Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 102: Selena Story's


Tidak tahu apa masalah wanita itu. Kenapa bersusah payah mencari jaminan untuk pria tak dikenal sepertinya. Padahal masuk ke dalam penjara memang hanya untuk menenangkan pikiran. Ia tak ingin seperti kejadian semalam yang justru tepar entah dimana.


"Hey, Tuan. Bantuanku bukan untukmu, lagipula mau sampai kapan memesan tiket penerbangan ke Indonesia secara berulang-ulang? Tidak capek kah? Aku saja capek, padahal cuma baca registrasi pemesanan." Selena berjalan mendekati jeruji besi yang menghentikan pimpinan opsir melakukan pekerjaan yang ia minta.


Satu isyarat tangannya membuat Louis membuka gembok sel penjara, tetapi hal itu dilakukan agar Selena bisa masuk ke dalam dan menemui pria yang ia tangan beberapa puluh menit yang lalu. Seakan mengerti jika itu urusan pasangan kekasih, pimpinan opsir kembali ke tempat duduk mengajak Rafael agar bersantai sejenak.


Sementara Danish masih mengabaikan keberadaan Selena yang kini mendekam di dalam satu sel tahanan. Heran saja, kenapa ada wanita senekat itu. Tidak habis pikir karena dunia semakin dihuni orang-orang aneh saja. Bagaimanapun dirinya juga salah satu penghuni alam semesta.


Selena berjalan menghampiri Dan dengan langkah kaki yang lemah gemulai, tangan menyibak gaun yang memiliki belahan bawah hingga di batas atas lutut. Sontak saja menampilkan paha mulusnya. Ia sengaja melakukan itu untuk menguji ketahanan dari pria yang berhasil mencuri hatinya.


Bukannya melirik, apalagi tergoda. Danish justru kembali merebahkan tubuh, lalu memejamkan mata seraya mengibaskan tangan kanannya, "Enyahlah! Aku tidak butuh wanita penghibur."


Sadis sindiran pria itu bahkan tak mempengaruhi Selena yang justru tersenyum puas. Yah, kini ia dapatkan pria sesuai kriteria yang selama ini menjadi pusat penantian sepanjang hidupnya. Sebagai pemilik klub yang terbiasa dengan percintaan ranjang panas, minuman beralkohol serta permainan dunia gelap.


Tentu saja perlakuan Danish berbeda dari pria biasanya. Kebanyakan para kaum adam disodorkan barang mulus sedikit saja langsung klepek-klepek, tetapi baru kali ini menemukan barang antik yang bisa menjadi panutan agar kehidupan semakin lebih baik. Meski begitu harus membuktikan dengan cara yang lebih ekstrim.


Tanpa permisi Selena merengkuh kemeja pria yang langsung tersentak karena ulahnya, "Tuan, aku waras untuk menawarkan diri sepenuh hati. Apa masih kurang? Pelayananku pasti memuaskan, coba dulu baru ...,"


Rasanya sakit begitu tubuhnya jatuh terjerembab menyentuh lantai penjara yang dingin bersambut tatapan tajam menusuk relung hati. Hanya satu gerakan menepis, membuatnya seperti wanita murahan sungguhan. Benar sekali, ia murahan karena mengejar pria arrogant.


Sayangnya bukan menangis, Selena justru tertawa renyah hingga mengalihkan perhatian semua orang. Jika ada yang melihat di pinggir jalan, bisa jadi wanita itu di cap sebagai orang gila. Akan tetapi, dia memang gila karena cinta pada pandangan pertama.


"Interesting," Selena mengibaskan debu dari gaunnya begitu berdiri dengan kakinya sendiri. Lalu berjalan mengambil meja kayu yang tingginya hanya setengah meter, kemudian meletakkan meja itu untuk ia duduki.


Kini keduanya saling menatap satu sama lain. Dan yang emosi, geram dan jijik, berbanding terbalik dengan tatapan Selena yang begitu menjiwai perasaannya. Benci di mata sang pria dan cinta di mata sang wanita. Seperti satu koin yang memiliki dua sisi berbeda.


Aura dingin menyebar, bahkan Rafael beserta para opsir hanya bisa termangu menonton live streaming story love one side. Terlihat menyedihkan walau endingnya masih perlu diperhitungkan. Untuk pertama kalinya ada yang menantang Danish, bahkan tidak gentar menghadapi si singa jantan.


