Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 62: Keluarga, Keputusan Papa


Terkadang kehidupan bukan hanya tentang kejujuran. Ada kalanya kenyataan harus disembunyikan demi kebaikan bersama. Termasuk posisi Danish saat ini, pria itu memilih untuk diam sejenak. Mengamati alur yang tengah bergulir hingga pada saatnya nanti. Ia mampu memperbaiki keadaan tanpa menimbulkan kekacauan.


Hanya saja, Danish melupakan. Kebenaran tidak akan pernah terwujud hanya dengan satu pengumuman melalui selembar kertas. Pada dasarnya, perang hati dan pikiran hanya manusia itu sendiri yang bisa mengatasi, tetapi perang emosi dan kekuasaan selalu nyata dalam pengorbanan.


Satu jam berlalu, semua orang sudah berkumpul di meja makan. Seperti keluarga bahagia. Meski tidak tahu apa yang menjadi umpatan dan keluhan hati serta pikiran. Mama Quinara membuat sebuah hidangan sarapan yang cukup menyehatkan, tetapi tetap menyiapkan makanan berat.


"Tante, luar biasa. Masakan sebanyak ini dimasak sendiri." Puji Siti, gadis itu tidak sabar ingin mencicipi setiap menu makan pagi ini.


Dimana di atas meja ada gurihnya sop iga sapi yang mengepul, tumis kangkung suasana tiram dengan potongan udang besar, jamur crispy, sambal tomat, ditambah nasi uduk yang mengeluarkan aroma santan nan menggugah selera. Siapa sih yang gak ngiler melihat makanan sebanyak itu?


"Seorang wanita bukan hanya memiliki tugas untuk menyenangkan hati suami, tetapi harus bisa mengurus rumah tangganya dalam suka dan duka. Namun, ketika seorang wanita berubah menjadi ibu. Dunianya berubah menjadi milik anak-anak mereka. Jadi, Mama harap, kalian sebagai wanita bisa menjaga diri untuk menjadi kekuatan keluarga."


Pagi yang cerah dengan ceramah yang sangat serius, tetapi semua nasehat Mama Quinara memang benar adanya. Shena terharu karena mendapatkan mama mertua yang menganggapnya sebagai putri sendiri, bahkan Naina dan Siti juga mendapatkan perlakuan yang sama.


Makan pagi yang khidmat dengan suasana hangat. Tidak akan menyadari di antara rasa kebersamaan itu, ada hati yang menahan gejolak di jiwanya. Ada sepintas rasa sakit yang ingin diterjang dalam hentakan kenyataan. Namun, semua itu tersubur dalam senyum kepalsuan.


"Apa kalian akan tetap berangkat ke kampus?" Dan menatap ketiga gadis yang duduk di ruang tamu dengan penampilan sudah rapi, bahkan terlihat seperti tiga gadis kembar.


Shena, Naina dan Siti. Ketiga gadis itu mengenakan celana jeans biru dongker, atasan kemeja hitam dengan blazer warna putih. Apa mereka memesan secara dadakan? Atau bagaimana. Entahlah, karena yang membedakan ketiganya hanya dari rambut. Dimana sang istri membiarkan rambutnya tergerai. Naina mengepang, lalu Siti mengikat rambut tinggi-tinggi.


Selain itu, tidak ada yang bisa dibedakan. Memang benar, ketiganya seperti saudara yang dipertemukan pada saat menginjak usia remaja. Namun, ikatan itu menjadi kekeluargaan yang tidak bisa diremehkan. Ia saja salut dengan cara ketiga gadis itu dalam menangani masalah yang membelenggu kehidupan satu sama lain.


"Mas, kami ada ujian siang ini." Shena bangun dari tempat duduknya, begitu juga dengan Naina dan Siti. "Mas mau anterin atau aku pake mobil sendiri? Nai bisa menyetir dengan baik. Jika diizinkan."


"Tidak. Aku akan mengantar kalian ke kampus dan juga menjemput kalian saat jam kuliah berakhir. Ayo, hari ini aku juga akan mengadakan rapat dengan dewan direksi." Danish melambaikan tangan dengan seulas senyuman yang begitu menghangatkan.


Mulai hari ini, ia akan menganggap kedua sahabat sang istri sebagai seorang adik. Kedua gadis itu pantas mendapat tempat yang bisa menjadi keluarga. Satu hal bisa dipastikan. Jika sesuatu terjadi padanya. Naina dan Siti akan selalu ada untuk Shena untuk menjadi sandaran dan memberikan dukungan tanpa pamrih.


