
Selena menolak dengan alasan pekerjaan. Tentu saja Dan tidak mempermasalahkan karena ia paham memiliki adik angkat yang memang seorang pebisnis. Terlepas dari bisnis yang digelutinya, ia cukup sadar bahwa wanita itu pantas di sayangi sebagai seorang adik.
Dunia selalu mengajarkan kebaikan dan keburukan. Akan tetapi, manusialah yang seringkali berlebihan. Baru saja memiliki kelebihan sedikit, atau kekayaan yang berlimpah, atau mendapatkan takdir keluarga harmonis. Manusia yang berkecukupan merasa sudah paling wah.
Padahal di hadapan Allah semua hamba tetaplah sama yang membedakan adalah iman dan ketakwaan. Benar, manusia lupa akan kodratnya yang memiliki kewajiban mengasihi sesama. Jangankan menghargai, manusia lebih sering mengutamakan ego masing-masing. Berpikir akulah yang terbaik.
Setiap manusia yang dilahirkan akan kembali dihisap ke tanah sebagai raga tak berjiwa. Kematian selalu mengintai, walau manusia seringkali tak mempedulikan. Lalu, kenapa sesama manusia saling mengharapkan? Karena manusia hidup di alam semesta. Hanya saja saling mengutamakan hak masing-masing.
Seperti hal nya menilai kehidupan orang melalui pekerjaan yang digeluti. Manusia berpikir pekerjaan yang mulia adalah ini, sedangkan pekerjaan itu merupakan aib. Ketika takdir memberikan cobaan yang berbeda. Kenapa manusia berpikir dialah yang paling bisa?
Apakah tidak bisa menjadi manusia yang sederhana? Jangan menilai tanpa mengetahui kelamnya kehidupan seseorang. Jangan berpikir mampu, ketika tidak tahu sakit dan perjuangan orang lain. Jangan menjatuhkan stigma untuk menyudutkan sesama manusia.
Jadilah pribadi yang merengkuh semua sudut pandang, rasa dan ketenangan agar memiliki kesadaran diri. Bercermin ketika merasa kita memiliki kelebihan. Percayalah menjaga lisan akan lebih baik, tetapi jangan menyimpan bara api di dalam hati. Hiduplah dengan belas kasih terhadap sesama.
Hari yang cukup panjang dengan kebersamaan yang singkat. Begitu matahari tenggelam menuju peraduan, Danish dan Rafael sudah stay di bandara menunggu waktu penerbangan mereka. Akan tetapi masih sibuk menikmati secangkir kopi bersama Selena. Secara khusus wanita itu meliburkan diri dari dunia malamnya.
"Sunshine, ini alamat rumahku." Danish menyodorkan kartu namanya ke atas meja, "Jika ponselku tidak bisa di hubungi. Kamu bisa menelpon ke no lain yang siap membantu, tapi jangan lupa katakan namamu agar tidak dianggap warga ilegal."
Penyampaian Danish terkesan sebuah candaan hingga menghadirkan tawa kecil sang adik, sedangkan Rafael hanya menggelengkan kepala keheranan. Bagaimana bisa pria satu itu bersikap lebih slow? Padahal di dalam kepalanya pasti masih menumpuk banyak masalah.
Ditengah candaan terdengar pengumuman agar para penumpang pesawat segera melakukan check-in untuk pemberangkatan. Selena mengantar kedua pemuda itu, melepaskan kepergian dengan lambaian tangan. Barulah ia berjalan meninggalkan area bandara.
Mobil sudah menunggu di depan, begitu masuk langsung melaju membawanya pergi menuju tempat tujuan yang tidak bisa ditunda lagi. Wanita itu sibuk melakukan pengecekan melalui ponsel pribadinya. Setelah memastikan semua aman, maka kini bisa fokus dengan kehidupan baru.
"Apa semua informasi sudah dikumpulkan?" tanya Selena yang tersambung ke sebuah panggilan internasional, jawaban dari seberang hanya dia yang tahu. ''Good, awasi dan jaga wanita itu untukku. Lakukan semua tanpa menimbulkan kecurigaan."
Berat rasanya ketika hati mulai merasakan arti kasih sayang, semua yang ada dalam hidupnya justru dipertaruhkan. Memang Danish tidak tahu siapa dirinya, tetapi tidak sebaliknya. Kenyataan itu seperti cermin satu arah. Tidak memantulkan bayangan, melainkan menghapus gambaran.
