Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 121: Area Balap, Penawar Racun


Lamunan yang terus membawa kesadaran Dan, membuat Black hanya bisa menghela napas panjang. Susah menyatukan pikiran dan perasaan yang terus saja lari mengejar angan. Seharusnya ia menyiapkan sebuah rencana yang bisa menjadi semangat untuk pria patah hati di depannya.


Biarlah siang berlalu dalam kesunyian agar menjemput malam penuh keramaian. Hiruk-pikuk dari balik bayang-bayang kegelapan menyatu menjadi pertemuan waktu dan rasa yang selalu enggan disapa. Disinilah alur kehidupan akan bermula, siapa kawan dan siapa lawan? Tak seorangpun tahu.


Pukul sepuluh malam di dalam mobil yang terparkir agak jauh dari tempat balapan. Jemari sibuk berselancar menikmati rangkaian huruf dan angka, lalu tak lupa menekan tombol on si earphones bluetooth yang terpasang di telinga kanannya. Panggilan sudah tersambung bersama seseorang yang duduk di atas salah satu motor pembalap malam ini.


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu? Sebelum balapan dimulai, kita bisa bertukar tempat jika mau." ucapnya agak mencemaskan keinginannya yang menjadi kenyataan, tetapi jawaban dari seberang enggan melakukan penyerahan diri.


Menghela napas panjang nan berat seraya memastikan semua kamera pengawas di posisi masing-masing bekerja dengan baik. "Ok, good luck, Dan."


Danish Anderson yang awalnya menggenggam trauma, tiba-tiba memutuskan ikut balapan ketika melihat ada Fatih di antara para peserta malam ini. Ia tahu resiko dari balapan liar, apa pun itu akan dia tanggung karena kesempatan tidak bisa datang dua kali. Malam ini menjadi penentuan langkahnya ke depan nanti.


Suara aba-aba dari tempat balapan terdengar begitu jelas dari earphones, lalu dari kamera pengawas terlihat seorang gadis rambut pirang berpenampilan menawan dengan gaun selutut melepaskan selembar kain merah sebagai tanda balapan dimulai. Tak elak deru mesin saling memburu melesat di jalanan.


Black trus mengawasi pergerakan Danish yang sangat mengkhawatirkan. Pria satu itu terlihat begitu kaku mengendarai motor gede yang menjadi favoritnya. Bukan apa-apq, ia takut balapan itu justru mencelakai makhluk yang kini menjadi kesayangan sang adik. Walau pada akhirnya hanya bisa menunggu hingga balapan usai.


Sementara di arena balap, Dan mencoba tetap tenang menyeimbangkan kecepatan dan kekuatan genggaman tangan. Ia berusaha sekuat tenaga mengabaikan trauma yang mulai menyapa. Sepertinya keputusan kali ini harus dikendalikan menggunakan akal bukan perasaan. Ditengah rasa takut, ingatan hanya mengenang tubuh lemah Shena yang terbaring.


Perlahan bisa menguasai laju kendaraan hingga rasa yang dulu hilang mulai menyusup masuk memberikan dukungan dalam kenekatan. Rasa terbang mengikuti arah angin tanpa beban pikiran yang terus menerjang. Melepaskan semua drama dunia menjadi kebahagiaan yang sederhana. Ia merasa jiwa yang hilang kini telah kembali.


Janji yang Dan ucapkan juga terngiang-ngiang memenuhi kepala Black. Kini ia tahu bahwa balapan bukan untuk melawan trauma, melainkan menetapkan keputusan yang masih belum bisa dipastikan. Pantas saja, sejak awal selalu menghindar ketika ditanya hukuman untuk Fatih. Rupanya masih ada hati sebagai sesama manusia.


Apapun yang terjadi di jalanan menjadi urusan Dan, sedangkan rasa sakit memohon pengampunan hanya milik seorang wanita yang terus menjerit dengan suara lirih. Racun yang mengalir semakin menyiksa tubuhnya, tetapi tidak ada yang berani mendekat. Kenapa semua itu terjadi padanya? Apakah karena mencintai pria bersuami?


"Non, maafkan kami yang tidak bisa menolong." Seorang pelayan mencoba mendekat, lalu mengambil sebuah jarum suntik yang sudah disediakan. "Ini penawar, seharusnya diberikan setelah satu jam. Bibi akan berikan sekarang."


Wanita yang berusia tiga puluh tahunan itu tidak menyadari apa yang akan dilakukannya. Penawar tidak bisa diberikan sesuka hati, apalagi mempersingkat waktu karena memiliki efek samping yang tidak bisa terbayangkan. Di rumah yang hanya ada para pelayan, tak seorangpun tahu akan bahaya itu.


Cairan bening disuntikkan ke kantong, lalu memasuki selang infus yang mengalir hingga meresap ke dalam darah melalui tangan. Setetes, dua tetes masih tidak bereaksi kecuali ketenangan yang dialami oleh Tiara. Melihat penawar itu berhasil mengembalikan kesadaran sang Nona, si pelayan beranjak dari tempatnya berdiri.


Niat hati ingin meninggalkan kamar tersebut, tetapi baru membalikkan tubuh dengan langkah kaki menjauh beberapa jengkal. Suara teriakan pilu menyambut gendang telinganya. Sakit karena terlalu begitu keras, hanya saja begitu berbalik matanya melotot.


"Astagfirullah, Non kenapa?!"


Teriakan Bibi Susi terdengar hingga keluar kamar, membuat semua yang ada di rumah tersebut berlari terburu-buru bergegas melihat apa yang terjadi. Mereka terkejut dengan pemandangan pertama yang dilihat. Dimana rekan kerja mereka terduduk di lantai dengan tatapan mata kosong, sedangkan di atas ranjang tubuh melintang Tiara sekarat meminta pertolongan.


Wanita itu berusaha untuk tetap bertahan ditengah rasa sakitnya. Tubuh memerah, mata melotot, bibir mengeluarkan busa putih seperti racun. Apa yang terjadi? Mereka tidak ada yang tahu, tetapi berusaha untuk menyelamatkan sebisa mungkin. Meski takdir berkata lain karena nyawa Tiara tidak bisa diselamatkan.