"Mas, hari ini aku akan membantu Naina untuk menyelesaikan proyeknya. Kemungkinan bisa sampai sore. Jadi, Mas Dan bisa fokus kerja dan aku fokus kuliah." ucap Shena sebelum turun dari mobil, lalu meraih tangan sang suami, kemudian mengecupnya sebagaimana kewajiban seorang istri.


Rasanya begitu khidmat, tak terasa pipinya basah akan jatuhnya air mata haru. Dikecupnya kening sang istri dengan perasaan menghangat. "Semangat, Istriku. All the best for my wife. Setiap usaha akan selalu ada hasilnya. Take care."


Pasutri itu berpisah. Shena kembali bergabung dengan kedua sahabatnya, sedangkan Danish kembali mengendarai mobilnya menuju kantor. Pria itu akan memulai apa yang seharusnya. Entah harus menunggu sang papa untuk persetujuan atau lebih baik langsung eksekusi. Bingung, tetapi harus segera bertindak.


Tidak ada waktu untuk berpangku tangan karena kini menyangkut keselamatan keluarga. Jika hanya mengusiknya. It's ok, tapi tidak dengan niat memporakporandakan seluruh anggota keluarga. Apapun yang telah terjadi, tidak bisa diubahnya. Namun, masa esok. Ia bisa merancang dan memperbaiki kehidupan.


Gedung pencakar langit PT. Anderson. Seluruh staff berjejer rapi menyambut kedatangannya, bahkan terlihat pak manager juga ikut berdiri di depan lobi. Ada apa? Tumben semua orang bersikap formal. Tidak seperti biasa, kesibukan akan menjadi pemandangan pertama, tapi kali ini semua terlihat aneh.


"Selamat pagi, Tuan Danish Anderson." sambut Pak Manager mempersilahkan CEO untuk masuk ke dalam gedung perusahaan.


Tak perlu bertanya apapun karena manager pasti akan menjelaskan dalam hitungan kurang dari satu menit. Setelah ia menatap dengan alis terangkat, senyum yang memudar dari wajahnya. Sebagai seorang CEO, bukan berarti Danish selalu bersikap tegas dan sesuka hati. Papanya selalu mengajarkan toleransi, meski tidak melampaui batas peraturan perusahaan yang sudah tertulis tanpa bisa di ganggu gugat.


"Tuan Muda, Tuan Besar telah mengumumkan bahwa Anda akan mulai mengambil alih seluruh kuasa dari perusahaan PT Anderson. Beliau juga menjelaskan bahwa sejak seminggu setelah pernikahan putra pertama dilangsungkan. Maka, jabatannya sebagai wakil CEO sudah dialihkan menjadi milik Nona Muda Shena yang merupakan istri Tuan Muda."


Terkejut bukan main. Papanya sudah menyiapkan segala sesuatunya, bahkan tanpa bertanya terlebih dahulu. Apakah ini yang disebut persiapan perang tanpa pemberitahuan? Tidak pernah menyangka akan gerak cepat sang papa. Ia pikir harus melakukan tindakan dengan mengambil beberapa posisi untuk orang-orang kepercayaannya.


Akan tetapi, satu gerakan dari Papanya. Sudah cukup mengubah jalan permainan yang akan menjadi guncangan besar dalam kehidupannya dan Shena. Satu masalah yang harus diselesaikan. Bagaimana caranya mengatakan pada sang istri tentang keputusan Papanya? Tidak mungkin melalui telepon. Apalagi tiba-tiba menyodorkan file pekerjaan untuk melanjutkan kinerja yang selama ini ditangani oleh ahlinya.


Jujur, satu sisi merasa bangga akan tindakan sang papa. Namun, sisi lain terhempas dalam kebingungan. Jika ingin menyerahkan tanggung jawab sebesar itu, bagaimana caranya mengatakan kepada Shena? Serba salah yang ada. Satu masalah teratasi, tapi menimbulkan masalah baru hingga terdengar suara dering ponsel yang mengalihkan perhatiannya.


"Papa menelpon dari Dubai?" gumam Dan segera menggeser icon hijau di layar ponselnya. Lalu menempelkan ke telinga si benda pipih. "Assalamu'alaikum, Pa."