Selena hanya bisa menghela nafas berulang-ulang, tetapi rasa sesak di dada enggan meninggalkan hati yang membara. Selama ini, wanita itu tidak peduli jika harus merenggut kebahagiaan orang yang pantas dihancurkan. Akan tetapi, ketika menyangkut Danish. Prinsip tidak lagi berguna.
Kenyataannya adalah dialah yang membantu Fatih untuk mewujudkan mimpi bersatu bersama sang pujaan hati bahkan obat penghilang ingatan juga darinya. Sebagai gantinya, ia mendapatkan banyak gadis semekar bunga yang rela menjual kehormatan. Menjijikkan ketika semakin dipikirkan.
Apa boleh buat? Semua sudah terjadi selama setahun terakhir hingga kehadiran Danish menyentak harga diri dan kehormatan sebagai seorang wanita. Sadar atas kesalahan yang seharusnya tidak menjadi bagian hidupnya. Kini yang bisa dilakukan adalah memperbaiki keadaan.
"Queen, semua sudah siap. Apakah Anda akan lama di Indonesia?" Sang tangan kanan membukakan pintu begitu mobil berhenti di lapangan yang luas, dimana di depan sana dua helikopter sudah siap meluncur terbang meninggalkan London.
Sesaat mengedarkan pandangan mata, sejauh mata memandang hanya ada kegelapan sama seperti hidupnya saat ini, "Aku tidak tahu, Black. Cukup tangani semua pekerjaan dan selalu kabari aku situasi yang ada. Satu lagi, pastikan tidak ada orang lain yang tahu kepergianku."
"Seperti keinginan Anda, Queen. Mari!" Black mengulurkan tangan mempersilahkan Selena berjalan di depan, sebagai orang terpercaya maka ia tahu benar bahwa bosnya ingin menyelesaikan masalah seorang diri.
Begitu masuk ke helikopter. Selena memilih memejamkan mata untuk beristirahat di sisa waktu santainya, sedangkan di Indonesia hanya ada ketegangan di dalam kediaman Anderson. Sudah mencoba untuk bersikap biasa saja, tetapi hati tidak memungkiri kekecewaan yang kian tenggelam menusuk semakin dalam.
Sementara itu, Fatih sudah menyerah merayu Shena agar keluar dari kamar. Rasa lapar yang mendera terabaikan, emosi yang kian tertanam menghadirkan belenggu ketidaksabaran. Setelah mencoba untuk bersikap baik dengan hasil lelah, maka ketegasan diperlukan.
Diambilnya kunci cadangan yang tersimpan di dalam kamar. Lalu bergegas membuka pintu kamar lain, dimana Shena mengurung diri. Suara keras bantingan bersambut kesunyian. Pria itu melihat ke sekeliling seraya memanggil si wanita dengan suara penuh amarah. Akan tetapi nihil karena tidak ada siapapun.
Dari tempat tidur, kamar mandi, lemari bahkan bawah ranjang. Kamar benar-benar kosong tanpa penghuni, membuat jeritan keputusasaan. Di tengah ketidakberdayaan netranya melihat jendela kamar yang terbuka, buru-buru memeriksa hingga hati merasa yakin bahwa Shena melarikan diri dengan cara melewati jendela tersebut.
"Ouh, $h!t." Tanpa basa basi menjambak rambutnya kasar dengan hentakan kaki yang menendang guci di depannya. Suara pecahan tak bisa dihindari, "Kamu milikku, sampai kapanpun Shena. Aku salah membawamu kembali ke Indonesia."
Tak ingin kehilangan jejak. Fatih berlari meninggalkan kamar. Langkah kaki yang bergerak begitu cepat hanya untuk menangkap tahanannya. Cinta bukanlah keikhlasan, tetapi wajib memiliki. Tidak peduli jika orang lain menyebutnya posesif atau kehilangan akal.
Jalanan yang cukup sepi, langkah kaki terseok-seok menyusuri jalanan setapak yang ditumbuhi rumput liar. Instingnya mengatakan jalan itu aman dibandingkan melewati jalanan umum yang banyak dilalui kendaraan.