
Malam yang dingin, namun hati menghangat. Pasutri itu merajut hubungan dengan kebersamaan. Tidak ada yang mengganggu, tidak ada yang bisa merusak untuk malam ini. Entah esok? Selama masih ada hati yang menyimpan niat jahat. Kehidupan tidak akan semudah membalikkan telapak tangan.
Keesokan harinya. Shena berangkat ke kampus, tetapi gadis itu meminta izin untuk naik taxi karena harus kembali ke rumah terlebih dahulu. Sayangnya, Danish menolak dan bersikeras mengantarkan sang istri kemanapun tujuannya.
Akhirnya, pasutri itu meninggalkan kediaman Anderson pagi buta. Perjalanan selama satu jam ditempuh lebih cepat dari biasanya, begitu memasuki halaman rumah sendiri. Shena keluar dari mobil dengan terburu-buru. Ntah apa yang membuat gadis itu bersikap begitu energik.
Mau, tak mau. Ia ikut menyusul tetapi dengan langkah santai tanpa ingin memburu waktu. Bibi yang sudah bangun memulai pekerjaan pagi, mempersilahkannya masuk ke dalam. Rumah masih dalam keadaan sepi, mungkin kedua orang tua Shena masih beristirahat.
Langkahnya terus berjalan menapaki lantai, hingga menaiki anak tangga satu persatu. Setelah mencapai ujung, langkahnya terhenti karena pintu kamar Shena tidak tertutup. Dari luar, nampak gadis itu tengah mondar-mandir kebingungan mencari sesuatu. Tetapi apa?
"SheZa!" Panggilnya mencoba untuk menghentikan aktifitas sang istri, sayangnya Shena hanya menoleh sesaat lalu kembali sibuk. "Ada apa lagi, dengan istriku?"
Kamar yang awalnya rapi berubah menjadi berantakan. Shena menghela nafas lega begitu menemukan apa yang dicarinya. Namun, kini ia terpaku dengan pemandangan kamar yang sudah seperti kapal pecah. Sepertinya gadis itu terlalu fokus hingga lupa telah menjadi perusuh di kamar sendiri.
Danish masuk, berjalan mendekati Shena. Hatinya tergerak untuk menyayangi istrinya itu dengan mengusap kepala berambut panjang yang selalu di gerai, "Ayo, kita rapikan bersama. Sebelum itu, simpan di tempat aman barang yang kamu cari barusan."
Benar saja, setelah Shena menyimpan flashdisk yang berisi beberapa file penting ke kantong celananya. Kemudian mulai merapikan kamarnya dibantu Danish. Pasutri itu bekerjasama hingga pekerjaan selesai dengan cepat. Lima belas menit berlalu hanya untuk mengembalikan kamar ke bentuk semula.
Pukul enam lebih tiga puluh menit.
"Kamu mandi dulu, biar tidak telat. Aku akan menunggu disini." Ujar Danish duduk di tepi ranjang seraya merentangkan kedua tangan melakukan peregangan.
Shena mengeluarkan flashdisk, lalu mengambil laptop dari atas meja kerja nya. Setelah beberapa saat menunggu layar laptop menyala. Gadis itu memasukkan flashdisk ke tempatnya. "Mas, ini file yang kau minta semalam. Boleh diperiksa, aku akan pergi mandi."
Jadi, istrinya terburu-buru melakukan pekerjaan karena proyek new generation. Rupanya seperti itu. Ia hanya bisa menggelengkan kepala ringan. Ada aja kelakuan istrinya yang bikin mood menjadi naik. Setelah pintu kamar mandi ditutup, Dan beranjak dari tempatnya.
Pria itu berpindah tempat, lalu menarik kursi yang pasti biasa digunakan oleh Shena belajar. Laptop yang menyala menampilkan skema rancangan dari proyek new generation. Proyek impian sang istri.
Dari awal penjelasan, Dan menyimpulkan bahwa bisnis ini adalah pengelolaan kerjasama team dengan menyambangi orang-orang biasa untuk melakukan perluasan usaha. Misalnya ketika proyek benar-benar dimulai. Maka Shena akan turun ke jalanan untuk melakukan survei tentang pedagang kaki lima.
Gadis itu mengumpulkan data dari berbagai pihak, sekaligus melakukan pencarian para anak muda yang bisa berpotensi untuk ikut mengembangkan proyek new generation. Jika di pikirkan, prosesnya rumit karena bukan usaha mandiri, tetapi dampak yang ditimbulkan luas jangkauannya.
