Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 113: Kakak Beradik


"Kakak ini ngapain kesini? Awas aja nanti tuh ekor pada terbang kemari semua." sungut Selena seraya mencebik kesal akan tingkah kakaknya yang menyebalkan.


Black yang terus memeluk Selena seperti anak kecil benar-benar membuat si gadis kesal. Bagaimana tidak? Rambut yang tadinya rapi langsung berantakan, blum lagi tangan kekar yang menoel pipi seperti mencomot bakpao. Ngeselin bin mangkelin, yah begitulah ketika menjadi saudara.


Dilepaskan sang adik setelah puas menjadi kakak yang usil, lalu beralih menuju mesin pembuat kopi yang ada di dalam kamar. "De, mau kopi juga nggak?"


"Up to you, kebiasaanmu ini nyebelin, Ka. Mana rambut jadi bau terasi, ish." Selena buru-buru berlari ke kamar mandi, wanita itu benar-benar harus menjaga jarak dari Black.


Sementara sang kakak tertawa puas karena ulahnya. Ia memang sengaja datang setelah mampir makan di kedai terdekat yang menyediakan sambal terasi ala rumahan. Beh mantul rasanya sampai nambah tiga porsi. Anak buah yang ikut makan pun geleng-geleng kepala melihat kelakuan ajaibnya.


Tak ingin menambah kekesalan Selena, pria itu mencuci tangan menggunakan sabun cair rasa strawberry yang ada di wastafel. Cuci tangan hingga bersih dan harum buah yang menyegarkan, kemudian kembali melanjutkan meracik kopi untuk menemani obrolan yang pasti sampai lupa waktu.


Sepuluh menit kemudian, Selena keluar dari kamar mandi dengan kepala terbungkus handuk. Berkat kakaknya hari ini keramas dua kali. Padahal biasanya hanya dua hari sekali. Apa boleh buat? Harus memiliki stok kesabaran yang memang tidak bisa ditoleransi lagi.


Andai yang melakukan adalah orang lain. Hmm pasti sudah dilempar ke kandang buaya. Prinsip apapun kalah karena bagi sang kakak, dia yang anak kecil. Digaris bawahi ketika berada di rumah, selain itu berbanding terbalik. Terkadang emosi harus tahu aturan dan tempat.


"Ka, mana kopi ku?" Ditariknya kursi yang menghadap ke depan di mana pemandangan indah perbukitan menjadi bonus kebahagiaan sederhana.


Secangkir kopi arabica dengan resep yang kakaknya punya disodorkan ke depan. Harum yang nendang menyalurkan semangat untuk berjuang kembali. Suara helaan nafas panjang yang terdengar seperti melepaskan beban hati menjadi perhatian Black. Pria itu menatap Selena tanpa berkedip.


"Everything fine, Bro. Don't worry," ujar Selena, tetapi melupakan sorot mata yang tidak bisa memberikan keyakinan hati yang membuat Black langsung menyentil keningnya. "Ck, kebiasaan deh. Tangan jahil bener sih, Ka."


"Gue gak ngajarin kesayanganku nipu keluarga. Loe mau durhaka? Gak usah sana sini pake acara buat alibi. Mau kasih tahu, atau gue cari tahu sendiri?" Black tak lagi bersikap manis, tatapan serius seorang kakak siap menelan keraguan adiknya.


Begitulah saudara rasa nano-nano. Mode semua di waktu yang berbeda. Jangan ditanya bagaimana menyeimbangkan hubungan yang terkesan tanpa jarak tersebut. Apa pun yang ada di antara mereka berdua, maka bisa dipastikan saling memahami satu sama lain.


Perbedaan dari keduanya hanya ada dua. Jika Black tidak mengenal kata ampun, maka Selena masih memiliki toleransi terhadap lawan bisnis atau musuh. Perbedaan yang kedua ada pada karakteristik. Dimana Black terbiasa bermain wanita hanya untuk one stand night, sedangkan Selena enggan bersinggungan dengan pria.


