
Secara perlahan pintu rumah terbuka. Embusan angin yang menyapa menghantarkan kedua pria itu ke dunia Selena. Wanita dengan segudang emosi yang akan menunjukkan sisi lain dunia. Tentu bukan mengenai manusia lain, melainkan tentang arti kebahagiaan tak nyata.
Jatuh cinta pada pandangan pertama? Mata terperangah tak berkedip, seulas senyum tersungging. Hamparan bunga matahari menyambut kedatangan mereka. Itu bukan rumah, tetapi taman bunga siluet sinar mentari yang mengagumkan. Indah tak terbantahkan. Bagaimana mungkin?
Rumah yang biasanya berisi perabotan rumah tangga, tapi kali ini hanya berteman dengan tumbuhan. Lihatlah Selena yang sibuk berlari menyapa bunga matahari seperti anak kecil mendapatkan coklat favoritnya. Rasa ragu dan cemas berganti ketenangan. Seni yang benar-benar mengejutkan. Interesting.
Sangat pantas mendapatkan penghargaan. Walau semua yang mereka lihat hanya untuk menjadi aset pribadi. "Sunshine!"
"Yes, Ka. Wait," Selena bertepuk tangan tiga kali membuat taman bunga matahari yang membentang di sisi kanan kiri jalan utama rumah terlindungi kaca yang muncul secara tiba-tiba, lalu mendapatkan asupan nutrisi yang jatuh dari atap rumah. Kemudian melambaikan tangan agar kakak dan teman sang kakak melanjutkan perjalanan.
Langkah kaki terus berjalan menyusuri anak tangga. Satu persatu tertinggal di belakang, akhirnya mencapai lantai nomor dua yang ternyata merupakan ruang tamu, dapur dan ruang olahraga. Ketiga ruangan itu hanya tersekat tanaman mawar merah. Aroma kelopak menguar di udara.
"Come duduk, kalian mau minum apa? Biar Si MeTo tidak salah memberikan pelayanan." Wanita itu memilih untuk duduk di sofa panjang dan langsung berselonjor, sedangkan Dan duduk di sofa single, Rafael yang memilih di kursi terpisah.
"Sunshine, rumah ini konsepnya menakjubkan. Seni yang tinggi, bagaimana kamu membuat semua mungkin di dalam satu tempat?" tanya Dan yang lebih tertarik dengan kecerdasan Selena, membuat adiknya hanya menjentikkan jemari.
Derap langkah kaki nan berat terdengar dari arah dapur. Apalagi suara bip-bip terus terngiang di telinga. Robot yang sayang persis seperti manusia bahkan berpakaian koki dengan afron hitam bertuliskan i am MeTo yang semakin mengesankan. Tentu saja hanya cara jalannya saja yang kaku.
Selena tersenyum menatap robot pria dengan rupa tampan yang terlihat seperti ramah lingkungan, "Hi, MeTo. How are you?"
"Hi too, Queen." Robot melambaikan tangan menyambut kedatangan tuan rumahnya, "Fine, how about you, Queen?"
Percakapan basa-basi antara majikan manusia dan pelayan robot benar-benar lancar tanpa hambatan. Lagi dan lagi kedua pria itu dibuat kagum hingga melihat keahlian Si MeTo menyiapkan jamuan sederhana sebagai ucapan selamat datang. Dua cangkir kopi cappucino, segelas jus blueberry mix yogurt serta pie apel yang hangat dari oven.
"MeTo bukanlah pelayan, tetapi temanku selama tiga tahun terakhir. Mesin otomatis yang bisa menetralisir emosi, lalu mengubah menjadi tenaga tambahan. Selain bisa mengurus rumah, MeTo memiliki kebiasaan unik. Setiap pukul sepuluh malam, robot itu pasti menonton televisi."
Ditengah menikmati seruput kopi, Selena menjelaskan ini dan itu. Termasuk konsep desain yang bisa dikatakan kerumitan sesungguhnya. Akan tetapi, prinsip wanita itu hanyalah sukses tanpa batas maka semua bisa diwujudkan. Meskipun memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit.
Selain itu, usahanya tidak langsung berhasil. Justru selama empat bulan menghilang dari peradaban dunia hanya fokus mengembangkan definisi keajaiban agar bisa menciptakan kebahagiaan sederhana bagi dirinya sendiri. Egois? Bukan tentang ego, tetapi semua itu adalah apresiasi atas keberhasilannya.