"Apa kamu tahu, priaku. Sejak kecil aku bermimpi memiliki pasangan yang bisa memperlakukan diriku romantis, tapi sejak usiaku menginjak lima belas tahun justru menjadi ratu kecantikan yang memenangkan hati banyak pria. Mereka romantis, hanya saja tidak memiliki jiwa."


Selena mengubah posisi duduk, membiarkan gaun terbebas menawarkan kemulusan paha yang selama ini dia rawat. "Lihatlah, bening dan para pria pasti antri. Sabar dulu, jangan menatapku seperti mencuri makananmu. Aku hanya ingin berbagi kisah nyata dari dunia gelap yang membesarkan nama dengan tipu daya."


"Satu gadis memiliki pacar lima sekaligus di jaman sekarang. Pasti wajar iya 'kan? Begitu juga dengan kehidupan having fun. One stand night atau sekedar melupakan penat dengan menghamburkan uang. Semua itu menjadi ladang usahaku." Selena menatap Dan lebih intens lagi, tetapi tatapan matanya dari atas kepala hingga turun mengikuti lekukan tubuh.


Benar-benar mata nakal yang tidak mau berhenti menggoda, sayangnya Danish tidak peduli. Baginya apapun yang dilakukan wanita itu, ia anggap sebagai ketidakwarasan. Mungkin ingin berangkat kerja, tetapi lupa dimana arah jalannya. Sudah pasti tersesat tanpa tujuan.


"Dicintai itu biasa, tetapi yang luar biasa adalah mencintai. Aku ingat kapan terakhir kali menangis. Sekitar delapan belas tahun silam. Usiaku masih dua belas tahun. Cantik, pendiam dan juga penurut, sebagai balasannya ayah tiriku sendiri merenggut kehormatan yang menjadi kebanggaan setiap wanita."


"Yah, Aku menangis bahkan meraung seperti bayi kelaparan. Takdirku begitu indah hingga Tuhan lupa memberikan satu kenikmatan sebagai seorang wanita yang membutuhkan perlindungan. Tetangga, saudara bahkan ibuku sendiri. Ck, mereka semua memang verdammt."


Umpatan kasar yang menggunakan bahasa Jerman, membuat Dan menyadari bahwa tujuan Selena bukan untuk menggoda melainkan menguji keimanannya. Wanita itu benar-benar hilang akal dengan melakukan tindakan di luar batas. Bagaimana di dunia yang hampir rusak justru ada karakter yang menyatukan antara keyakinan dan keraguan?


Ingin mengeluhkan atau mengajukan banding? Keduanya tidak bisa di lakukan karena Selena bukan wanita sembarangan. Ia sadar bahwa wanita itu memiliki pengaruh yang luar biasa hebat di London. Entah karena menjadi pemilik Club yang terkenal atau ada permainan di balik layar? Tak seorangpun tahu.


Panjang kali lebar menjadi kebenaran milik Selena. Wanita itu tidak peduli, jika dunia tahu tentang kehidupannya yang memang seperti penjual kehormatan. Yah, ia hidup dengan segala perjuangan yang tidak semua orang bisa lalui. Siapa yang mau menjadi seperti dirinya?


Wanita mana pun pasti menolak menjadi duplikat seorang Selena Queen of Club D'Lux Party. Meski kini banyak orang yang memujanya, tetap saja kesendirian yang terus menyiksa jiwa hanya menjadi milik ia seorang. Tidak peduli dengan dunia yang mencatat sejarahnya sebagai ibu para wanita malam.


"Apa maumu?" Dan bertanya tanpa ragu karena hatinya berkata Selena bukan wanita yang direndahkan oleh dunia.


Seulas senyum yang menawan dengan kembali menutup pahanya agar sopan. "Izinkan aku mencintaimu."


Bagaimana mengatakan pada wanita itu? Jika hati, jiwa dan raga hanya milik Shena seorang. Jangankan Selena yang memiliki kecantikan bak dewi rembulan. Bila Allah memintanya untuk melepaskan sang istri pun, ia akan mempertahankan belahan jiwa yang kini entah ada dimana.


