gadis baik hati dan tidak mungkin menjadi murka, apalagi membabi-buta ketika emosi meledak. Gadis yang memiliki pengendalian diri jauh lebih baik dari siapapun. Hanya saja, sejak amnesia karakteristik berubah drastis menjadi manja serta mudah ngambek.


Rasa khawatirnya kembali hadir mengingat setahun ini, ia menjaga Shena sebagai bunga di dalam kaca. Lalu tiba-tiba gadis itu menghilang dan entah ada dimana. Sudah makankah? Orang lain bisa menilainya sebagai pria posesif karena itu ditujukan demi melindungi sang pujaan hati.


"Shena, Aku rindu kamu. Please pulanglah!" Fatih memejamkan mata mengenang setahun terakhir kebersamaan mereka berdua, sedangkan yang dikenang masih dalam keadaan terlelap karena pengaruh obat dengan selang infus serta peralatan medis di sekujur tubuh.


Tim medis yang ditugaskan secara khusus terus mengawasi pasien. Mereka diberikan waktu hanya satu bulan untuk menyelesaikan pekerjaan karena Queen Selena tidak mentolerir kesalahan apapun. Maka, semua dokter yang terdiri dari empat orang harus ekstra hati-hati menangani kasus kali ini.


"Dokter Han, bukankah pasien diberikan racun selama masa kehamilan. Apakah bayinya sudah dilakukan pemeriksaan ulang? Jangan sampai mengalami gangguan yang bisa menyebabkan penyakit mematikan." jelas Dokter Sa yang tiba-tiba mengingat riwayat pasien dengan kondisi saat ini.


"Itu lebih baik." jawab serempak ketiga dokter yang memang di bawah pimpinan Dokter Han.


Sesuai kesepakatan, dimana mereka terbagi menjadi dua kelompok. Dokter Han dan Dokter Levi memilih kembali ke ruangan lain dan memulai pencarian tentang racun pelumpuh ingatan. Kesibukan kedua dokter itu hingga lupa waktu. Semua artikel, hasil penelitian dari berbagai sumber dikumpulkan menjadi satu.


Tak terasa memakan waktu hingga sore hari, bahkan sampai melupakan waktu makan dan juga jadwal pemeriksaan. Perhatian mereka teralihkan ketika seseorang mengetuk pintu ruangan yang bersambut tatapan mata tajam dengan sedekap tangan. "Queen ...,"


Tanpa kata melangkahkan kaki berjalan mendekati kedua dokter yang menghamburkan banyak kertas berserakan dimana-mana. Perpustakaan sudah berubah menjadi tempat penjualan barang bekas. Benar-benar tidak bertanggung jawab atas sikap yang berlebihan. Bagaimana bisa dokter seceroboh itu?


"Apa kalian bosan hidup?" Selena mengambil beberapa lembar kertas di atas meja yang ada di sisi kiri tempatnya berdiri, lalu membaca tulisan aesthetic ala dokter yang pasti bikin kepala berputar. "Dampak pemakaian racun pelumpuh ingatan terhadap penggunanya."


"Maafkan kami, Queen. Semua kekacauan akan kami bereskan, tapi ...," Dokter Han mencoba untuk menjelaskan, tetapi terhenti ketika tangan sang Queen terangkat tak ingin mendengarkan penjelasannya.


Melihat itu, kedua dokter menundukkan pandangan. Mungkin seharusnya izin terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. Perasaan tak enak mengusik merayap membelenggu hati dan pikiran. Rasanya sungkan untuk menatap sang majikan yang selalu bertindak lebih cepat dari mereka.


Sementara itu, Selena sibuk memainkan jemari di atas tuts si lepi yang masih menyala. Selama dua menit hingga seulas senyum terbit dengan penuh makna. Lalu ia berjalan menjauh dari kedua dokter yang ketakutan terhadapnya, "Lain kali, tanyakan padaku. Percuma pencarian selama tujuh jam masih stuck di tempat yang sama."


"Periksa file di laptop!" titah Selena, kemudian melanjutkan perjalanan meninggalkan kedua dokter yang sibuk saling pandang.


Tumben tidak ada hukuman. Yah begitulah pikiran kedua dokter itu, mereka berdua tidak tahu saja bahwa Selena memberi hukuman jika kesalahan yang dilakukan merugikan. Sementara saat ini, informasi yang dicari demi kebaikan Shena dan bayinya. Maka tidak akan terjadi apapun selain mendapatkan bantuan.


Dokter Han dan Dokter Levi memeriksa file secara bersama-sama. Selama lima belas menit fokus yang teralihkan berakhir decak kekaguman. Sadar akan kekurangan sebagai seorang dokter yang tidak bisa menjadi detective dadakan, sedangkan Queen Selena memberikan hasil akhir tanpa mengubah sebuah ruangan menjadi tempat penjualan barang bekas.


"Jadi, sebaiknya kita siapkan proposal agar bayi dari pasien mendapatkan perawatan setelah melakukan pemeriksaan secara keseluruhan. Begini saja, kamu kembali ke atas menemani yang lain dan aku buat proposal langsung." Dokter Han kembali memberikan usulan agar pekerjaan cepat selesai karena mereka dituntut untuk menyelesaikan masalah tanpa menambah masalah.