Tiga puluh menit kemudian, obrolan basa-basi sudah berakhir. Sayangnya beralih menjadi mode serius, "Apa yang Ka Dan cari? Seorang pria yang dengan lantang mengatakan memiliki istri, tetapi tatapan mata penuh luka. Apa terjadi sesuatu?"
"Dan mencari istrinya yang hilang setahun silam lalu. Lebih tepat jika mengatakan, pengkhianatan mantan adik angkat." Rafael menjawab tanpa sungkan, ia merasa sudah lebih baik dengan keramahan Selena.
Tidak paham dengan arti pengkhianatan adik angkat. Apakah Danish terbiasa menjadikan orang asing sebagai keluarga? Meski keraguan datang menyapa, tetapi hati tetap percaya bahwa pria satu itu pantas dicinta baik sebagai kekasih atau sebagai saudara. Lalu, siapa yang berani kurang ajar?
"Rafael mengatakan melihat Fatih di London seminggu yang lalu, maka dari itu aku disini. Setelah kesana kemari, tidak ada titik terang. Niatku tetap stay sampai menemukan mereka berdua ...," Dan menjelaskan kisah hidupnya secara singkat jelas dan padat.
Sedangkan yang mendengar merasa tidak asing dengan ciri-ciri yang dimaksud oleh Danish. Apalagi ketika Rafael menunjukkan foto seorang pemuda kepadanya, sontak saja ia terdiam mencerna takdir yang Allah tetapkan. Selama ini berpikir menjalankan bisnis tanpa menghancurkan kebahagiaan orang.
Namun kenyataan berkata lain, kehidupan semu miliknya ikut menarik kebahagiaan orang lain yang kini mengulurkan tangan dengan tulus tanpa rasa belas kasihan. Rasanya sakit mengetahui ada yang terabaikan dan tersakiti karena bisnisnya. Sadar akan apa yang terjadi, tetapi tetap diam menyembunyikan.
Aku tidak mungkin mengatakan siapa diriku padamu, Ka. Akan tetapi, aku janji akan mengembalikan wanita yang menggeser keberuntunganku dari garis takdir kehidupanmu.~batin Selena seraya menghela nafas pelan untuk menetralkan emosi yang menggebu-gebu di dalam hati.
"Jadi apa kalian tetap kembali ke Indonesia?" tanya Selena mengalihkan topik pembicaraan agar meredam rasa tersudutkan.
Ia tahu melakukan banyak kesalahan, tetapi dari semua kesalahan itu. Nyatanya menyakiti orang yang mau menerima apa adanya. Apakah jika Dan tahu identitasnya di dunia gelap dan menjadi salah satu orang yang menyebabkan kehancuran dunia kecil seorang suami, maka dirinya di anggap sebagai pengkhianat?
Hati ingin berkata jujur, pikiran ingin terbuka tanpa beban. Akan tetapi tidak mampu mengutarakan semua kata yang terus berputar di dalam kepalanya. "Jika kekeh pulang ke Indonesia, kalian bisa menggunakan helikopter pribadiku. Bagaimana?"
Tawaran yang mempermudah perjalanan. Siapapun pasti senang mendapat kesempatan untuk merasakan fasilitas pribadi seperti itu. Tidak memungkiri menjadi sarana transportasi yang bisa menyelesaikan masalah tenggat waktu ketika diburu oleh keadaan. Sayangnya Dan langsung menggelengkan kepala menolak kesempatan untuk pulang lebih cepat.
"Aku ingin menikmati perjalanan panjang. Rafael sudah memesan tiket pesawat kelas ekonomi." Diletakkannya cangkir yang kini hanya tersisa ampas yang mengendap, "Bagaimana jika kamu ikut pulang dengan kami? Rumah ini memang menggambarkan identitas wanita tangguh, tetapi bukankah sudah waktunya perubahan?"
Ingin sekali mengatakan iya di tengah kesadaran yang menghentikan persetujuan, "Ka Dan benar, Aku mau saja untuk berkunjung ke Indonesia, tapi disini banyak pekerjaan. Begini saja, setelah satu minggu dari sekarang kita bertemu di bandara Soekarno-hatta. Bagaimana?"