"Kenapa kamu diam?" Selena cemas ketika bibir pria itu terdiam seakan ada kunci yang mengekang.


Dan menghela nafas pelan. Ia sangat menghargai keterbukaan bahkan kejujuran Selena yang memberikan kepercayaan mutlak untuk dirinya. Akan tetapi, ia bukanlah pria belang yang siap merentangkan tangan hanya untuk mendapatkan belaian kasih sayang.


Tidak peduli dengan kenyataan hidupnya yang penuh masalah. Shena tetaplah wanita satu-satunya yang memiliki hak atas kebahagiaan dan kerinduan selama napas masih dikandung badan. Kewajiban akan selalu mengingatkan bahwa ia sudah ada yang punya.


Namun kebenaran yang Danish sampaikan seperti sayatan belati yang mengoyak hati dan impian. Sekali lagi takdir mempermainkan kehidupan, ia pikir kali ini akan mendapatkan kebahagiaan. Nyatanya terluka semakin dalam hingga tak mampu bangkit untuk berjuang. Apakah ia tak pantas dicintai?


Di tengah rasa sakit akan kebenaran yang Dan sampaikan. Selena berusaha tetap tersenyum menawan menahan duka yang kini menetap singgah di lubuk hati terdalamnya. Perih tanpa beban, manis tanpa kenikmatan. Lengkap sudah kisah hidupnya. Ia memang ditakdirkan sendirian.


Awalnya ingin merebut, bahkan jika memang pujaan hatinya memiliki pasangan maka siap untuk menghancurkan. Akan tetapi, ketika bibir itu berucap tanpa keraguan bahkan dengan tegas menyatakan kehidupan hanya tentang satu orang. Tidak lagi tersisa setetes harapan. Sadar diri bahwa dirinya bukan untuk pria seperti Danish.


Tiba-tiba pipinya terasa basah, "Airmata?" Selena membiarkan cairan garam itu mengalir menghantarkan sisa rasa yang kian menggebu-gebu. "Mau berteman dengan wanita penjual kehormatan seperti ku?"


Salut akan keberanian Selena yang mengendalikan diri sendiri dengan begitu baik. Meski air mata membuktikan ketulusan hati dari seorang wanita yang memiliki kehidupan begitu tragis. Uluran tangan yang akan menjadi awal kisah baru. Kenapa tidak?


Dan menyambut hangat tangan Selena yang menggantung di udara. "Aku tidak bisa menjadi temanmu. Selena, mulai hari ini kamu adikku."


Orang mungkin tidak mempertanyakan nama setiap hubungan. Akan tetapi sebagai seorang pria dengan dunia bisnis yang selalu memiliki pasang surut hot topic, maka ia berkewajiban untuk menjaga nama baik keluarga. Selena pantas mendapat kesempatan untuk disayangi sebagai keluarga.


"Aku ...," Bibirnya tak mampu lagi berkata-kata, semua terasa asing baginya. Tatapan belas kasih Dan begitu nyata menyentuh lubuk hati. Apakah semua ini nyata?


Dan mengangkat tangan menghapus air mata yang terus jatuh mengalir membasahi kedua pipi wanita di depannya. Ia tahu, Selena bukan wanita murahan hanya saja kehidupan memaksa untuk tetap berjuang di tengah kerasnya persaingan. Semua dilakukan demi mempertahankan nyawa yang selama ini tidak memiliki perlindungan.


"Kita saudara mulai hari ini, percayalah bahwa hubungan persaudaraan lebih baik dibandingkan teman. Suatu hari nanti akan ada pria yang menggenggam tanganmu untuk membangun mahligai pernikahan. Just trust to Allah."


Tidak ada kata selain alhamdulillah untuk mensyukuri nikmat yang tidak pernah dirinya bayangkan. Begitu juga dengan Danish, dimana pria itu merasa menemukan tujuan baru dalam hidupnya. Kehadiran Selena seperti secercah harapan yang mengatakan takdir itu memang nyata adanya.


Melihat akhir dari pertemuan tak terduga yang mengharukan, membuat Rafael menghela nafas lega. Hampir saja dirinya pingsan, tetapi semua baik dengan kebahagiaan baru. Bukan hanya itu saja karena kehadiran Selan membangkitkan semangat dalam diri Danish. Itu luar biasa mengejutkan.