Niat hati ingin serius. Tiba-tiba mendapatkan pertanyaan yang langsung menohok tanpa sentuhan. "De! Kepercayaan ini bukan milik mereka, tapi milik kita. Aku tidak mau ada yang melukaimu. So, please understand my responsibility."


"Tanggung jawab? Kakak selalu menjadi bagian terpenting dalam hidup Selena. Kita tidak perlu menjelaskan ini dan itu. Informasi yang masuk pasti dari orang yang sama. Gini aja, boleh aku lempar tuh orang ke laut? Sekali saja gak usah main trobos." sahut Selena, ia tak ingin menjelaskan apapun.


Berputar lagi ke arah lain, membuat Black harus menahan nafasnya agar lebih sabar menghadapi sang adik yang kelewat batas. Sudah dewasa sih, tapi kalau ngeselin tetap saja pengen cubit pipi yang gak chubby itu. Sekali lagi mencoba bersikap tenang seraya melembutkan pandangan mata.


"Selena!" panggil Black tanpa memberikan penekanan.


Suara yang berbeda dari sang kakak, membuat wanita itu langsung terdiam tak bisa lagi untuk berkutik. Mode kalem yang mematikan sudah aktif, maka bukan waktu untuk bercanda lagi. Mau tak mau ia harus menjawab bahkan menjelaskan apa yang terjadi. Sebenarnya tidak harus, hanya saja lebih baik memberikan yang diinginkan sang kakak.


Obrolan dari satu arah dimulai dengan tatapan mata yang teralihkan. Sakit walau ingin menutupi kebenarannya. Andai bisa ini dan itu, tetapi sadar diri semua yang terjadi merupakan takdir Illahi. Ingin sekali menjadi gadis yang egois. Kenyataannya kali ini cinta mengalahkan impian.


Selama satu jam berteman temaram senja yang menguning keemasan. Selena mencurahkan semua dilema hati dan pikirannya. Ia bercerita tentang pria yang berhasil mencuri hati pada pandangan pertama. Rasa sakit akan penolakan, tetapi terbayarkan uluran tangan kekeluargaan. Indah tanpa permintaan.


Sebagai seorang kakak yang ingin mendengar tanpa terburu-buru mengambil kesimpulan. Ia mencoba mencerna duka hati berbalut kebahagiaan. Sorot mata penuh kecerian menyadarkan bahwa Selena melakukan semua dengan hati yang tulus. Untuk pertama kalinya hingga emosi itu bisa ia rasakan begitu dalam.


"Lalu, sekarang apa tujuanmu dengan menjadi gadis baik? Kita berdua tahu siapa Fatih, tapi mereka tidak. Bukankah kamu sadar semua ini berakhir ke mana?" Black mencoba mengingatkan jalan pilihan Selena memiliki resiko yang tidak mudah.


Bagaimana jika keluarga Anderson tahu, bahwa adiknya ikut terlibat atas kehancuran keluarga tersebut? Apakah Danish masih sudi menganggap Selena sebagai adik angkat? Apalagi jika tahu kondisi Shena yang terpuruk hanya karena racun yang diberikan sang adik. Tidak bisa membayangkan akhir dari perbuatan dan kenyataan yang menyimpan banyak kepahitan.


Selena menggedikkan kedua bahu, lalu mengalihkan tatapan mata. Uap kopi yang semakin menipis, tetapi masih menyebarkan aroma kopi nan menyegarkan. "Aku tidak ingin mundur, kakak juga tidak berhak menghalangiku. Aku mencintai Danish tulus, tetapi hubungan yang ia tawarkan jauh di atas rasa ku. Apa kakak percaya pada adikmu ini?"


"Kamu kepercayaan terbesarku, tidak ada yang bisa mengubah kenyataan ini dari hidup kita sebagai kakak beradik." jawab Black penuh keyakinan, membuat Selena tersenyum manis.


Kini semua akan baik. Rintangan apa pun akan ia lewati dengan ketabahan hati. Biarlah dunia mencoba menghentikan dirinya. Satu hal akan ia pastikan yaitu Danish mendapatkan istrinya kembali. Walau untuk itu harus mengambil resiko yang lebih besar lagi. Semua hanya tentang ketulusan hati.