Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 115: Meyakinkan Ka Dan


Tak ada lagi ketenangan yang tersisa karena kedamaian hati terhempas begitu saja. Satu sisi menangani masalah Fatih yang berniat melukai Dan, sedangkan di sisi lain ada Shena. Dimana dokter mengatakan keadaan gadis itu semakin memburuk dan hal itu disebabkan pengobatan yang ditolak tubuh si pasien.


Mau, tak mau ia harus bertindak mengutamakan tujuan hidupnya. Akan tetapi tidak memberi kesempatan pada Fatih untuk mencapai tujuan jahat yang pasti terarah untuk kakak angkatnya. Tak ingin mengambil keputusan buru-buru, perlahan menghirup udara disekitarnya.


"Baiklah, aku harus meminta bantuan Ka Black. Setidaknya mengalihkan perhatian untuk sementara waktu, dan sisanya bisa aku urus secara berkala." Selena mengalihkan panggilan yang ternyata masih tersambung, ia mencoba memanggil sang kakak.


Suara dering yang terdengar menandakan si pemilik nomor tengah sibuk entah melakukan apa. Terlalu lama mengangkatnya, mungkinkah sibuk berenang? Kebiasaan yang pasti menghabiskan waktu selama beberapa jam. Selena tidak menyerah hingga mengalihkan panggilan ke nomor telepon rumah.


"Bi, antar telepon ke Tuan Muda!" Selena tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, dari sambungan telepon terdengar suara langkah kaki menjauh. Beberapa saat menunggu tanpa ingin melebihkan kesabaran hingga suara familiar menyambut dengan sapaan manja.


"Ka, bantu aku untuk menangani Shena. Para dokter kebingungan harus melakukan apa, sedangkan di rumah sakit ada Fatih yang berniat menyerang Dan. Aku harus membawa Tuan Anderson beserta keluarga untuk menjauh dari negara Indonesia dan itu dilakukan malam ini juga.


"Jika mungkin, Kakak bisa membawa Shena dan para dokter ke London. Disana ada dokter Veer yang bisa membantu pengobatan. Satu lagi, pastikan tidak ada jejak keberadaan kita di Indonesia! Good luck, Ka." Selena mematikan panggilannya, lalu mencoba melihat situasi di luar dari sebuah kaca yang ada di pintu.


Ternyata sudah aman, bahkan anak buahnya sudah mengirim pesan telah menyelesaikan tugas. Dirasa tidak ada masalah lagi, maka ia keluar dari ruangan bayi. Lalu bergegas berlari kecil menuju ruangan ICU. Pintu ruangan didorong tanpa permisi, membuat orang yang duduk di kursi tunggu mengalihkan perhatiannya.


"Sunshine! Kenapa datang mengendap-endap?" tanya Dan seraya beranjak dari tempat duduknya, tentu saja merasa curiga dengan cara Selena yang tak biasa.


Namun, gadis itu justru menaruh telunjuk di depan bibir. Ia memberikan isyarat agar Dan diam, tetapi tatapan mata tertuju pada kondisi Papa Anderson yang terbaring lemah tak berdaya dengan selang infus tertancap di tangan kiri. Balutan luka yang ada di dada menjelaskan seperti apa keadaan pria itu.


"Shun ...,"


"Kita harus meninggalkan Indonesia." ucap Selena tanpa ini dan itu, ia berbicara apa adanya langsung pada tujuan yang merasuki pikiran menjadi keputusan final.


Selena menyadari bahwa Dan mulai berpikir ke arah salah paham. Tak ingin membuat jarak yang tidak seharusnya, maka harus melakukan sesuatu yang bisa menjadi jalan keluar mereka semua. Kali ini bukan menyangkut satu nyawa saja, melainkan banyak nyawa. Waktu semakin menipis hingga satu pernyataan baru menghentakkan kesadaran sang kakak angkat.


"Aku mengenal Fatih dan dia ingin melenyapkanmu. Apa sekarang kamu puas?!"


Satu kenyataan yang benar-benar mengubah akal sehatnya. Selena yang baru datang ke dalam dunianya mengenal mantan adik angkat yang pernah ia sayangi. Sangat aneh, tetapi nyata adanya. Ingin sekali bertanya, hanya saja ungkapan terakhir mengembalikan kesadaran pada raga yang tersentak.


Dan mencengkram lengan Selena, tatapan mata menelisik mencoba mencari keraguan yang bisa memanipulasi keadaan. Akan tetapi tidak ada kebohongan yang terpancar dari netra sang adik angkat. "Apa kamu merasa aku tidak bisa menjaga keluarga ku? Disini semua bisa dipermudah, tetapi di luar sana siapa yang akan menjamin? Aku siap melakukan segala cara untuk memastikan keamanan ...,"


Dihempaskannya tangan Sang Kakak. Siapa yang meragukan kekuasaan seorang Danish Anderson? Tidak ada, hanya saja ia ingin menebus kesalahannya dengan melindungi keluarga barunya. Di sisi lain ingin mempertemukan mereka dengan Shena. Mungkin ia salah bicara hingga menyulut emosi yang benar-benar murka.


Namun semua itu tidak ada gunanya karena waktu tidak mengizinkan untuk berbuat sesuka hati. "Baiklah, Ka Dan ingin stay 'kan? Silahkan stay, tapi bagaimana kakak akan memastikan keamanan semua orang? Disini kakak sendiri, dirumah ada Mama, Naina yang hamil, Xavier yang sibuk bekerja. Lalu ada Rafael dan Siti yang masih dalam perjalanan ke rumah sakit. Semua orang terpencar, so?"


"Oh ya, jangan lupakan orang tua Shena. Mertua kakak yang tidak tahu apapun, bahkan termasuk penipuan Tiara yang berhasil memiliki wajah seorang istri dari Danish Anderson. Apa jaminan dari penawaran yang kakak ulurkan? Pahami satu hal ini, Ka. Aku ingin kalian selamat dari kegilaan Fatih.


"Apa kakak paham? Jika tidak, apa aku harus menelpon anak buah ku agar mengatakan tindakan Fatih selama satu tahun terakhir? Jangan persulit dan jika malam ini Ka Dan menurut tanpa mempersulit. Aku janji akan membawa Shena pada kehidupanmu bersama hadiah kecil yang akan menjadi awal baru kehidupan." Selena terpaksa membawa nama Shena di akhir pernyataan yang ia ungkapkan.


Tak lagi bisa berkata-kata karena semua seperti tali yang mengekang kekuasaannya. Selena bukan hanya memberi kesempatan, tetapi juga harapan baru. Kini tidak ada alasan untuk mempertanyakan atau meragukan lagi, "Kemana kamu akan membawa kami?"


Seulas senyum yang tersungging menghadirkan pertanyaan tanpa jawaban. Malam yang panjang baru dimulai dimana Selena berhasil mendapatkan persetujuan Dan. Pria yang mengambil alih keputusan di dalam keluarga Anderson. Sebagai seorang perencana, maka ia bergerak cepat tanpa meninggalkan jejak.


Rembulan malam bersinar tanpa kerinduan karena rindu milik bumi tak bertuan. Makhluk yang saling mengasihi dengan tangan saling menggengam. Bintang tanpa pijar tenggelam menyelam dalam kegelapan. Bagaikan awan diam tanpa peraduan. Waktu menghilang dalam kesunyian.