
Tidak tahu apa yang terjadi pada Black hingga mengusir nya agar kembali ke London. Padahal semua sudah jelas dan tidak bisa diajak kompromi lagi. Fatih yang melarikan diri atau dia yang menyeret pria itu keluar dari tempat persembunyiannya. Biarlah terjadi seperti takdir yang memang digariskan.
Masalahnya bukan karena cemburu atau merasa tidak aman. Melainkan selama permusuhan di antara mereka berdua tidak musnah untuk selamanya. Bisa saja suatu saat nanti akan terjadi musibah yang lebih besar lagi. Maka dari itu sebagai seorang suami, ayah dan kakak serta putra. Dirinya wajib berdiri menjadi tameng keluarga yang sangat ia cintai.
"Akar dari masalah keluarga adalah hati yang tidak mau lapang dada menerima kenyataan. Jujur saja, aku masih menganggap Fatih sebagai adikku karena dia menjadikan diri ini sadar akan pentingnya berbagi kepemilikan. Sejak awal pertemuan Mama memintaku untuk menjaga pria itu.
"Aku marah, bahkan ingin membunuhnya. Hanya saja hati berkata untuk mengulurkan tangan membawa, lalu membimbing Fatih kembali ke jalan yang benar. Miris sekali fakta yang selalu aku genggam karena kenyataannya pria itu sudah membenci kami sejak masuk ke dalam kediaman Anderson.
"Harta? Tahta? Jiwa? Atau cinta? Semua itu hanya tentang dunia yang fana ini, tetapi ketulusan selalu menjadi inti dari perasaan itu sendiri." Dan mengeluarkan ponsel dari tempat persemayaman, kemudian mendial sebuah nomor yang sudah lama tida dihubunginya.
Ia percaya pada Black hingga melakukan panggilan telepon singkat tanpa mempermasalahkan keberadaan pria itu yang duduk di depannya. "Orang-orang ku akan mencari jejak Fatih, satu jam dari sekarang informasi akan kita dapatkan."
Black menelisik menatap Dan dengan senyuman miring. Seorang pebisnis dengan usaha keluarga yang sanggup memberikan kehidupan gemerlap kemewahan, tiba-tiba melakukan sesuatu yang tidak pernah terlintas di dalam kepalanya. Apakah pebisnis dengan basically ketua geng sudah merajalela?
Tidak paham dengan kenyataan yang ada di depan mata karena sekarang kepalanya saja enggan untuk menerima masukan kata. "Lebih baik kita istirahat, aku merasa benar-benar tidak punya kata."
Setelah mengungkapkan isi hatinya, pria itu meninggalkan Dan seorang diri. Kini hanya bisa mengandalkan diri sendiri. Seperti apapun situasi dan keadaannya maka ia harus segera bertindak. Meski untuk itu harus melanggar janji yang pernah ia buat.
Para anak buah menyebar kesetiap penjuru kota. Tidak peduli itu jalan umum, sedang atau setapak menuju kuburan. Banyak koneksi yang sudah dikerahkan hingga waktu terus berpacu pada pencarian. Namun terkadang manusia lupa bahwa apapun yang terjadi sudah ada yang mengatur.
Satu jam telah berlalu, tetapi tidak ada panggilan dari orang-orangnya. Ponsel yang masih diam dengan layar hitam. Jujur saja, rasa sabarnya sudah tidak bisa diulur lagi. Akan tetapi kondisi yang memaksa untuk tetap bertahan. Bingung harus bersikap seperti apa lagi.
Detakan jam yang terus berputar membuat Dan sibuk berjalan hilir mudik tanpa ada kegiatan yang jelas. Setiap kali membayangkan masa lalu, justru darahnya mendidih. Tanpa ada ketenangan walau sedikit saja. Sayangnya penantian itu hanyalah milik dia seorang hingga layar ponsel menyala mengalihkan perhatiannya.
[Datanglah ke alamat yang aku kirimkan. Ka Black menjelaskan situasinya, inget satu hal untuk tidak berkelahi di luar wilayah yang menjadi kekuasaannya.]~ ucap Selena yang langsung membantu dari jarak jauh.
Bersyukur akan adik yang memiliki kecepatan untuk melakukan pekerjaan emergency. Alamat telah ia dapatkan, lalu sekarang? Tanpa ingin menunda waktu, Dan buru-buru bersiap untuk melakukan pertemuan yang pasti tidak menjadi akhir yang baik.
