
Kenekatan Tiara menyerang Papa Anderson, membuat keluarga itu murka. Terutama Danish, dimana pria itu langsung melaporkan sang istri palsu ke pihak berwenang. Ia tidak peduli dengan status seorang ibu yang memiliki bayi berusia sepuluh hari. Baginya yang terpenting keamanan anggota keluarga.
Satu kesalahan fatal yang membawa Tiara mendekam di penjara, sedangkan Papa Anderson harus mendapatkan perawatan intensif karena penyerangan tepat mengenai bagian dada dan hampir saja menusuk jantung. Walau begitu keadaannya dalam tahap penanganan intens di ICU.
Semua keluarga berkumpul di lorong rumah sakit dengan wajah tegang penuh kekhawatiran. Mereka masih menunggu kabar dari dokter hingga kedatangan Xavier mengalihkan perhatian semua orang. Yah, pria satu itu menyelesaikan formalitas di kantor polisi agar Tiara tidak mendapatkan jaminan apapun.
"Bagaimana keadaan papa? Semua baik 'kan?" Tatapan mata sendu dengan emosi yang menggebu, rasa sayangnya memang tulus tanpa peduli permusuhan yang telah lalu.
Danish hanya bisa mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Apalagi posisi saat ini tengah menjaga mamanya yang mengalami shock berat dengan tragedi yang terjadi di depan mata. Ingin berkata apa? Semua terjadi sesuai dengan kehendak takdir.
"Yank?" Rafael menyingkir, memisahkan diri dari semua orang untuk menghampiri Siti yang terlihat dari sudut ruangan lorong sisi kanan. Lalu menghalangi gadis itu dengan merentangkan kedua tangan, "Kemarilah!"
Lelehan air mata sudah membasahi kedua pipi gadis itu. Ia tak tahan untuk menahan keterkejutan yang dirasa sangat mendadak, bahkan langsung menghentikan sesi perawatan yang masih membutuhkan waktu dua jam lagi. Langkah yang dipercepat mencapai dekapan yang Ia butuhkan.
"Hiks, Abang. Papa kenapa?" sesenggukan tanpa mempedulikan perawatan yang baru saja dilakukannya, membuat Rafael menahan diri membiarkan sang kekasih untuk tenang terlebih dulu.
Namun, tatapan mata teralihkan ke belakang. Dimana siluet sinar mentari jatuh menimpa bayangan seseorang. Wajah itu masih terekam jelas di dalam kepalanya. Hanya saja, bagaimana wanita itu da di rumah sakit yang sama? Apalagi datang bersama Siti.
Rafael melepaskan kedua tangan dari tubuh sang kekasih, tetapi tatapannya enggan berkedip mengikuti langkah kaki wanita yang berjalan ke arah mereka. Tingkah aneh pria itu mengalihkan perhatian Siti yang ikut berbalik menoleh ke belakang. Ia melambaikan tangan agar si wanita bergegas mendekat.
"Bang, kenalin Selena. Dia yang mengantarkan aku ke rumah sakit." Siti memperkenalkan teman barunya dengan baik, tanpa gadis itu sadari bahwa calon suaminya mengenal Selena lebih dulu. "Lena, ini Abang Rafael, calon imamku."
Perkenalan yang menarik perhatian Danish. Dimana pria itu menatap Selena untuk memastikan tidak salah lihat. Begitu yakin akan penglihatannya, barulah berani memanggil sang adik angkat dengan nama yang telah ia tetapkan. Satu nama yang membuat semua orang menatap Dan dengan tanda tanya.
"Selena adik angkatku, jadi jangan salah paham. Dia alasanku kembali bersemangat menghadapi dunia dan bertekad menemukan SheZa kembali." Danish terpaksa menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Sunshine yang berarti sinar matahari. Ketika Dan merasa semua usahanya tidak memiliki makna dan hasil seperti yang diharapkan. Di saat itulah Selena datang menawarkan hati tanpa keraguan. Berbekal kisah hidup yang penuh sayatan duri beracun yang berakhir dengan penerimaan penolakan.
