Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 116: London Hari 1


London Bungalow QS. Setelah berhasil membuat Dan menyetujui semua rencana yang dia buat. Wanita itu langsung memboyong semua orang ke bungalow miliknya meski harus mengerahkan banyak orang agar penerbangan tidak berurutan. Semua memang naik helikopter hanya saja berbeda jenis karena mengikuti muatan.


Sinar mentari di atas cakrawala menyambut kedatangan mereka, membuat Selena bernapas lega begitu melihat rumahnya dipenuhi anggota keluarga. Meski canggung, ia bisa merasakan kehangatan baru yang mewarnai dunianya. Dulu hanya ada sang kakak, tetapi kini memiliki keluarga utuh.


"Non, semua sudah saya antar ke kamar masing-masing." Seorang pelayan melapor, lalu mengundurkan diri begitu melihat kibasan tangan tuan putri.


"Sunshine!" panggil Dan mengalihkan perhatian Selena yang fokus menatap bunga matahari di depannya, tapi tidak berniat untuk berbalik menatap kakak angkatnya.


Bungalow yang biasanya penuh perangkap menyiksa harus diubah mode nonaktifkan jebakan agar bisa menjadi tempat tinggal semua orang. Termasuk mengurung bunga matahari dengan pembatas kaca bening. "Tanyakan saja, Ka. Aku akan menjawab semua pertanyaan yang Ka Dan ajukan."


Sekarang atau esok? Keduanya tetap sama, ia harus menerima kenyataan akan kesalahan, dosa dan penebusan yang kini menjadi tujuan hidupnya. Tidak lagi membuat rencana baru karena semua yang terjadi pasti kehendak Tuhan. Lihat saja keadaan saat ini, dimana satu gerakan lawan mengubah jalan alur kehidupan


Suara pasrah nan berat menyadarkan Dan bahwa gadis di depannya benar-benar kelelahan akan kehidupan yang tiba-tiba seperti roller coaster. Ia tahu semua yang terjadi tidaklah mudah, apalagi mengingat Selena berusaha melindungi keluarga yang baru dikenal. Tentu bukan hal biasa 'kan?


Tak ingin menambah beban dihati sang adik. Dan hanya menggenggam bahu gadis itu untuk memberi dukungan serta kekuatan, "Istirahat dulu! Aku akan periksa keadaan papa."


Detak jantung yang berpacu begitu cepat semakin menyesakkan dada. Rasa bersalah yang terus menerobos, menjerit-jerit mencoba untuk mengungkapkan kesedihan dalam amarah yang begitu menyakitkan. Suara langkah kaki yang semakin menjauh menekan sisa ego yang tertahan.


"Ka Dan! Tetaplah disini bersamaku." Shena berbalik mencari raga yang selama beberapa waktu menguasai pikirannya, Dan yang menoleh menyatukan pandangan mata mereka. "Dia datang untukmu."


Gadis itu mengulurkan tangan kanannya ke arah pintu utama. Pendengarannya begitu tajam hingga mendengar suara bising dari mesin yang terbang meninggalkan halaman rumah. Dan tidak paham maksud Selena, tetapi suara pintu yang terbuka secara perlahan mengalihkan perhatiannya.


Bibir kelu tak mampu berucap. Ingin sekali membiarkan seseorang menampar wajahnya untuk mengembalikan kesadaran atas ilusi yang menyudutkan. Rasa rindu semakin tak tertahan. Bagaimana hati merintih berdoa semua yang dilihatnya nyata apa adanya. Akan tetapi, rasa kehilangan menghempaskan keyakinan.


"Shena istrimu, maaf atas semua kesalahan ku." Selena menundukkan pandangan tak kuasa menahan rasa sakit di hatinya.


Dan menatap Shena tanpa berkedip, sang istri yang duduk di kursi roda dengan mata terpejam. Sebagai sesama wanita, dia sadar betapa besar cinta pria itu untuk keluarga terutama bagi istri yang selama setahun kehidupannya hancur karena satu dosa tak termaafkan.


Tidak ada ketegangan selain kepasrahan, tetapi Dan masih terjebak di antara kerinduan dan ketidakpercayaan. Langkahnya mundur selangkah, "Apa rumah ini memiliki tipu daya? Aku melihat Shena di sana dengan beberapa orang berjalan semakin mendekat."


Speechless dengan pernyataan Dan, sontak saja Selena memahami sang kakak dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ia melupakan rasa sesak di dada, lalu meraih tangan pria itu. Genggaman tangan yang ingin mengatakan bahwa dia ada untuk kebaikan bersama. Dibimbingnya Dan mendekat ke arah Shena yang semakin mendekat.


Rasanya seperti bara api bertemu es balok yang bercampur menjadi satu. Tangan gemetar berusaha menahan diri untuk tetap tenang, "Shena, istrimu. Kini kalian bisa bersatu dan ini janjiku pada kakak."


Tidak ada kata lagi yang bisa ia ungkapkan sekian sebaris kalimat dalam luka di hatinya. Biarlah rasa menjadi miliknya seorang, tanpa ingin menambah kegelisahan. Satu isyarat tangan membubarkan semua orang. Kini yang tertinggal hanyalah Shena bersama Dan. Pria itu mencoba meyakinkan diri untuk memastikan di depan mata memanglah istri yang ia rindukan.


Pertemuan pertama setelah sekian lama membawa rindu dalam rasa syukur yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Pelukan tanpa balasan menempa kesabaran dalam peraduan. Detakan jantung kembali menghantarkan kenyamanan. Dialah Shena yang mampu mengembalikan emosi nyata dalam belenggu jiwa.


Pemandangan yang dramatis menjadi hadiah pertama dari Selena sebagai anggota keluarga baru. Akan tetapi, dari lantai atas pandangan mata tak suka menjurus ke bawah. Kedua tangannya mengepal, "Wajah itu membekas menyakiti keluarga ku. Apa aku harus percaya? Pihak kepolisian baru mengabari bahwa tahanan melarikan diri dari rumah sakit. Kebetulan sekali, jadi siapa kamu?"