Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 88: Clue yang Terabaikan


Naina memang pergi ke lantai atas, tetapi bukan masuk ke kamarnya. Langkah kaki berjalan memasuki kamar lain yang diyakini sebagai kamar Fatih. Baru saja ingin mengunci pintu, Siti datang untuk membantu. Keduanya sibuk memeriksa setiap sudut, lemari bahkan tidak luput menengok ke bawah ranjang, dan tempat sampai yang kosong.


Pencarian selama dua puluh menit hanya berujung keputusasaan. "Nai, coba inget Fatih pernah bicara hal aneh atau yang random gak? Pasti ada yang kita lewati."


Gadis yang ditanya mencoba untuk melakukan seperti yang diminta sahabatnya itu. Memejamkan mata mengingat satu persatu pertemuan antara ia dan Fatih. Selain kenangan yang menyedihkan, tidak ada ingatan yang menunjukkan clue untuk menemukan keberadaan Shena.


Hubungan mereka tidak sedekat itu, namun jika dipikirkan lagi, bisa jadi Fatih memberikan isyarat tersembunyi di antara pertemuan sudah pernah berlangsung. Emosi semakin meningkat, tetapi ketenangan sulit didapat hingga semua kenangan membubarkan diri dari pengecekan ingatan. Semua itu karena Siti yang mengganggu konsentrasi.


Si gadis dangdut sibuk menggoyangkan bahunya agar bergegas memberikan jawaban. Bukannya membantu, justru merusak semua ingatan. "SITI!" Nai menatap sang sahabat dengan kesal, membuat gadis itu mundur menjauh mencari aman.


Sementara di tempat lain. Mobil baru saja memasuki sebuah rumah sederhana dengan desain minimal. Tidak mewah, tetapi cukup bagus dan layak untuk di tempati. Pak sopir menghentikan mobilnya tanpa memasuki gerbang di depan mata, lalu mempersilahkan Shena untuk turun. Tidak ada penjelasan yang bisa dikatakan karena ia hanya mengikuti instruksi dari panggilan saja.


Begitu keluar dari mobil. Gerbang mulai terbuka dengan suara derit besi. Satu langkah maju dengan tatapan mata menelusuri sekeliling. Ia pikir pak sopir akan mengantarkan sampai bandara, tetapi dugaan itu terbantahkan dengan keberadaannya di tempat asing. Rasa syukur yang ia rasakan karena bisa melanjutkan rencana seperti semula.


Shena terus berjalan mengikuti anak panah yang tertera hingga langkah kaki terhenti di depan pintu utama. Tangan bersiap mendorong pintu, namun belum sempat menyentuh justru terbuka dengan sendirinya. Langkah kaki melanjutkan perjalanan, tiba-tiba ada yang jatuh ke atas kepala yang berhamburan warna merah menggoda dengan aroma khas semerbak.


Hujan kelopak bunga mawar merah ternyata. Hanya saja terlalu sangat banyak bagaikan rintik hujan. Di saat bersamaan kabut asap putih mengalihkan perhatiannya. Di balik kabut itu, seseorang datang dengan langkah kaki berjalan menuju kearahnya. Tidak nampak wajahnya selain aroma parfum yang sudah ia lupakan.


Tingkat kewaspadaan semakin menurun, membuat Shena tak menyadari kedatangan seseorang dari arah belakang. Sapu tangan putih yang digenggam di tangan kiri terangkat dengan pasti. Dibekapnya gadis yang ada didepan mata hingga jatuh ke dalam dekapannya. Seulas seringai terbit menghiasi wajah.


"Kamu terlalu serius memikirkan semua orang." Jemari yang menelusuri wajah cantik Shena terus turun tanpa permisi, tatapan mata mengamati kalung yang melingkar manis di leher gadis itu. 'Valentine's ya? Hadiah terbaik itu kamu, sedangkan kalung ini tidak ada harganya."


Satu tarikan tangan berhasil melepaskan kalung dengan bandul kupu-kupu dari leher Shena. Tidak peduli seberapa mahal perhiasan itu karena baginya tidak memiliki tempat untuk menjadi milik Shena. Kini hanya dia yang memiliki kendali atas kehidupan gadis itu. Yah, tidak ada orang lain lagi.


''Good bye masa lalu." ucapnya lalu beranjak dari tempatnya seraya menggendong Shena untuk memasuki rumah yang telah ia siapkan sedemikian rupa.