Satu persatu trick Shena untuk memajukan dan melancarkan kinerjanya juga dibaca hingga poin terakhir. Dan bisa membayangkan, jika proyek itu berjalan sebagaimana mestinya. Sudah pasti akan banyak kaum muda yang merintis usaha dengan sistem penyangga. Menarik, walau akan beresiko tinggi.
Jika seorang pebisnis. Tentu memikirkan untung dan rugi. Namun, melihat persentase yang hanya berat di sebelah. Sudah pasti disebut ketidakadilan. Tiba-tiba, Dan teringat akan sebuah tempat yang baru saja ia beli. Bangunan kosong yang bisa menjadi tempat Shena memulai proyeknya sendiri.
Jika mengenai team. Bisa diatur bahkan tidak memerlukan biaya tambahan, tapi jika hanya seperti itu. Sudah pasti akan menimbulkan gonjang-ganjing dalam dunia bisnis. Sekali lagi memikirkan apa yang baik untuk langkah selanjutnya.
Kesibukan Dan yang tengah berpikir, membuat pria itu tak menyadari ketika Shena keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang basah berusaha dikeringkan. Gadis itu mengibaskan rambut hingga cipratan airnya mengenai wajah sang suami. Aroma harum menguar, mengalihkan perhatian.
Tatapan mata beralih mengikuti langkah Shena yang berjalan menghampiri cermin di depan lemari. Gadis itu sibuk merawat dirinya sendiri. Hairdryer yang menyala menerbangkan rambut yang ingin dikeringkan. Terlalu fokus tanpa menoleh ke belakang. Dimana Dan terus menatap ke arahnya.
Pemandangan yang indah dan tidak boleh terlewatkan. Rambut yang panjang, membuat Shena sedikit kesusahan. Sontak saja, Dan beranjak dari tempatnya. Tanpa kata, ia mengambil alih hairdryer dari tangan istrinya. Senyuman manis yang jarang terlihat menghiasi wajah cantik sang istri.
"SheZa, apa kamu mau ikut bertemu Tiara?" tanya Dan berhati-hati, ia tak mau menyakiti hati istrinya jika pergi tanpa izin.
Tatapan mata gadis itu lurus ke depan membalas tatapan Danish melalui pantulan cermin. "Mas, kepercayaan tidak untuk dipertanyakan. Seperti yang aku bilang. Selesaikan masalah Mas bersama Mbak Tiara. Disini, aku menunggu sebagai seorang istri."
"Apa kamu sudah memikirkan semuanya, SheZa?" tanya Dan sekali lagi untuk memastikan, membuat Shena menahan tangannya, lalu berbalik menatapnya tanpa berkedip.
"Mas, rumah tangga bukan permainan." Shena mematikan hairdryer, kemudian memeluk dada bidang yang kini memang haknya untuk menjadi tempat bersandar. "Disini, tempatku. Bukan Mbak Tiara atau wanita lain. Selama komitmen terjaga, kepercayaan akan tetap ada."
Rasanya terenyuh mendengar penuturan sang istri. Shena bukan hanya menunjukkan kedewasaan tetapi juga penerimaan yang memang pantas dia dapatkan. Sebagai seorang suami yang dihargai dan dihormati. Tidak ada yang memberikan jarak kehampaan di dalam hubungan mereka.
Direngkuhnya tubuh sang istri, membalas pelukan hangat yang mengingatkan tempatnya berpulang. Sebagai pria, dia sadar bisa membuat keputusan tanpa bertanya. Namun sebagai seorang suami, ia ingin Shena juga terlibat dalam kehidupannya yang kini akan selalu menjadi kata kita.
"Terima kasih telah menjadi istriku. Shena Az Zahra. Kehadiranmu adalah cahaya di malam gelapku. Ingatkan aku, jika langkah kaki ini menuju jurang ketidakadilan. Sadarkan aku, jika hati ini mulai mempertanyakan keraguan tak mendasar. Bismillah, semoga kamu pasangan dunia dan akhirat ku, SheZa."
Doa dan harapan yang tinggi. Shena mengamini setiap untaian kata suaminya. Bukan karena ia takut kehilangan, tetapi ia sadar. Saat ini, hubungan yang tengah dirajut memang untuk menuju ridho Allah. Belajar mencintai suami, tanpa harus memaksakan hubungan yang memang baru terikat.
Kebebasan itu, diperlukan. Namun, tetap pada ketetapan yang selalu menjadi pengikat hubungan suami istri. Shena dan Danish semakin mendekat meraih asa yang ingin mereka satukan, sedangkan di sisi lain. Pertengkaran hebat terdengar memecah kesunyian taman.
"Jadi, ini keputusan tetapmu?"