Setelah dua jam perjalanan. Dan turun dari mobilnya, kemudian mengedarkan pandangan mata melihat keadaan sekitar. "Rumah mana? Selain tempat berpijak tanah becek dan bangunan terbengkalai."
Tidak ada yang menarik kecuali suara siulan yang terdengar dari arah bangunan. Apakah benar ada orang? Jika iya harus dipastikan, tapi bagaimana? Jika masuk begitu saja, bisa menjadi sasaran yang empuk. Alih-alih bertindak gegabah, pria itu kembali masuk ke dalam mobil menunggu hari berganti malam.
Sementara Fatih sibuk mengobati luka lebam yang merusak ketampanan wajahnya. Beberapa hari tinggal dibalik jeruji besi justru menyadarkan ia akan semua kesalahannya. Cinta yang berubah menjadi obsesi, lalu kemarahan yang disebut sebagai temperamen dan ego yang tinggi. Sejauh itukah langkah kaki berjalan ke jalan neraka?
Waktu yang berlalu terasa lebih membosankan. Jangankan memikirkan makanan, minum pun ia lupa jika tubuh membutuhkan asupan untuk tetap bertahan hidup. Ingin sekali segera menyelesaikan masalah yang ada, tetapi tidak semudah itu. Apalagi di sekitarnya hanya ada kesunyian.
Lirikan mata terus berulang kali menoleh menatap jam dipergelangan tangannya, tetapi jarum berputar sangat lambat karena waktu masih menunjukkan sore hari. "Sebenarnya rumah siapa itu? Kenapa aku memperhatikan warga yang lewat selalu memalingkan perhatian mereka kearah lain. Apa memang ada aturan yang tidak ia tahu?
Ingin menegur lalu bertanya, tetapi mengingat niatnya bukan bersilaturahmi. Sontak saja kembali diam tanpa kata, sesekali bersenandung nada yang bisa menghilangkan rasa bosannya. " Na nana na, lala la la ...,"
Sibuk dengan apa yang bisa dilakukannya hingga tidak sadar akan kemunculan sang target yang mengenakan tudung hitam mulai berjalan melewati rerumputan ilalang. Wajah tidak dikenal, tetapi postur tubuh bisa dipastikan bahwa itu memang Fatih. Hanya saja, pria itu ingin kemana? Apaka melakukan pertemuan penting atau justru hanya sekedar ingin melihat situasi di luar saja?
Dan turun dari mobilnya secara perlahan dengan tatapan mata tak teralihkan dari pria bertudung yang mulai berjalan menjauh darinya. Jarak antara ia dan pria itu sangatlah jauh yaitu sekitar sepuluh meter. Langkah demi langkah mulai mendekat hingga perjalanan tanpa tujuan itu hilang entah kemana. Padahal jelas tadi ada di depan mata, tetapi semua hilang begitu saja.
Speechless akan kenyataan yang aneh menurutnya. Niat hati ingin berbalik, tiba-tiba kepalanya terasa berat menghantam sesuatu. Suara dentingan keras terngiang-ngiang menelusup sesaat sebelum semua berubah menjadi buram tanpa warna. Dan jatuh tak sadarkan diri, pria itu terkulai lemas tak berdaya hingga membangkitkan jiwa yang lara.
Seulas smirk menghiasi wajahnya, "Kebiasaan yang menyulitkan semua orang." Ditariknya kedua tangan Dan dengan sekuat tenaga membawa pria itu memasuki rumah yang di dalamnya memiliki sedikit perabotan utuh. "Tunggu ya, Aku ambil tali dulu."
🍃
ᴀᴋʜɪʀ ᴅᴀʀɪ ᴀᴡᴀʟ ʜᴀɴʏᴀ ᴀᴅᴀ ᴘᴇʀᴘɪsᴀʜᴀɴ,
ᴋɪsᴀʜ ᴛᴀᴋ ʙᴇʀᴛᴜᴀɴ ᴅᴀʟᴀᴍ ʟᴀʀᴀ ᴛᴇʀᴅᴀʟᴀᴍ. ᴀɴɢᴀɴ ʏᴀɴɢ ᴛᴇʀᴀʙᴀɪᴋᴀɴ ʙᴇʀᴘᴀᴄᴜ ᴅᴇʀᴀɪ ᴀɪʀ ᴍᴀᴛᴀ ᴛᴇʀᴀsɪɴɢᴋᴀɴ. _
.
.
.
Alhamdulillah bsa crazy up selama beberapa hari. 😌 Empat hari ke depan otw tamat ya. 🥰
Love you all. 😚