Kendatipun hati terluka, nyatanya Selena mau membuka hati menjadi seorang adik. Sejak tangan keduanya saling menggenggam, maka detik itu juga hubungan terjalin. Kini keluarga tahu apa arti Selena dalam kehidupan Dan. Support akan selalu diberikan selama itu demi kebaikan bersama.
"Sunshine, kenapa kamu gak bilang mau ke Indo? Kakak bisa jemput kamu." Dan mengembalikan buku menu kepada pelayan kantin rumah sakit setelah memesan secangkir kopi hitam dan jus mangga mix berry.
Selena mencoba menetralkan perasaannya karena menerima Dan sebagai kakak bukanlah hal mudah seperti membalikkan telapak tangan. "Niatku memberi kejutan, tapi gagal Ka. Entahlah mungkin sudah jalannya seperti ini."
Alibi yang bisa diterima dengan mudah, bahkan tidak akan menaruh kecurigaan. Andai Dan tahu, bahwa Shena ada bersamanya. Bagaimana reaksi pria itu? Pasti memiliki banyak pertanyaan. Akan tetapi masalahnya bukan pertanyaan itu sendiri, melainkan keadaan sang kakak ipar yang tidak normal.
Selama racun masih menyebar mengalir di setiap aliran darah, maka ingatan yang selama ini terkunci tetap terlupakan. Mau, tak mau harus melewati perawatan yang bisa memakan waktu tiga bulan bahkan lebih. Sulit untuk menjelaskan situasi yang ada. Padahal tidak mungkin tetap menyembunyikan semua itu secara terus menerus.
"Kenapa bisa bareng Siti? Bukankah kalian tidak saling kenal?" Dan bertanya lagi, tetapi kali ini lebih serius dari yang sebelumnya, membuat sang adik angkat hanya tersenyum tipis menyadari interogasi dadakan darinya.
Belum sempat menjawab karena pelayan datang membawakan pesanan mereka berdua. Kepulan asap putih menyebarkan aroma kopi yang harum menggoda. Selalu membangunkan rasa kantuk yang terus datang menyapa. Sejenak keduanya menikmati pesanan agar kembali mendapatkan ketenangan.
Sementara itu, di tempat yang gelap dan engap. Seorang wanita terduduk di sudut ruangan menikmati dinginnya lantai seraya menatap kosong jeruji besi di depannya. Ia tengah menahan rasa muak terhadap kehidupan yang selalu tidak adil padanya. Padahal hanya berharap kebahagiaan kecil di sisa umur yang masih ia punya.
Namun, kesalahannya tidak bisa termaafkan. Semua hanya tentang ego hingga lupa untuk mencari tahu mana yang benar dan mana yang salah. Baginya hanya diri sendiri yang harus bahagia. Tentu tidak bisa demikian karena dunia bukanlah miliknya seorang.
Hati yang sibuk mengumpat semua orang membawanya pada persimpangan akhir kehidupan. Tiba-tiba kilauan benda mengalihkan perhatian, ditatapnya benda itu tanpa berkedip. "Aku hanya sendiri, yah sendiri tanpa orang yang mau bersamaku. Tidak keluarga ataupun pujaan hatiku. Lebih baik aku mati."
Ide yang terlintas menggelapkan mata. Ia beranjak dari tempat duduk, lalu mengambil sebuah piring stainless yang teronggok di sudut ruangan. Piring yang berteriak memanggilnya terus terngiang di telinga. Begitu berisik hingga menghadirkan rasa tak sabaran.
Suara gesekan benda yang terdengar memekakkan telinga, membuat siapapun yang mendengar langsung menutup kedua telinga. Benar-benar menyakitkan membangkitkan bulu kudu yang meremang. Akan tetapi semua tahanan hanya bisa membayangkan apa yang terjadi tanpa bisa melihat secara langsung.
Suara nyaring dengan gema yang melengking mengejutkan semua orang bahkan penjaga pintu langsung berlari mencari tahu apa yang terjadi. Berapa terkejutnya ketika melihat tahanan sudah duduk di sudut ruangan dengan tangan bersimbah darah. Buru-buru memanggil bantuan untuk menyelamatkan sang tahanan yang melakukan percobaan bunuh diri.