Setelah tenggelam dalam emosi. Sepuluh menit kemudian Danish, Selena Dan Rafael ke luar meninggalkan kantor polisi. Sebuah mobil langsung menghampiri ketiga manusia itu. Tidak tahu mobil milik siapa hingga dua bodyguard turun dari dalam, lalu membungkukkan setengah badan menyambut bos mereka.


"Apakah kalian tidak mau bertamu di rumah ku? Setidaknya sebelum kembali ke Indonesia biarkan tuan rumah menjamu tamu istimewanya. Bagaimana?" Selena berharap hubungan mereka bisa lebih baik dengan awal yang ingin dimulai dari dalam rumahnya sendiri.


Rafael hendak menolak, tetapi Danish langsung menarik pintu mobil belakang. Lalu masuk duduk dengan tenang seraya mengulurkan tangan, "Mari, Sunshine."


Selena begitu gembira menyambut hangat uluran tangan Dan, "Sunshine terlalu indah, Ka. Aku hanyalah bunga asing di antara tanaman liar. Indah untuk dipandang, tetapi haram untuk disahkan."


Sejak awal, Selena selalu merendahkan dirinya sendiri dengan banyak ibarat kata yang pasti menyayat hati. Apakah semua itu bisa memperbaiki kehidupan? Tidak, setiap perumpamaan hanya menjadi luka baru. Jika waktu saja berubah, kenapa penilaian orang tetap saja diagungkan?


Ketiganya memasuki mobil yang sama, membuat salah satu bodyguard harus mengalah beralih ke mobil Rafael. Perjalanan yang penuh ketenangan, Dan tak ingin orang luar tahu apapun tentang dirinya. Selama empat puluh lima menit menikmati pemandangan lalu lintas yang cukup ramai.


Mobil memasuki wilayah yang cukup menyingkir dari keramaian kota. Wilayah itu delapan puluh persen hanya ada penghijauan bahkan Rafael tak berhenti berdecak kagum. Dari arah mobil datang, di depan sana terlihat rumah bercat hitam berlantai empat dengan gerbang tinggi berwarna keemasan.


Bukan suram, tetapi kelam. Seakan menceritakan duka yang terpendam. Rumah dengan nama bungalow QS berdiri kokoh angkuh tanpa rasa takut. Seperti itulah kesan pertama yang bisa disimpulkan. Seni dengan kualitas tinggi karena secara kasat mata, ukiran samar tenggelam tertutup cat hitam.


Begitu mobil mendekat, pintu gerbang langsung terbuka otomatis. Semua tidak asing bagi Dan, maupun Rafael karena kedua pria itu juga berasal dari keluarga mampu. Satu persatu turun setelah mobil berhenti terparkir di halaman yang luas bersih tanpa satu tanaman liar.


"Welcome to my emosian. Anggap saja rumah sendiri, tapi sebelum itu akan ku jelaskan beberapa peraturan yang wajib kalian ingat untuk selamanya." Selena tersenyum tipis menatap rumah maut yang dia bangun empat tahun silam.


Bungalow QS bukan sembarang bangunan seperti istana mewah pada umumnya. Setiap langkah harus diperhatikan, setiap tindakan harus diperhitungkan. Bukan hanya rumus matematika, ia juga merancang desain seni seorang diri. Jadi pemilik rumah adalah ratu sesungguhnya.


Kedua pria itu mendengarkan secara seksama sepuluh peraturan pertama yang wajib diingat, jika ingin bernafas di dalam bungalow QS. Yah bisa dibilang lebih baik untuk melakukan pertemuan di luar istana saja. Setidaknya akan lebih aman dan resiko kehilangan nyawa hanya sepuluh persen.


Selama lima belas menit Selena memberikan kuliah dadakan, membuat Rafael berpikir untuk melarikan diri. Sayangnya Danish diam tak bergeming seperti patung pancoran. Apa temannya itu punya cadangan nyawa? Heran selalu mencari masalah, padahal hidup sudah penuh musibah.


"Kuharap kalian siap melihat seni di dalam seni. Ayo!" Selena menarik tangan Danish dengan semangat sembilan puluh sembilan.