
Terkadang manusia berencana A, tetapi Allah menakdirkan D. Lalu ada yang saling menyalahkan dan berpikir paling benar karena sudah mengingatkan. Kenyataannya, manusia hanya bisa berencana, berusaha, lalu memasrahkan diri pada Sang Pencipta. Bukankah itu fase kehidupan yang sama sebagai seorang manusia?
Hari ini Shena dan Dan kembali bersatu. Semua orang bergembira, tetapi tidak dengan Mama Quinara. Wanita itu merasa masih di bawah ancaman. Pemikirannya jelas membantah bahwa gadis yang bersama keluarga adalah menantunya. Kendatipun hati meyakini wajah itu asli.
Entah kenapa keraguan merasuki hati, tetapi sadar bahwa keluarga menerima keberadaan Shena yang tidak sadarkan diri. Apalagi ketika semua orang selesai menikmati makan malam diakhiri dengan sesi kebenaran yang Selena ungkapkan. Gadis itu menjelaskan bahwa saat ini istri sang kakak masih dalam bahaya.
Secara terus terang menjabarkan alasan dan juga efek samping dari racun pelumpuh ingatan. Dan berusaha menahan diri untuk mendengarkan tanpa menyia-nyiakan satu katapun karena ia ingin tahu bagaimana kehidupan Shena selama ini. Siapa sangka, kehidupan mereka seperti boneka sandiwara. Dipermainkan oleh seorang dalang.
Siapa tak sakit hati ketika mendengar siksaan yang diterima orang-orang terkasihnya? Insan yang memiliki emosi dengan akal sehat pasti menyadari bahwa luka batin lebih menyakitkan dibandingkan luka fisik. Satu insiden yang memperumit keadaan, kesadaran yang tersisa sangatlah dibutuhkan.
Keesokan harinya. Dan sibuk berbincang dengan para dokter yang menangani Shena. Hal itu dilakukan bukan karena tidak percaya ucapan Selena, melainkan ingin memastikan seberapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk pengobatan agar ingatan istrinya kembali seperti semula. Bagaimanapun kehidupan sudah mulai membaik dengan kebersamaan seluruh anggota keluarga.
Tepukan tangan Dokter Han mencoba menguatkan dirinya. Jujur saja tidak bisa membayangkan bagaimana menjadi Shena. Hidup dengan detakan yang sama, tetapi lupa identitas. Boneka saja memiliki nama, sedangkan sang istri hanya berjalan mengikuti irama tanpa ada rasa. Menyedihkan tanpa bisa memberikan dukungan.
Ingin sekali menghukum orang yang bertanggung jawab atas semua kekacauan dalam hidupnya. Akan tetapi dendam tidak baik untuk digenggam. Perlahan meredam rasa, menenggelamkan emosi yang membara. Fokus kehidupan hanya dua yaitu kesembuhan sang papa dan Shena. Dua hal utama yang tidak bisa dipisahkan.
"Queen!" Dokter Han menarik tangannya dari bahu Danish, lalu mengundurkan diri agar kedua insan itu memiliki waktu berbincang secara pribadi.
Tatapan mata ke arah ranjang dimana Shena terbaring lemah tak berdaya dengan alat medis yang menyokong kehidupannya. "Kesedihan itu tidak akan mengembalikan milikmu, Ka. Di luar sana Fatih sibuk merencanakan perpisahan kalian dan di sini kamu sibuk merenung. Apakah seorang Danish Anderson sanggup kehilangan istri tercintanya, sekali lagi"
"Apa yang mau katakan? Aku harus balas dendam? Apa itu akan mengubah kehidupan saat ini?" Dan berjalan menghampiri istrinya, beberapa saat mengusap wajah pucat dengan kelompok mata terpejam. "Cinta? Aku rela melepaskan kekuasaan, tetapi Shena harus kembali ke dalam hidup kami."
Terlalu naif untuk seorang pebisnis. Cinta memang tentang pengorbanan hanya saja bukan ketidakwarasan. Jika tahta dari bisnis diserahkan, tetapi kehilangan kekuasaannya untuk melindungi keluarga. Apa itu disebut pintar? Sepertinya pria itu lupa bahwa dunia bekerja dengan imbalan nyata.
Suara tangisan bayi yang menyambut ikatan hati mengejutkan Dan. Ada perasaan aneh menyapa kehidupannya. Tatapan mata terpatri pada bayi yang ada di dalam tabung kaca. Bayi siapa? Kenapa langkah kakinya enggan berpaling. Seakan tangan mungil itu memanggilnya untuk datang mendekap.
"Pikirkan baik-baik, Ka. Satu sisi Shena dan sisi lain anak kalian berdua. Keduanya mengalami hal sama dan memerlukan perawatan yang intensif. Akan tetapi jika kamu hanya ingin menyambut keluarga bahagia tanpa menyelesaikan masalah yang ada.
"Fatih sendiri yang akan merenggut semua kebahagiaan milik Ka Dan. Dia bukan pemuda remaja lagi, tetapi seorang pemimpin geng yang bisa menggerakkan anak buah untuk melakukan pencarian. Dia bisa melewati semua rintangan hanya untuk mendapatkan Shena.
"Jangan kamu pikir, tindakan kita berpindah negara menjadi solusi yang terakhir. Aku harus mengatakan semua ini pada Ka Dan. Fatih merupakan anak buah bayaran yang terbiasa menikmati tubuh para gadis baru. Pria itu bertindak menggunakan akal, bukan perasaan.
"Aku ...,"
Dan mengangkat tangannya menghentikan Selena yang memberi penjelasan panjang kali lebar, "Apa benar dia istriku? Lalu dia anakku? Jika iya, kenapa kamu khawatir? Seorang suami bisa saja kalah, tapi tidak seorang ayah. Akan ku hadapi Fatih dengan caraku."
Pria itu berbalik, kemudian berjalan menghampiri Selena yang berdiri agak jauh dari ranjang tempat Shena terbaring. Diraihnya kedua tangan gadis itu, lalu meletakkan ke atas kepala, "Berjanjilah! Selama kepergianku, kamu akan menjaga keluargaku dan memasak Shena bersama anakku tetap dalam keadaan baik."
Kepercayaan yang diberikan menjadi tanggung jawab yang besar. Selena merasa Dan sanggup mengatasi masalah kali ini, walau begitu ia tidak membiarkan pria itu seorang diri. Selama dua hari, keduanya berdiskusi banyak hal hingga memutuskan untuk memulai rencana pertama.
Selena tetap berada di London bersama seluruh keluarga, sedangkan Dan kembali ke Indonesia untuk menyelesaikan masalah atas nama Fatih. Semua informasi yang dia punya akan menjadi tamemg untuk berhadapan dengan pria yang katanya sudah berubah menjadi monster wajah manusia.
Indonesia, Jakarta pukul sepuluh malam. Bandara soekarno-hatta rombongan mobil Van hitam keluar secara berbondong-bondong melakukan pawai di jalanan. Di antara mobil itu, Dan duduk menerima notebook untuk dipelajari. Dimana skema rencana sudah terenkripsi begitu rapi tanpa ada celah.
"Dimana Fatih sekarang?" tanya Dan tanpa basa-basi.