
Penyiksaan yang dilakukan Fatih hanya memberikan sedikit rasa sakit. Tubuh yang terus menerus diguyur air es mulai mengalami masalah, membuat Dan menggigil kedinginan. Pria itu mulai berhalusinasi hal-hal yang ia rindukan selama setahun terakhir, kondisinya yang seperti itu harus segera diselamatkan.
"Pertahanan yang hebat, Ka. Tiga atau empat guyuran lagi pasti sudah jatuh tak sadarkan diri atau gini saja. Di dalam ada lemari pendingin jadi bagaimana jika aku bekukan tubuhmu itu?" tanya Fatih penuh ejekan dengan tatapan yang masih berselimut amarah.
Tentu ia tak ingin usahanya sia-sia. Apalagi setelah semua yang terjadi, ia ingin memastikan bahwa Shena masih aman di luar sana tanpa bertemu Danish. Fatih berpikir bahwa keberadaan mereka berdua di tempat yang sama hanya kebetulan. Mungkin saja, mantan kakaknya itu belum tahu kabar terbaru tentang Tiara.
Pemikirannya terlalu dangkal tetapi berupaya menjadi pria paling pintar. Benar-benar tidak tahu malu, Fatih tidak sadar bahwa rumah yang ia tempati sudah dikepung dari berbagai arah. Selama beberapa waktu terlalu fokus dan sibuk dengan mainan baru yang menjadi umpan.
Tiba-tiba sebuah bola melesat jatuh di tengah antara Fatih dan Danish. Asap putih mulai keluar dari bola itu hingga memenuhi ruangan tempat keduanya berada. Tak berselang lama suara derap langkah kaki terdengar memenuhi seluruh ruangan. Sadar telah terjadi pengepungan.
Asap mulai memudar, tetapi begitu menghilang sepenuhnya. Tidak satupun melihat keberadaan Fatih. Kemana pria itu? Entahlah karena yang tersisa hanya Danish dalam keadaan tubuh yang kedinginan. Pria itu mengalami hipotermia. Dimana gejala tersebut harus segera ditangani dengan benar.
"Bos, tidak ada jejak Fatih disekitar rumah. Semua ini benar-benar aneh. Bagaimana bisa menghilang begitu cepat?" Lapor salah satu anak buah yang menjadi pemimpin penangkapan kali ini, tetapi yang diberikan laporan tengah fokus mengamati lantai ubin.
Karpet yang tersingkap seperti tidak rapi. Rumah itu sudah lama terbengkalai maka segala sesuatunya pasti menetap selama bertahun-tahun di tempat yang sama kecuali mengalami pergeseran. Tanpa memberi perintah, ia berjalan mendekati karpet, lalu menyingkirkan kain tebal berdebu tersebut.
"Pintu bawah tanah. Cepat periksa!" Black tak ingin meninggalkan Danish pada orang lain karena tanggung jawab utamanya adalah pria itu, ia membiarkan beberapa anak buah masuk menelusuri terowongan bawah tanah.
Namun, dirinya sendiri membawa Danish meninggalkan tempat tersebut. Mobil melaju meninggalkan daerah tempat rumah lama Fatih berada. Tubuh yang semakin menggigil membuat Black bertambah cemas. Seketika ia ingat menyimpan beberapa botol wine di belakang tempat duduk mereka.
Tanpa memikirkan hal lain. Resiko yang diambil sudah cukup untuk menjadi pertanggungjawaban. Wine bisa membantu mengatasi tubuh dingin, itu yang dipikirkan oleh Black. Akan tetapi menurut dokter, wine tidak menghangatkan tubuh melainkan pelebaran pembuluh darah.
Dimana tubuh memang merasa hangat, tetapi bukan untuk menstabilkan keadaan penderita hipotermia. Seharusnya melakukan CPR hingga denyut nadi kembali, dan tenaga medis datang. Banyak yang beranggapan wine bisa menghangatkan tubuh, tetapi dalam kondisi normal.
Tubuh yang semakin dingin berubah menjadi bedongan bayi karena diselimuti beberapa jas yang tersedia di dalam mobil tersebut. Kondisi Danish semakin memburuk bahkan begitu mobil berhenti didepan rumah sakit. Tubuh pria itu mengalami kejang-kejang hebat, membuat para suster bergerak cepat membawa pasien ke ruangan ICU.
Black hanya bisa menunggu, langkah kaki terus berjalan mondar-mandir di depan ruangan kaca yang kini lampunya menyala, sedangkan di dalam ruangan tersebut tengah berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan pasien. Apalagi pasien mengalami reaksi tubuh yang berlebihan.
Seperti emosi yang menyatu bersama setiap helaan napas, kondisi Danish yang krisis ternyata juga di alami Shena. Wanita itu kembali mengalami kejang menolak obat terbaru yang diberikan dokter. Selena yang berada di luar tengah menyelesaikan pekerjaan harus bergegas pulang, tetapi posisi jalanan mengalami macet akibat insiden kecelakaan lalu lintas.
Kakak beradik yang sama-sama tenggelam dalam rasa khawatir, sedangkan suami istri tengah berjuang melawan rasa sakit yang mendera menyiksa raga. Sementara di sisi lain, sang buronan mengalami kesulitan besar karena akhir dari terowongan ternyata sebuah sungai yang besar. Akan tetapi tidak bisa kembali lagi.
Apalagi suara derap langkah kaki terdengar semakin mendekat dan ia hanya memiliki satu tekad yaitu tidak tertangkap. Satu tarikan napas menyelesaikan keputusan terakhirnya, "Siap ataupun tidak, lebih baik sungai menjadi akhir dari hidupku."
.
.
.