
"Fatih, kamu disini? Tumben. Gak camping?" Danish berbalik menoleh ke arah sumber suara, dan benar. Adik angkatnya yang datang berkunjung. Pemuda dengan seluruh fasilitas terbaik dari keluarganya, tapi ia tak pernah menyangka. Hubungan akan serumit itu.
Pemuda itu mendekat, lalu memeluknya sebagaimana biasanya. Tidak ada rasa canggung, apalagi sungkan. Lagi pula, pasti adik angkatnya tidak tahu. Jika dia sudah mengetahui kebusukan dari seorang Fatih yang merupakan penyebab dari kekacauan keluarganya. Walau begitu, lebih baik untuk meredam emosi sesaat.
"Aku kesini untuk menjemput Mama, tapi sepertinya Mama ingin menginap. Bagaimana kabar Ka Dan dan Kakak ipar?" tanya balik Fatih begitu ia melepaskan pelukan yang terasa memanas.
Seulas senyum menjadi jawaban balik. Dan kembali menatap kebun mawarnya. Terlihat indah walau berteman kegelapan, mungkin karena terkena sinar lampu yang ada di depan rumah dan beberapa sisi sudut yang memang di terangi lampu tamat berbentuk lentera.
Fatih hanya mengikuti apa yang dilakukan sang kakak. Menghirup udara malam begitu dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Sensasi dingin menyeruak masuk ke dalam tenggorokan, berganti hawa panas. Terasa semakin menenangkan, apalagi ketika mulai memejamkan mata.
Namun, tiba-tiba terdengar suara ketiga yang datang dari arah belakang. Suara lembut yang mengalihkan perhatian kedua pria itu, "Sudah malam, apa kalian tidak mau masuk? Ka Dan, Fatih."
Naina berdiri di ambang pintu dengan penampilan siap tidur. Piyama yang berwarna putih bersih terlihat begitu kebesaran. Entah piyama punya siapa karena selama ini, Shena tidak pernah mengenakan piyama. Wajah yang lelah dengan mata mulai sayup menyipit.
"Sayang, Kamu disini? Kenapa tidak bilang." Fatih berjalan menghampiri Naina, sedangkan Danish mencoba tetap diam.
Sebagai seorang pria, ia ingin tahu. Bagaimana interaksi antara pemuda dan gadis itu. Setidaknya, ia harus melihat seberapa jauh hubungan akan tetap berlangsung. Jika semua yang dikatakan sang Mama benar. Maka, ia harus bersiap untuk melakukan antisipasi.
Tangan yang terangkat bersiap mendarat ke wajah Naina, tapi gadis itu terlihat menahan diri agar tidak lari dari Fatih. Kepalan tangan yang nampak begitu jelas, membuat ia memahami. Gadis itu tengah ketakutan karena didekati dan mendapatkan sentuhan dari sang calon suami.
Apakah karena satu sebab, lalu Naina pantas mendapatkan pasangan hidup yang tidak layak untuk dijadikan sebagai seorang suami? Tentu tidak bisa dibenarkan. Apalagi ia juga seorang pria, tentu ingin mendapatkan yang terbaik. Semakin memperhatikan, justru semakin banyak kejanggalan. Rasa tak tega menyusup ke dalam hatinya.
Langkah kaki berjalan menghampiri pasangan yang masih belum sah itu, "Fatih, Naina, ayo masuk. Kalian istirahat di kamar masing-masing. Ingat, kalian masih belum muhrim."
Peringatan yang ia berikan bukan untuk memberikan keleluasaan, tetapi ingin menghentikan rasa takut yang ada dalam diri Naina. Gadis itu benar-benar ketakutan menikmati sentuhan dari Fatih yang notabene sudah menjadi tunangannya. Alasannya sudah jelas. Namun, sampai kapan penyelamatan sesaat akan dilakukannya?
Tidak ada kelanjutan dari perbincangan. Ketiganya masuk kembali ke dalam rumah. Malam yang semakin larut membawa mereka ke tempat peristirahatan. Fatih menempati kamarnya sendiri yang biasa digunakan, tetapi Naina tidur bersama Siti di kamar tamu. Sedangkan Dan, kembali ke kamar Shena untuk menjaga sang istri.
Wajah teduh dengan seulas senyum, meleburkan seluruh rasa yang bercampur aduk. Ingin sekali membangunkan Shena agar bisa mendengarkan seluruh gundah gulana yang menyeruak memporakporandakan isi hati dan pikirannya. Namun, ia tak seegois itu.
Kini yang bisa dilakukannya adalah berbaring di sebelah Shena dan menjaga wanitanya yang terlelap menikmati alam mimpi. Entah apa yang menjadi mimpi sang istri. Senyumannya bahkan tidak pudar. Setidaknya ia bisa ikut memejamkan mata menjemput alam bawah sadarnya.
Awan hitam yang berarak menemani sang rembulan malam. Lambat laut bergerak menuju peraduan. Sayup-sayup terdengar suara kumandang adzan. Rasa lelah yang mendera berganti kesegaran dengan tubuh yang ringan. Tangannya terentang, sesaat merenggangkan otot-otot yang kaku.
Perlahan mengerjapkan mata, dibiarkannya sinar lampu menyesuaikan diri menerobos menyambutnya. "Jam berapa ini? Ouh, baru jam empat lebih tua menit, sebaiknya aku mandi."
Baru saja ingin menyibak selimut, tetapi ada tangan yang menahan pergerakannya. "SheZa, tidurlah! Kamu masih sakit dan perlu istirahat."
"Mas, ini sudah subuh. Bantu aku ke kamar mandi, atau aku bisa sendiri." Sahut Shena tak mau mendengarkan, lagi pula tubuhnya sudah merasa lebih baik. "Mas Dan, ayo bangun."
Sentuhan tangan dingin yang menggoyangkan bahunya berhasil mengambil sisa kesadarannya. Rasa enggan yang menyapa berganti semangat pagi. Tanpa kata, ia bangun, lalu turun meninggalkan ranjang, kemudian membawa tubuh sang istri ke dalam gendongannya.
"Mas, apa Mama marah karena aku?" tanya Shena memulai percakapan yang sejak semalam ia tahan karena tidak melihat keberadaan sang suami hingga matanya terlelap ke alam mimpi.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu, SheZa? Mama tidak bisa marah dengan menantu pertamanya. Percaya deh, sama Mas." Sahut Dan seraya memberikan kode mata agar istrinya membuka knop pintu kamar mandi.
Shena melakukan seperti isyarat dari suaminya, begitu pintu terbuka. Keduanya beralih ke dalam kamar mandi. "Jadi, bisa beri tahu aku. Kenapa wajah Mama terlihat begitu kesal semalam? Aku hanya ingin dekat dengan Mama."
Satu persatu pertanyaan Shena mulai menjurus ke masalah yang akan memberikan serangan emosi dan pikiran. Tidak. Ia hanya bisa jujur, jika kondisi wanitanya sudah kembali membaik. Diturunkannya tubuh sang istri perlahan, lalu menyiapkan air agar mengisi bath up. Tak lupa menuangkan sabun aromatik yang biasa Shena gunakan.
"Mandilah! Aku akan pakai kamar mandi lain, dan kita akan melakukan sholat berjamaah." Ucap Danish setelah melihat semua persiapan mandi selesai di lakukan, sebelum pergi meninggalkan kamar mandi tak lupa mengecup kening sang istri.
Pendiam? Sungguh bukan sifat Danish. Entah apa alasan pria itu bersikap demikian. Sekarang yang bisa dilakukannya adalah menurut untuk sementara waktu. Bukan karena tidak bisa menemukan jawaban, tetapi ia tak ingin terjadi salah paham. Sementara hubungan baru saja membaik.
Tanpa gadis itu sadari. Di luar sana, Danish harus menahan diri, bahkan mencoba merendamnya dengan memukul dinding kamar lain. Pria itu tak bisa mengatakan kebenaran dengan lantang. Padahal, istrinya siap kehilangan status pernikahan hanya demi melindungi salah satu sahabat. Lalu, apakah ia masih pantas disebut sebagai seorang pria?